1002284502.jpg

Sabtu, 25 Juli 2026 10:03:00 WIB

0

Mahasiswa KKN UIN Sunan Kalijaga Bangun Sinergi Pengelolaan Sampah Bersama Bank Sampah Induk, Dinas Lingkungan Hidup, Perbanusa, dan KNPI Bireuen

Persoalan sampah tidak lagi sekadar menjadi isu kebersihan, tetapi telah berkembang menjadi tantangan pembangunan berkelanjutan yang membutuhkan kolaborasi lintas sektor. Upaya penyelesaiannya tidak dapat hanya mengandalkan pemerintah, melainkan memerlukan keterlibatan perguruan tinggi, komunitas, dan masyarakat sebagai agen perubahan.

Sebagai bagian dari komitmen tersebut, sebanyak 20 mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta menggelar audiensi dan diskusi bersama Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Bireuen, Bank Sampah Induk, Perbanusa, dan Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Kabupaten Bireuen guna memperkuat sinergi dalam penanggulangan persoalan sampah di tingkat desa.

Dalam kesempatan tesebut, perwakilan mahasiswa KKN Desa Uteuen Gathom, Dziky Muhammad Azzam, memaparkan program unggulan, Rencong Eco-Class sebagai wadah edukasi lingkungan bagi masyarakat.

"Program ini terintegrasi dengan kegiatan lanjutan berupa pembuatan biopori menggunakan pendekatan Community Participatory Theory Research (CPTR). Selain itu, kami juga mengembangkan program Eco-Craft yang memanfaatkan limbah plastik jenis HDPE, seperti tutup botol, menjadi berbagai produk bernilai guna. Kami berharap dapat berkolaborasi dengan Dinas Lingkungan Hidup, Bank Sampah Induk, dan Perbanusa Bireuen dalam menjalankan program ini. Harapan kami, program tersebut tetap berlanjut meskipun masa KKN telah berakhir melalui dukungan DLH, para pemuda, serta satuan tugas di Desa Uteuen Gathom," ujar Dziky.

Sementara itu, perwakilan mahasiswa KKN Desa Alue Mangki, Naufal Alif, memperkenalkan program Eco-Waste yang berfokus pada pemanfaatan sampah plastik menjadi berbagai produk kerajinan bernilai ekonomi.

"Program Eco-Waste memanfaatkan sampah plastik menjadi berbagai produk kerajinan, seperti tas dan bunga hias. Selain itu, kami juga mengembangkan komposter untuk mengolah sampah organik menjadi pupuk sehingga limbah organik dapat dimanfaatkan kembali dan volume sampah yang dibuang dapat berkurang," kata Naufal.

Inisiatif tersebut sejalan dengan pandangan Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Bireuen menekankan pentingnya membangun kesadaran masyarakat untuk memilah sampah sejak dari sumbernya. Edukasi kepada masyarakat dinilai sebagai langkah fundamental dalam mengatasi persoalan sampah yang hingga kini masih menjadi tantangan di berbagai daerah.

DLH juga menyampaikan bahwa persoalan sampah telah menjadi perhatian serius pemerintah pusat. Kementerian Lingkungan Hidup terus mendorong pemerintah daerah agar memperkuat sistem pengelolaan sampah secara berkelanjutan. Salah satu langkah strategis yang telah ditempuh ialah memberikan kewenangan kepada pemerintah desa untuk mengelola sampah secara mandiri sesuai dengan potensi dan kebutuhan masing-masing wilayah.

Selain itu, dijelaskan bahwa sampah yang seharusnya berakhir di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) hanya sekitar 25 persen, yakni sampah residu yang tidak lagi dapat dimanfaatkan maupun didaur ulang. Sementara itu, sekitar 75 persen sisanya diharapkan dapat dikelola melalui proses pemilahan, pengolahan, dan daur ulang sehingga mampu mengurangi beban TPA sekaligus memberikan nilai tambah secara ekonomi bagi masyarakat.

Adapun Ketua KNPI Kabupaten Bireuen menilai gagasan-gagasan kreatif tersebut memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai bagian dari gerakan pelestarian lingkungan di Kabupaten Bireuen.

"Seluruh hasil kreativitas mahasiswa KKN UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta nantinya akan ditampilkan dalam sebuah pameran di Pendopo Bupati Bireuen. Kegiatan tersebut akan disaksikan oleh masyarakat, akademisi, serta unsur pemerintah mulai dari tingkat desa, kecamatan, hingga kabupaten. Kami berharap inovasi yang lahir dari mahasiswa ini mampu menjadi inspirasi bagi masyarakat dalam mengelola sampah secara kreatif, produktif, dan berkelanjutan," ujarnya.

Audiensi tersebut menjadi langkah awal dalam membangun kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah daerah, organisasi kepemudaan, dan masyarakat guna mewujudkan sistem pengelolaan sampah yang lebih efektif, partisipatif, dan berkelanjutan. Melalui berbagai program yang telah dirancang, mahasiswa KKN UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta berharap dapat memberikan kontribusi nyata dalam meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga kelestarian lingkungan.

Sinergi yang terbangun antara mahasiswa, Dinas Lingkungan Hidup, Bank Sampah Induk, Perbanusa, KNPI Kabupaten Bireuen, pemerintah desa, serta berbagai pemangku kepentingan lainnya Adalah sebuah ikhtiyar untuk memastikan keberlanjutan program-program tersebut setelah masa KKN berakhir. Dengan demikian, inovasi yang lahir tidak hanya menjadi program jangka pendek, tetapi berkembang menjadi gerakan bersama dalam mewujudkan Kabupaten Bireuen yang bersih, sehat, dan berwawasan lingkungan.

Upaya pengelolaan sampah yang diinisiasi mahasiswa KKN bersama para pemangku kepentingan tersebut juga SDGs. Program ini berkontribusi pada SDG 11 (Sustainable Cities and Communities) melalui penguatan sistem pengelolaan sampah berbasis masyarakat untuk mewujudkan lingkungan permukiman yang bersih dan tangguh. Pemanfaatan kembali sampah plastik menjadi produk bernilai ekonomi serta pengolahan sampah organik menjadi kompos turut mendukung SDG 12 (Responsible Consumption and Production) dengan mendorong praktik ekonomi sirkular dan pengurangan timbulan sampah sejak dari sumbernya.

Di sisi lain, berkurangnya sampah yang berakhir di tempat pembuangan akhir maupun lingkungan sekitar berkontribusi terhadap SDG 13 (Climate Action) melalui upaya menekan emisi gas rumah kaca dari limbah, sekaligus mendukung SDG 15 (Life on Land) dengan mengurangi pencemaran tanah dan menjaga kualitas ekosistem daratan. Melalui kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah daerah, organisasi kepemudaan, dan masyarakat, program ini sebuah upaya pengabdian berbasis ilmu pengetahuan untuk menjadi katalisator perubahan menuju pembangunan yang lebih berkelanjutan.