seluruh peserta.jpeg

Selasa, 12 Mei 2026 17:11:00 WIB

0

UIN Sunan Kalijaga Dorong Reaktualisasi Tradisi Islam melalui Graduate Conference Internasional

Program Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta menggelar Graduate Conference Internasional pada 12–13 Mei 2026 dengan mengusung tema “Reconfiguring Islamic Tradition: Authority, Circulation, and Contemporary Engagements”. Konferensi ini menjadi ruang akademik bagi generasi peneliti muda untuk mendiskusikan dinamika tradisi Islam sebagai entitas yang terus berkembang dan bertransformasi di tengah perubahan sosial kontemporer.

Kegiatan yang berlangsung di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta tersebut merupakan hasil kerja sama antara UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung, Universitas Brawijaya, dan Leiden University. Konferensi ini juga menjadi bagian dari upaya memperkuat jejaring akademik lintas institusi dan lintas negara dalam pengembangan studi Islam kontemporer.

Direktur Pascasarjana, Prof. Moch Nur Ichwan, dalam sambutannya menekankan bahwa kolaborasi empat perguruan tinggi dalam konferensi ini bukan sekadar pertemuan akademik, tetapi menjadi ruang perjumpaan bermakna antara para sarjana dan mahasiswa yang memiliki komitmen bersama untuk mengeksplorasi serta menghidupkan kembali dinamika pemikiran dan masyarakat Muslim yang terus berkembang. Menurutnya, kerja sama tersebut mencerminkan jaringan pertukaran intelektual yang kaya dan melintasi disiplin ilmu, geografis, serta tradisi pengetahuan. Ia menyebut konferensi ini diikuti antusiasme tinggi dari para peneliti muda, dengan lebih dari 100 pendaftar, termasuk peserta dari luar negeri, dan sekitar 55 peserta yang diterima untuk mengikuti forum akademik tersebut.


Dalam pengantar konferensi disebutkan bahwa tradisi Islam dalam perkembangan kajian mutakhir tidak lagi dipahami sebagai sesuatu yang beku, melainkan sebagai konstruksi historis yang terbentuk melalui proses transmisi, interpretasi, dan perdebatan yang panjang. Sejak periode awal Islam hingga era kontemporer, berbagai bentuk tradisi, baik tekstual maupun praktik keagamaan, terus mengalami negosiasi dan reinterpretasi sesuai konteks sosial dan budaya masyarakatnya.

Dalam wawancara terpisah, Prof. Nur Ichwan, menegaskan pentingnya menghidupkan kembali diskursus mengenai tradisi dalam kajian akademik Islam. Menurutnya, selama ini tradisi kerap mengalami peminggiran akibat dominasi teori sosial Barat yang lahir dari konteks modernisasi dan industrialisasi.

“Diskusi tentang tradisi mengalami peminggiran akibat bias modernitas. Padahal dalam konteks Indonesia, tradisi tidak pernah mati. Tradisi terus mengiringi perjalanan bangsa ini, berdampingan dengan modernitas dan proses menjadi Indonesia,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa perkembangan perspektif dekolonisasi dan decentering social sciences membuka kembali ruang bagi tradisi untuk dikaji secara lebih kritis dan kontekstual. Tradisi, menurutnya, bukan sesuatu yang statis, melainkan terus dinegosiasikan dan dibentuk ulang oleh masyarakat sesuai perkembangan zaman.

“Tradisi itu dinamis. Tradisi selalu berkembang dan menjadi bagian integral dalam kehidupan masyarakat Indonesia, termasuk dalam membentuk umat Islam Indonesia,” tambahnya.

Sementara itu, Rektor UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Noorhaidi, dalam sambutannya menyampaikan bahwa perguruan tinggi memiliki tanggung jawab menghadirkan ruang dialog akademik yang terbuka dan kritis, terutama dalam melihat perkembangan studi Islam yang semakin multidisipliner dan transnasional.


Konferensi ini menghadirkan keynote speaker dari Leiden University, Verena Meyer, dengan keynote speech bertajuk “Asia as a Privileged Space of Inquiry in Islamic Studies”. Dalam paparannya, ia menyoroti Asia sebagai ruang penting dalam pengembangan studi Islam kontemporer yang mampu menghadirkan perspektif baru di luar dominasi kajian Timur Tengah.

Rangkaian konferensi kemudian dilanjutkan dengan sesi diskusi panel yang menghadirkan tiga pembicara dari berbagai institusi. Dr. Mohammad Yunus (UIN Sunan Kalijaga) mempresentasikan materi “Mengarusutamakan Ibn Arabi: Ghurab (2021) dan Polemik Diskursif dalam Diskursus Kesufian Kontemporer” yang membahas dinamika penerimaan pemikiran sufistik di era modern. Pembicara berikutnya, Prof. Salamah Noorhidayati (UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung), menyampaikan presentasi “Decolonization and Revitalization: Reconfiguring Islamic Tradition Authority in the Contemporary Era” mengenai pentingnya dekolonisasi pengetahuan dan revitalisasi otoritas tradisi Islam di tengah masyarakat kontemporer. Sementara itu, Dr. Wahyu Widodo (Universitas Brawijaya) melalui presentasinya “Performing Poetry, Defending Melody: Sung Poetry Performance into Tradition” membahas relasi antara sastra, performativitas, dan tradisi dalam praktik kebudayaan Islam.


Menurut Prof. Nur Ichwan, konferensi ini tidak hanya ditujukan untuk memperkuat jaringan akademik, tetapi juga membangun budaya riset dan publikasi ilmiah di kalangan mahasiswa pascasarjana. Ia menekankan bahwa penelitian perlu didialogkan dengan para ilmuwan lain agar memperoleh kritik dan masukan konstruktif guna meningkatkan kualitas riset.

“Penelitian harus didialogkan dengan ilmuwan lain agar mendapatkan kritik dan masukan yang konstruktif. Itu penting untuk membangun kualitas riset mahasiswa,” katanya.

Ia juga berharap seluruh artikel yang dipresentasikan dalam konferensi dapat berlanjut ke tahap publikasi ilmiah sebagai bagian dari penguatan budaya akademik di perguruan tinggi.

“Kita berharap artikel-artikel yang dipresentasikan tidak berhenti di forum konferensi saja, tetapi benar-benar dipublikasikan sebagai bagian dari penguatan budaya akademik,” pungkasnya.

Ke depan, graduate conference dirancang menjadi agenda tahunan yang penyelenggaraannya berlangsung secara bergilir di institusi mitra. Setelah sebelumnya digelar di Tulungagung dan tahun ini di Yogyakarta, konferensi mendatang direncanakan berlangsung di Malang, bahkan terbuka peluang penyelenggaraan bersama di Belanda melalui kolaborasi dengan Leiden University. (humassk)