Dr Syakur.jpeg

Kamis, 21 Mei 2026 16:08:00 WIB

0

Deputi BPJPH Bangga, Putra Siap Lanjutkan Jejak Akademik Global

Suasana haru dan bangga menyelimuti prosesi wisuda di UIN Sunan Kalijaga, ketika para orang tua menyaksikan putra-putri mereka menuntaskan perjalanan akademik. Di antara mereka, hadir Dr. H. Abd. Syakur, S.Ag., M.Si., Deputi Bidang Kemitraan dan Standardisasi Halal di Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH), yang turut merayakan kelulusan sang putra, Muhammad Miqdad Al Ghifari Syatta.

Bagi Dr. Syakur, wisuda bukan sekadar seremonial, melainkan titik refleksi atas perjalanan panjang pendidikan seorang anak. Miqdad menempuh pendidikan sarjana di Universitas Al-Azhar, Mesir, sebelum melanjutkan studi magister dalam bidang Qur’anic Studies (Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir) di UIN Sunan Kalijaga. Pilihan melanjutkan studi di Yogyakarta, menurut sang ayah, dilandasi keyakinan bahwa UIN Sunan Kalijaga memiliki kualitas unggul di antara perguruan tinggi keagamaan Islam negeri (PTKIN) dan mampu bersaing di level internasional.

“Ini bukan akhir, tapi justru awal dari perjalanan yang lebih panjang,” ungkap Dr. Syakur dalam wawancara. Ia menekankan bahwa capaian akademik harus diiringi dengan tanggung jawab yang lebih besar, baik dalam keluarga maupun masyarakat.

Saat ini, Miqdad telah memegang sejumlah peran strategis. Selain dikenal sebagai dosen di lingkungan keluarganya, ia juga dipercaya mengemban tanggung jawab manajerial di Universitas Islam Cordoba. Tak hanya itu, ia turut berkiprah sebagai asesor syariah yang terlibat dalam penilaian halal, bahkan hingga lingkup internasional. Peran ini, menurut Dr. Syakur, menjadi bukti bahwa pendidikan yang ditempuh telah membuka jalan profesional yang luas.

Dalam keluarga besar yang terdiri dari puluhan cucu, Miqdad diharapkan menjadi teladan. Harapan tersebut tidak lepas dari nilai-nilai yang ditanamkan sejak dini, terutama kedisiplinan yang berakar pada praktik ibadah. Sistem pendidikan berbasis asrama (pondok) yang dijalani selama masa studi turut membentuk karakter konsisten dan tangguh.

“Kami selalu menekankan pentingnya disiplin, terutama dalam ibadah. Itu fondasi utama,” ujarnya. Dukungan orang tua, lanjutnya, tidak pernah berhenti, bahkan ketika anak telah memasuki jenjang pendidikan tinggi yang menuntut kemandirian lebih besar.

Ke depan, Miqdad diarahkan untuk melanjutkan studi doktoral (S-3) di luar negeri, dengan Eropa sebagai salah satu tujuan potensial. Rencana ini dinilai penting, tidak hanya untuk pengembangan keilmuan, tetapi juga untuk menjawab tuntutan peran akademik dan menjadi inspirasi di lingkungan keluarga serta masyarakat.

Lebih jauh, Dr. Syakur juga menyoroti pentingnya pembenahan dalam sistem pendidikan tinggi. Ia menilai bahwa pembelajaran di kampus masih cenderung berfokus pada teori sehingga perlu diperkuat dengan praktik nyata. Program magang, menurutnya, menjadi salah satu kunci dalam membentuk kesiapan kerja lulusan.

“Mahasiswa harus dibiasakan menghadapi dunia nyata sejak dini. Magang itu penting, bukan hanya untuk keterampilan, tapi juga membangun karakter,” tegasnya.

Ia juga mengingatkan bahwa lulusan tidak boleh terpaku pada satu jalur karier, seperti menjadi pegawai negeri. Dunia kerja, menurutnya, sangat luas dan terbuka di berbagai sektor, selama lulusan memiliki kompetensi dan kesiapan mental.

Sebagai pesan penutup, Dr. Syakur menekankan tiga hal penting bagi para wisudawan: penguasaan bahasa asing—minimal Bahasa Inggris, menjaga jaringan dengan almamater dan dosen, serta inisiatif untuk segera aktif setelah lulus.

“Jangan sampai setelah wisuda justru berhenti bergerak. Terus bangun relasi karena peluang sering datang dari jaringan,” pesannya.

Bagi seorang ayah sekaligus pejabat publik, kebanggaan atas kelulusan anak adalah awal dari harapan yang lebih besar: lahirnya generasi akademisi yang tidak hanya unggul secara intelektual, tetapi juga siap berkontribusi di tingkat global. (humassk)