Suasana haru dan bangga menyelimuti prosesi
wisuda di UIN Sunan Kalijaga, ketika para orang tua menyaksikan putra-putri
mereka menuntaskan perjalanan akademik. Di antara mereka, hadir Dr. H. Abd.
Syakur, S.Ag., M.Si., Deputi Bidang Kemitraan dan Standardisasi Halal di Badan
Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH), yang turut merayakan kelulusan sang
putra, Muhammad Miqdad Al Ghifari Syatta.
Bagi Dr. Syakur, wisuda bukan sekadar seremonial,
melainkan titik refleksi atas perjalanan panjang pendidikan seorang anak.
Miqdad menempuh pendidikan sarjana di Universitas Al-Azhar, Mesir, sebelum
melanjutkan studi magister dalam bidang Qur’anic Studies (Ilmu Al-Qur’an
dan Tafsir) di UIN Sunan Kalijaga. Pilihan melanjutkan studi di Yogyakarta,
menurut sang ayah, dilandasi keyakinan bahwa UIN Sunan Kalijaga memiliki
kualitas unggul di antara perguruan tinggi keagamaan Islam negeri (PTKIN) dan
mampu bersaing di level internasional.
“Ini bukan akhir, tapi justru awal dari
perjalanan yang lebih panjang,” ungkap Dr. Syakur dalam wawancara. Ia
menekankan bahwa capaian akademik harus diiringi dengan tanggung jawab yang
lebih besar, baik dalam keluarga maupun masyarakat.
Saat ini, Miqdad telah memegang sejumlah peran
strategis. Selain dikenal sebagai dosen di lingkungan keluarganya, ia juga
dipercaya mengemban tanggung jawab manajerial di Universitas Islam Cordoba. Tak
hanya itu, ia turut berkiprah sebagai asesor syariah yang terlibat dalam
penilaian halal, bahkan hingga lingkup internasional. Peran ini, menurut Dr.
Syakur, menjadi bukti bahwa pendidikan yang ditempuh telah membuka jalan
profesional yang luas.
Dalam keluarga besar yang terdiri dari puluhan
cucu, Miqdad diharapkan menjadi teladan. Harapan tersebut tidak lepas dari
nilai-nilai yang ditanamkan sejak dini, terutama kedisiplinan yang berakar pada
praktik ibadah. Sistem pendidikan berbasis asrama (pondok) yang dijalani selama
masa studi turut membentuk karakter konsisten dan tangguh.
“Kami selalu menekankan pentingnya disiplin,
terutama dalam ibadah. Itu fondasi utama,” ujarnya. Dukungan orang tua,
lanjutnya, tidak pernah berhenti, bahkan ketika anak telah memasuki jenjang
pendidikan tinggi yang menuntut kemandirian lebih besar.
Ke depan, Miqdad diarahkan untuk melanjutkan
studi doktoral (S-3) di luar negeri, dengan Eropa sebagai salah satu tujuan
potensial. Rencana ini dinilai penting, tidak hanya untuk pengembangan
keilmuan, tetapi juga untuk menjawab tuntutan peran akademik dan menjadi
inspirasi di lingkungan keluarga serta masyarakat.
Lebih jauh, Dr. Syakur juga menyoroti pentingnya
pembenahan dalam sistem pendidikan tinggi. Ia menilai bahwa pembelajaran di
kampus masih cenderung berfokus pada teori sehingga perlu diperkuat dengan
praktik nyata. Program magang, menurutnya, menjadi salah satu kunci dalam
membentuk kesiapan kerja lulusan.
“Mahasiswa harus dibiasakan menghadapi dunia
nyata sejak dini. Magang itu penting, bukan hanya untuk keterampilan, tapi juga
membangun karakter,” tegasnya.
Ia juga mengingatkan bahwa lulusan tidak boleh
terpaku pada satu jalur karier, seperti menjadi pegawai negeri. Dunia kerja,
menurutnya, sangat luas dan terbuka di berbagai sektor, selama lulusan memiliki
kompetensi dan kesiapan mental.
Sebagai pesan penutup, Dr. Syakur menekankan tiga
hal penting bagi para wisudawan: penguasaan bahasa asing—minimal Bahasa
Inggris, menjaga jaringan dengan almamater dan dosen, serta inisiatif untuk
segera aktif setelah lulus.
“Jangan sampai setelah wisuda justru berhenti
bergerak. Terus bangun relasi karena peluang sering datang dari jaringan,”
pesannya.
Bagi seorang ayah sekaligus pejabat publik,
kebanggaan atas kelulusan anak adalah awal dari harapan yang lebih besar:
lahirnya generasi akademisi yang tidak hanya unggul secara intelektual, tetapi
juga siap berkontribusi di tingkat global. (humassk)