WhatsApp Image 2026-08-12 at 14.27.14(2).jpeg

Rabu, 12 Agustus 2026 14:19:00 WIB

0

Merayakan Inklusivitas, Mendorong Lulusan Menjadi Problem Solver di Era Otomatisasi

Wisuda memang sebuah seremoni, tetapi setiap nama yang dipanggil ke depan membawa perjalanan panjang yang layak dirayakan. Di balik toga, senyum, dan ijazah yang diterima, tersimpan lelah yang dituntaskan, doa orang tua yang tidak pernah putus, serta dukungan banyak tangan yang mengantarkan para lulusan hingga ke titik ini.

Suasana penuh kebahagiaan dan haru tersebut mewarnai hari pertama Wisuda Periode IV Tahun Akademik 2025/2026 UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta yang digelar melalui Sidang Senat Terbuka di Gedung Multipurpose, Rabu (12/8/2026).

Sidang dibuka secara resmi oleh Ketua Senat Universitas, Prof. Dr. Kamsi. Sebanyak 552 lulusan mengikuti prosesi wisuda pada  hari pertama, terdiri atas 87 wisudawan Fakultas Dakwah dan Komunikasi, 236 wisudawan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, 136 wisudawan Fakultas Sains dan Teknologi, 59 wisudawan Fakultas Ilmu Sosial dan Humaniora, serta 34 wisudawan Pascasarjana.


Dalam pidatonya, Rektor UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Prof. Noorhaidi Hasan, mengajak para wisudawan merayakan capaian ini sebagai salah satu tonggak penting dalam kehidupan. Ia meyakini, gelar akademik bukan sekadar penanda berakhirnya masa studi, melainkan bekal untuk menentukan arah perjalanan hidup pada masa mendatang.

“Bergembiralah atas gelar yang Anda peroleh. Perjalanan ini penuh liku, membutuhkan mental serta daya tahan yang tangguh, dan Anda mampu melewatinya” ujarnya.

Selama menempuh pendidikan, lanjut Rektor, mahasiswa tidak hanya dibekali kompetensi keilmuan. UIN Sunan Kalijaga juga memberikan berbagai pendampingan untuk mengembangkan keterampilan dan membentuk lulusan sebagai pembelajar sepanjang hayat yang siap memberikan pengabdian terbaik bagi negeri.


“Setidaknya terdapat tiga kemampuan dasar yang dibangun selama proses pendidikan, yakni berpikir logis, kritis, dan kreatif. Anda sekalian juga dilatih mengomunikasikan gagasan melalui penulisan karya ilmiah dan presentasi akademik. Seluruh kemampuan tersebut dilengkapi dengan pembentukan karakter yang menjunjung integritas dan tanggung jawab dalam bingkai besar integrasi-interkoneksi.” Tegasnya.

Figur yang juga pernah menjabat Direktur Pascasarjana ini juga mengingatkan bahwa para lulusan tumbuh di lingkungan kampus yang inklusif, plural, dan multikultural. Nilai-nilai itu memperoleh wujudnya dalam prosesi wisuda kali ini.

Hari ini, tiga mahasiswa difabel turut berdiri sebagai wisudawan. Kehadiran mereka menjadi bukti bahwa keterbatasan bukanlah penghalang untuk menempuh pendidikan tinggi dan meraih gelar akademik. Semangat serupa mengalun dari Paduan Suara Gita Divana yang beranggotakan mahasiswa difabel dan para relawan. Lirik demi lirik mereka persembahkan, sementara lantunan ayat suci Al-Qur’an dibacakan dengan khidmat oleh seorang mahasiswa tunanetra.

Wajah keberagaman juga hadir melalui Romo Adrianus Fani, salah seorang wisudawan yang menjalani pelayanan keagamaan di Jepang. Perjalanannya memperlihatkan bahwa UIN Sunan Kalijaga membuka ruang perjumpaan bagi mahasiswa dari beragam latar belakang agama, pengalaman, dan jalan pengabdian.

Pada saat yang sama, lanjut Rektor, UIN Sunan Kalijaga juga terus memperkuat diri sebagai perguruan tinggi yang unggul, terkemuka, dan bereputasi global. Sejumlah langkah strategis telah ditempuh, mulai dari pembukaan Program Studi Kedokteran dan 12 program studi baru pada tahun ini, hingga dimulainya pembangunan Kampus II di Pajangan

Namun, kemajuan institusi harus berjalan beriringan dengan kesiapan lulusan menghadapi perubahan dunia. Figur yang juga merupakan akademisi terkemuka ini menilai generasi muda akan memasuki kehidupan yang diwarnai persaingan kekuatan global, perebutan pengaruh geopolitik, konflik dan peperangan, melemahnya kohesi sosial, serta perlambatan pertumbuhan ekonomi.

