WhatsApp Image 2026-06-08 at 11.37.36.jpeg

Senin, 08 Juni 2026 17:04:00 WIB

0

PKDP UIN Sunan Kalijaga dan Ikhtiar Menjaga Masa Depan Indonesia melalui Pendidikan yang Profesional dan Inspiratif

Di tengah perubahan dunia pendidikan tinggi yang semakin cepat, dosen tidak lagi cukup hanya hadir di ruang kelas. Ia dituntut mengajar dengan mutu, meneliti dengan relevansi, menulis dengan ketekunan, sekaligus menghadirkan ilmu yang berdampak bagi masyarakat.


Semangat itulah yang mengemuka dalam pembukaan Peningkatan Kompetensi Dosen Pemula (PKDP) yang digelar Lembaga Penjaminan Mutu (LPM) UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta secara luring di Hotel Sahid Yogyakarta. Kegiatan yang dibuka pada Senin (8/6/2026), diikuti 64 peserta dari UIN Sunan Kalijaga dan berbagai perguruan tinggi swasta di Yogyakarta.


Ketua LPM UIN Sunan Kalijaga, Prof. Dr. Dwi Agustina, menyampaikan bahwa PKDP menjadi fase penting bagi dosen pemula untuk memasuki ekosistem akademik yang lebih profesional. Menurut dia, kegiatan ini bukan sekadar pelatihan administratif, melainkan pintu awal bagi dosen untuk memahami peran, tanggung jawab, dan standar kompetensi profesi dosen.

Ia menjelaskan, PKDP menjadi bagian penting dalam proses menuju sertifikasi dosen. Sertifikasi tersebut, kata dia, merupakan bentuk legitimasi bahwa seorang dosen telah memenuhi kualifikasi sebagai pendidik profesional di perguruan tinggi.

Terkait dengan waktu kegiatan, Prof. Agustina menyampaikan, kegiatan akan berlangsung sekitar dua pekan, dengan tiga hari pertama dilaksanakan secara luring di Hotel Sahid. Setelah itu, peserta akan mengikuti sesi in-service course berupa pendalaman materi bersama narasumber selama kurang lebih satu pekan. Pada pekan berikutnya, peserta akan menjalani sesi on the job course atau OJC yang berisi penugasan akademik.

Namun, Prof. Agustina menekankan bahwa profesionalitas dosen tidak hanya diukur dari kemampuan mengajar. Dosen juga dituntut memiliki kemampuan riset dan publikasi ilmiah. Karena itu, PKDP turut menghadirkan materi penulisan karya ilmiah serta penugasan yang mendorong peserta menghasilkan karya akademik.

“Harapan kami, setelah mengikuti PKDP ini, Bapak/Ibu memiliki empat kompetensi sebagai dosen profesional, yaitu kompetensi pedagogik, profesional, kepribadian, dan sosial,” katanya.


Sementara itu, Wakil Rektor Bidang Akademik dan Pengembangan Lembaga UIN Sunan Kalijaga Prof. Dr. Istiningsih, menegaskan pentingnya karya ilmiah bagi seorang dosen. Menurutnya, salah satu kekayaan utama ilmuwan dan dosen adalah karya ilmiah yang dihasilkan dari proses pendidikan, penelitian, maupun pengabdian kepada masyarakat.

“Tantangan dosen hari ini adalah kemampuan mengintegrasikan tridharma perguruan tinggi. Pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat tidak boleh berjalan sendiri-sendiri. Ketiganya perlu saling terhubung sehingga proses pembelajaran di kelas tidak lagi berhenti pada transfer pengetahuan, tetapi juga menjadi ruang untuk membaca, meneliti, dan mencari solusi atas persoalan nyata,” ungkapnya.

Dalam konteks itu, kampus berdampak dimaknai sebagai kemampuan perguruan tinggi menghadirkan ilmu yang memberi kontribusi bagi kemaslahatan masyarakat. Dosen, menurut dia, memiliki peran sentral karena berbeda dari pendidik lain. Dosen tidak hanya mengajar, tetapi juga dituntut meneliti, mengembangkan, dan menemukan ilmu baru.

Ia juga mengingatkan pentingnya dosen mengikuti perkembangan teknologi informasi. Perkembangan teknologi yang sangat cepat membuat dosen perlu terus memperbarui keterampilan agar tidak tertinggal dari generasi mahasiswa yang tumbuh dengan kemampuan digital lebih adaptif.


Sementara itu, Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Kerja Sama UIN Sunan Kalijaga, Prof. Dr. Abdur Rozaki, yang juga membuka kegiatan secara resmi, mengajak peserta PKDP melihat profesi dosen dalam perspektif sejarah dan kebangsaan. Ia menyebut guru dan pendidik memiliki peran penting dalam menggelorakan kesadaran kebangsaan sejak masa perjuangan kemerdekaan.

Ia menjelaskan, akses pendidikan modern pada masa politik etis melahirkan elite pribumi yang kemudian menyalakan pendidikan kritis untuk rakyat. Dari rahim pendidikan itulah lahir tokoh-tokoh bangsa yang tidak sekadar mengejar status sebagai pegawai, tetapi mengabdikan pengetahuan untuk melayani masyarakat.

“Pendidikan kritis untuk rakyat menjadi salah satu kekuatan yang menggelorakan api revolusi Indonesia,” katanya.

Sejarah Indonesia menunjukkan bahwa pendidikan dapat menjadi jalan untuk merawat kecintaan kepada bangsa. “Pada awal kemerdekaan, negara mengirim guru ke berbagai daerah untuk menyalakan api nasionalisme di tengah rakyat. Karena itu, dosen dan guru memiliki tanggung jawab moral untuk menjaga masa depan Indonesia melalui pendidikan yang profesional, inspiratif, dan berdedikasi.” Paparnya.

Prof. Rozaki juga mengingatkan bahwa kebangkitan bangsa tidak selalu ditentukan oleh kekuatan militer. Ia mencontohkan Jepang yang mampu bangkit setelah kekalahan perang melalui rekayasa kebudayaan dan penguatan pendidikan. pendidik, dalam konteks itu, menjadi ujung tombak revolusi kebudayaan.

Karena itu, ia berharap para peserta PKDP mengikuti pelatihan dengan kesungguhan, bukan sekadar untuk memenuhi kewajiban formal. PKDP, kata dia, harus menjadi ruang untuk memperbarui niat, menguatkan tanggung jawab, dan meneguhkan kembali profesi dosen sebagai jalan pengabdian.

“Indonesia akan memiliki usia yang panjang sangat tergantung juga kepada Anda sekalian. Karena itu, ikutilah PKDP ini dengan semangat untuk menjadi dosen yang profesional, menginspirasi, dan bertanggung jawab,” ujarnya.

Melalui PKDP ini, LPM UIN Sunan Kalijaga tidak hanya memperkuat kapasitas teknis dosen pemula dalam mengajar, meneliti, dan mengabdi. Lebih dari itu, kegiatan ini menjadi ruang pembentukan kesadaran bahwa profesionalitas dosen adalah bagian dari ikhtiar perguruan tinggi menghadirkan ilmu yang bermutu, berdampak, dan bermanfaat bagi masyarakat.(humassk)