1002341874.jpg

Kamis, 13 Agustus 2026 15:02:00 WIB

0

Bukan Sekadar Menerjemahkan, JBI PLD UIN Sunan Kalijaga Hadirkan Akses bagi Mahasiswa Tuli

Di balik berlangsungnya setiap prosesi wisuda UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, terdapat peran penting yang memastikan seluruh informasi dapat diterima oleh setiap wisudawan, termasuk mahasiswa Tuli. Di belakang layar, Juru Bahasa Isyarat (JBI) menerjemahkan setiap informasi yang disampaikan dalam prosesi agar dapat diakses oleh mahasiswa Tuli. Kehadiran JBI dalam prosesi wisuda menjadi salah satu wujud komitmen UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dalam membangun lingkungan pendidikan yang inklusif dan memastikan setiap mahasiswa memiliki kesempatan yang setara untuk mengikuti seluruh rangkaian kehidupan akademik.


Layanan tersebut tidak hadir secara kebetulan. Di baliknya terdapat peran Pusat Layanan Difabel (PLD) UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta yang secara aktif membangun sistem dukungan bagi mahasiswa difabel, mulai dari pendampingan perkuliahan, note-taking, hingga penyediaan akses bahasa isyarat melalui relawan yang mendapatkan pelatihan.

Salah satu relawan yang kini menjalankan peran sebagai JBI adalah Akris Annisaul Febrianti, mahasiswa Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI), Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK). Perjalanannya menjadi JBI bermula dari keinginan sederhana untuk dapat berkomunikasi dengan seorang teman Tuli yang berada di jurusannya.

“Sebenarnya saya di Pusat Layanan Difabel itu mendaftarkan diri sebagai relawan umum. Saya tertarik ikut bergabung karena ada salah satu teman satu jurusan yang kebetulan teman Tuli. Saya ada keinginan ingin ngobrol,” tutur Akris.

Keinginan tersebut kemudian membawanya bergabung dengan PLD. Karena aktif mengikuti berbagai kegiatan, Akris mendapatkan kesempatan untuk belajar bahasa isyarat. Pelatihan bagi relawan aktif tersebut menjadi bagian dari upaya PLD dalam memperluas akses komunikasi bagi mahasiswa Tuli.

Menurut Akris, pelatihan tersebut menjadi bagian dari upaya UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dalam memperluas akses bagi mahasiswa difabel. Relawan aktif mendapatkan pelatihan bahasa isyarat agar makin banyak orang yang mampu memberikan dukungan komunikasi kepada mahasiswa Tuli.

“Karena di UIN Sunan Kalijaga ini termasuk kampus inklusif, untuk meningkatkan aksesnya, kami sebagai relawan juga diberikan pelatihan bahasa isyarat untuk memenuhi akses untuk teman-teman Tuli,” jelasnya.

Akris mulai mempelajari bahasa isyarat sekitar 2022–2023. Setelah melalui proses belajar dan mendapatkan kesempatan untuk mencoba menerjemahkan dalam kegiatan PLD, ia kemudian menjalankan peran sebagai JBI selama sekitar satu tahun.

Baginya, JBI bukan sekadar orang yang menerjemahkan bahasa lisan ke bahasa isyarat. JBI merupakan bagian dari akses yang memungkinkan mahasiswa Tuli memperoleh informasi dan berpartisipasi dalam kehidupan kampus.

“Menurut saya, JBI menjadi akses untuk teman-teman Tuli,” ujarnya.

Namun, PLD tidak hanya mengandalkan JBI dalam memberikan layanan. Pendampingan mahasiswa Tuli juga dilakukan melalui note-taker, terutama dalam kegiatan perkuliahan. Relawan membantu mencatat dan menyampaikan informasi selama proses pembelajaran di kelas.

Pada awal semester, mahasiswa Tuli menyampaikan jadwal perkuliahan kepada tim PIC PLD. Jadwal tersebut kemudian dikoordinasikan kepada para relawan sesuai dengan ketersediaan waktu masing-masing. Sistem ini memungkinkan layanan pendampingan berjalan secara fleksibel sekaligus memperluas keterlibatan relawan dalam mendukung mahasiswa difabel.