Tantangan itu semakin kompleks seiring pesatnya perkembangan teknologi digital. Otomatisasi mulai mengambil alih sebagian pekerjaan administratif dan analitis yang sebelumnya dikerjakan manusia.

“Kalian harus hadir sebagai problem solver atas berbagai persoalan kehidupan. Jadilah orang yang mampu menawarkan gagasan untuk memperbaiki kualitas layanan serta kehidupan masyarakat. Percayalah dengan berbagai bekal yang telah Anda dapatkan selama kulliah, Anda mampu melakukannya,” katanya.

Dalam kesempatan yang sama. salah satu wisudawan terbaik tercepat asal Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, Nabila Lutfiati, dalam pidatonya mewakili wisudawan, mengajak seluruh peserta mengenang kembali proses panjang yang telah mengantarkan mereka hingga hari kelulusan.

“Beberapa menit yang lalu, satu per satu nama kita dipanggil ke depan. Langkah itu hanya berlangsung beberapa detik. Namun, untuk sampai pada beberapa detik itu, kita menempuh perjalanan yang tidak sebentar,” tuturnya.

Ia menggambarkan bahwa yang tampak pada hari wisuda hanyalah toga, senyum, dan selembar ijazah. Di balik semua itu, terdapat malam-malam penuh perjuangan, doa yang tidak pernah putus, kegagalan yang mengajarkan keteguhan, serta keberanian untuk terus melangkah ketika keinginan menyerah datang.

Menurutnya, tentu kisah perjuangan setiap orang tidak akan pernah sama. Sebagian harus menempuh pendidikan jauh dari keluarga. Sebagian lainnya membagi waktu antara perkuliahan dan berbagai tanggung jawab. Ada pula yang menjalani momen kelulusan dengan menyimpan kerinduan kepada orang-orang terkasih yang hanya dapat menyaksikan keberhasilan mereka melalui doa.

Hari ini kita merayakan sebuah pencapaian. Namun esok, dunia tidak lagi bertanya bagaimana kita lulus. Dunia akan mengenal kita melalui cara kita hidup, cara kita bekerja, dan cara kita memperlakukan sesama. Karena itu, izinkan saya mengajak kita membawa pulang satu janji. Janji untuk menjadi lulusan UIN Sunan Kalijaga yang terus belajar dengan rendah hati, bekerja dengan penuh integritas, dan mengabdi dengan sepenuh hati,” ujarnya.

Pada Wisuda Periode IV Tahun Akademik 2025/2026, UIN Sunan Kalijaga memberikan apresiasi kepada wisudawan terbaik tercepat untuk setiap jenjang. Pada jenjang sarjana, penghargaan diberikan kepada Fadilla Ma’sum Haqqoni dari Program Studi Informatika, Fakultas Sains dan Teknologi, dengan masa studi 3 tahun 7 bulan 22 hari dan IPK 3,88; Amri Melia Tsani dari Program Studi Ilmu Perpustakaan, Fakultas Adab dan Ilmu Budaya, 3 tahun 6 bulan 12 hari dengan IPK 3,88; Noviatun Nisa dari Program Studi Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Humaniora, 3 tahun 7 bulan 9 hari dengan IPK 3,91; serta Nabila Lutfiati dari Program Studi Pendidikan Agama Islam, Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, 3 tahun 7 bulan 10 hari dengan IPK 3,93.

Pada jenjang magister, penghargaan diberikan kepada Ragim Samanery dari Program Studi Bahasa dan Sastra Arab, Fakultas Adab dan Ilmu Budaya, dengan masa studi 1 tahun 3 bulan 22 hari dan IPK 3,81; Hanny Handayani Sucinta dari Program Studi Magister Informatika, Fakultas Sains dan Teknologi, 1 tahun 8 bulan 18 hari dengan IPK 3,85; Wahyu Trisno Aji dari Program Studi Interdisciplinary Islamic Studies, Pascasarjana, 1 tahun 8 bulan 7 hari dengan IPK 3,94; serta Ach. Hanuji Akbar dari Program Studi Manajemen Pendidikan Islam, Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, 1 tahun 8 bulan 13 hari dengan IPK 4,00.

Sementara itu, pada jenjang doktor, penghargaan diberikan kepada Ana Toni Roby Candra Yudha dari Program Studi Studi Islam, Pascasarjana, dengan masa studi 3 tahun 8 bulan 18 hari dan IPK 3,93, serta Iffah Khoiriyatul Muyassaroh dari Program Studi Pendidikan Agama Islam, Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, dengan masa studi 3 tahun 6 bulan 6 hari dan IPK 3,96.(humassk)