Keseriusan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dalam membangun pendidikan kedokteran yang berkualitas tidak hanya diwujudkan melalui pemenuhan berbagai persyaratan kelembagaan dan penyediaan sarana prasarana, tetapi juga melalui investasi pada kualitas sumber daya manusia.
Komitmen tersebut diwujudkan melalui Workshop Tutor Problem Based Learning (PBL) dan Instruktur Keterampilan Klinis Dasar (KKD) yang diselenggarakan Program Studi Kedokteran UIN Sunan Kalijaga pada Kamis (9/7/2026) – Jumat (10/7/2026) di Fakultas Kedokteran. Kegiatan ini menghadirkan tim dari Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro (UNDIP) sebagai perguruan tinggi pendamping dan diikuti seluruh dosen serta laboran Program Studi Kedokteran.
Workshop menjadi bagian dari tahapan strategis dalam memastikan seluruh tenaga pendidik memiliki pemahaman yang sama mengenai sistem pembelajaran yang akan diterapkan kepada mahasiswa angkatan pertama. Lebih dari sekadar pelatihan teknis, kegiatan ini diarahkan untuk membangun paradigma pembelajaran yang menempatkan mahasiswa sebagai pembelajar aktif, sementara dosen berperan sebagai fasilitator yang mengarahkan proses berpikir klinis, pembentukan profesionalisme, dan pengambilan keputusan secara tepat.
Wakil Rektor Bidang Akademik dan Pengembangan Lembaga UIN Sunan Kalijaga, Prof. Dr. Istiningsih, menyampaikan apresiasi kepada Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro atas pendampingan yang telah dilakukan sejak proses persiapan pendirian Program Studi Kedokteran hingga memasuki tahap penyelenggaraan perkuliahan.
"Saat ini kita memasuki tahap persiapan perkuliahan Semester Gasal Tahun Akademik 2026/2027. Seleksi mahasiswa Program Studi Kedokteran gelombang pertama telah berjalan dengan kuota 50 mahasiswa. Yang kita bangun bukan hanya angkatan pertama, tetapi kredibilitas pendidikan kedokteran UIN Sunan Kalijaga untuk jangka panjang," ujarnya.
Menurutnya, kualitas pendidikan kedokteran ditentukan sejak proses awal, mulai dari seleksi mahasiswa, kesiapan dosen, hingga sistem pembelajaran yang diterapkan. Karena itu, objektivitas dalam penerimaan mahasiswa maupun penyelenggaraan proses akademik menjadi prinsip yang terus dijaga sebagai fondasi lahirnya lulusan dokter yang profesional dan berintegritas.
Senada dengan hal tersebut, Kepala Biro Administrasi Umum dan Keuangan (AUK) Dr. Ali Sodiq, menegaskan bahwa pendampingan intensif dari Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro telah memberikan fondasi penting bagi UIN Sunan Kalijaga dalam membangun sistem pendidikan dokter yang berkualitas.
"Kita sedang menyiapkan dokter-dokter terbaik. Proses itu dimulai dari kesiapan para dosen dan tenaga kependidikan hari ini. Bekal yang diperoleh melalui workshop ini menjadi modal penting dalam mendampingi mahasiswa selama proses pendidikan," ungkapnya.
Selama dua hari pelaksanaan, dosen dan laboran Prodi Kedokteran memperoleh pembekalan komprehensif mengenai berbagai komponen utama pendidikan kedokteran berbasis kompetensi. Paparan diawali dengan penguatan implementasi Problem Based Learning (PBL) sebagai pendekatan utama dalam pendidikan dokter. Dosen mendalami filosofi PBL, tahapan tutorial seven jumps, penyusunan skenario kasus (problem setting), hingga penerapan team-based learning sebagai strategi pembelajaran kolaboratif yang mendorong kemampuan berpikir kritis, penalaran klinis, komunikasi, dan kerja sama dalam tim.
Workshop juga memperkuat kapasitas dosen sebagai instruktur Keterampilan Klinis Dasar (KKD). Peserta dibekali teknik mendemonstrasikan prosedur klinis di skills laboratory, membimbing mahasiswa dalam menguasai keterampilan secara bertahap, serta memberikan umpan balik yang efektif sehingga proses pembelajaran berlangsung aman, sistematis, dan berorientasi pada pencapaian kompetensi.
Penguatan kompetensi tidak berhenti pada penyampaian materi. Melalui berbagai sesi simulasi, peserta mempraktikkan langsung peran sebagai tutor PBL maupun instruktur KKD. Dosen berlatih memfasilitasi diskusi tutorial, mengelola dinamika kelompok, mengembangkan pertanyaan yang mendorong penalaran klinis mahasiswa, mendampingi praktik keterampilan klinis, hingga memberikan umpan balik secara objektif sebagaimana berlangsung dalam pembelajaran kedokteran.
Aspek asesmen turut menjadi perhatian dalam workshop ini. Peserta dilatih menyusun perangkat evaluasi berbasis kompetensi, mulai dari pengembangan blueprint dan butir soal Multiple Choice Questions (MCQ), penyusunan blueprint Objective Structured Clinical Examination (OSCE) beserta rubrik penilaiannya, hingga memahami prinsip menjadi penguji OSCE yang objektif, terstandar, dan mampu mengukur ketercapaian kompetensi mahasiswa secara komprehensif. Sebagai implementasi, peserta juga menyusun rancangan soal MCQ dan stasiun OSCE yang siap digunakan dalam proses evaluasi pembelajaran.
Rangkaian workshop tersebut menunjukkan keseriusan Upaya UIN Sunan Kalijaga dalam menjadikan sumber daya manusia sebagai salah satu penopang penting Prodi Kedokteran. Seorang dosen tidak hanya dituntut mampu mengajar, melainkan juga merancang pengalaman belajar berbasis kasus, memfasilitasi pembelajaran yang berpusat pada mahasiswa, membimbing penguasaan keterampilan klinis, hingga melakukan asesmen secara objektif sesuai standar pendidikan kedokteran.
Melalui penguatan kapasitas dosen dan laboran secara sistematis, UIN Sunan Kalijaga membangun fondasi akademik yang kokoh bagi penyelenggaraan Program Studi Kedokteran. Ini menjadi langkah strategis dalam melahirkan ekosistem pembelajaran yang mampu mengintegrasikan penguasaan ilmu biomedis, penalaran klinis, keterampilan praktik, profesionalisme, dan etika kedokteran sehingga menghasilkan lulusan dokter yang adaptif terhadap perkembangan ilmu pengetahuan sekaligus responsif terhadap kebutuhan pelayanan kesehatan masyarakat.(humassk)