Bagi UIN Sunan Kalijaga, pendekatan tersebut menunjukkan bahwa inklusivitas bukan hanya tentang menyediakan fasilitas, tetapi juga membangun sistem pendampingan dan sumber daya manusia yang mampu merespons kebutuhan mahasiswa difabel.

Peran JBI kemudian menjadi makin terlihat dalam kegiatan seremonial seperti wisuda. Dalam prosesi tersebut, JBI tidak hanya menerjemahkan sambutan atau informasi yang disampaikan, tetapi juga memastikan mahasiswa Tuli memahami keseluruhan rangkaian acara.

Persiapan dilakukan sejak pembekalan dan gladi bersih. Pada tahap tersebut, JBI bersama mahasiswa Tuli memastikan seluruh rangkaian prosesi dapat dipahami karena posisi JBI berada di belakang layar dan tidak memungkinkan untuk menghampiri wisudawan secara tiba-tiba ketika acara berlangsung.

“Di gladi bersih itu kami memastikan untuk teman-teman Tuli itu paham prosesi wisuda seperti apa. Kami bertugas sebagai JBI di belakang layar karena kami tidak bisa tiba-tiba menghampiri teman Tuli di tengah-tengah sidang,” jelas Akris.

Sebagai penerjemah, JBI juga harus mempersiapkan aspek teknis. Salah satunya adalah penggunaan pakaian berwarna hitam dan minim aksesori agar gerakan tangan terlihat jelas dan tidak teralihkan oleh motif pakaian atau aksesori.

Selain itu, JBI perlu memahami alur prosesi, termasuk lagu-lagu yang digunakan dalam acara, Indonesia Raya, Hymne, hingga bagian-bagian yang menggunakan isyarat hijaiyah, agar memudahkan saat menerjemahkan.

Tantangan lainnya adalah tempo penyampaian informasi. Kecepatan berbicara dapat membuat proses penerjemahan menjadi lebih sulit. Tidak semua istilah juga memiliki padanan bahasa isyarat yang langsung, sehingga JBI perlu menyampaikan konsep agar pesan tetap dapat dipahami oleh mahasiswa Tuli.

Bagi Akris, keberhasilan pendampingan tidak diukur semata-mata dari kemampuannya menerjemahkan. Ukuran yang lebih penting adalah apakah mahasiswa yang didampingi benar-benar memahami informasi yang disampaikan.

Ia bahkan kerap meminta umpan balik setelah mendampingi mahasiswa, misalnya dengan menanyakan kembali materi yang telah disampaikan.

“Hal paling berkesan selama menjadi JBI adalah ketika teman-teman yang aku dampingi itu happy dan bisa paham dengan apa yang disampaikan di acara ataupun di kelas,” ungkapnya.

Pengalaman tersebut turut mengubah cara pandangnya terhadap mahasiswa difabel. Menurutnya, persoalannya bukan pada kemampuan mahasiswa difabel, melainkan pada tersedianya akses dan dukungan yang memungkinkan mereka berkembang.

“Ternyata kemampuan mereka kalau diberikan akses dan didukung dan dibersamai, mereka juga bisa. Karena mungkin mereka hanya masih membutuhkan akses itu saja,” ujarnya.

Karena itu, keberadaan JBI dan PLD menurutnya menjadi bagian penting dari ekosistem kampus inklusif. Namun, layanan tersebut harus terus dibangun berdasarkan kebutuhan mahasiswa difabel itu sendiri.

“Kalau ingin memberikan yang terbaik pasti kami di PLD menanyakan apa kebutuhan dari mereka. Ketika mereka butuh sesuatu, mungkin bisa diusahakan untuk diberikan,” kata Akris.

Sebagai relawan, ia berharap layanan yang selama ini telah tersedia di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta tidak berhenti, tetapi terus dikembangkan agar akses bagi mahasiswa difabel makin baik.

“Harapannya apa yang sudah ada sekarang tidak berkurang, tetapi lebih dikembangkan untuk ke depannya. Jadi kita semuanya lebih setara di sini,” pungkasnya. (humassk)