1002345522.jpg

Jumat, 14 Agustus 2026 13:16:00 WIB

0

UIN Sunan Kalijaga Perkuat Pendidikan Doktoral melalui Asesmen Lapangan Prodi Sejarah Peradaban Islam

Sejarah bukan sekadar catatan tentang masa lalu. Di tangan perguruan tinggi, sejarah menjadi ruang untuk membaca perubahan, memahami peradaban, dan merumuskan masa depan. Semangat itulah yang turut mendasari langkah UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dalam memperluas pendidikan doktoral melalui usulan pembukaan Program Studi Doktor Sejarah Peradaban Islam di Fakultas Adab dan Ilmu Budaya (FADIB).

Tahapan penting tersebut ditandai dengan pelaksanaan asesmen lapangan (AL) usulan pembukaan program studi pada Jumat (14/8/2026) di Ruang Rapat FADIB Lt. 2. Asesmen lapangan dihadiri tim asesor yang terdiri atas Prof. Dr. H. Ija Suntana, M.Ag. dari UIN Sunan Gunung Djati Bandung dan Prof. Dr. Fauzan, M.A. dari UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, serta Sri Haryanti, M.M. selaku pendamping dari Direktorat Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam (DIKTIS). Kegiatan turut dihadiri Wakil Rektor I, Dekan FADIB beserta jajaran, Dekan FST, Ketua Lembaga Penjaminan Mutu (LPM), pimpinan unit, para guru besar, serta dosen yang diproyeksikan menjadi bagian dari program studi.


Wakil Rektor Bidang Akademik dan Pengembangan Lembaga UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Prof. Istiningsih, menegaskan bahwa pengembangan program studi baru merupakan bagian dari langkah UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta untuk terus memperluas dan memperkuat ekosistem akademiknya. Pengembangan tersebut tetap berpijak pada karakter utama UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, yakni integrasi-interkoneksi keilmuan.

“Ilmu agama tidak kita tinggalkan. Ilmu agama tetap menjadi roh UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, bagaimana kita mewujudkan integrasi dan interkoneksi antara ilmu agama dan ilmu umum,” ujarnya.

Menurutnya, penguatan bidang keilmuan dilakukan secara beriringan. Di satu sisi, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta tengah menyiapkan pengembangan Kampus II Pajangan yang diarahkan untuk memperkuat bidang STEM. Di sisi lain, pengembangan rumpun keilmuan keislaman dan humaniora terus dilakukan melalui penguatan program studi pada berbagai jenjang.

Langkah tersebut menjadi bagian dari dinamika pengembangan UIN Sunan Kalijaga. Dalam sambutannya, Prof. Istiningsih menyampaikan bahwa selama kepemimpinan Rektor Prof. Noorhaidi, telah lahir 13 program studi baru. Pengembangan jenjang magister dan doktoral juga terus didorong, termasuk upaya memperkuat program internasional untuk menjangkau reputasi akademik global.


Dekan FADIB, Prof. Nurdin, menyebut asesmen lapangan ini sebagai momentum penting bagi pengembangan fakultas. Ia menyambut kehadiran tim asesor dan pendamping DIKTIS sekaligus menunjukkan kesiapan FADIB bersama universitas dalam menghadirkan program doktor yang memiliki fondasi akademik kuat.

“Ini satu kegiatan yang sangat penting dan menentukan salah satu yang menentukan kemajuan dari Fakultas Adab dan Ilmu Budaya,” ungkapnya.

Menariknya, animo terhadap program doktor ini telah terlihat bahkan sebelum program studi resmi berjalan. Prof. Nurdin mengungkapkan bahwa sejumlah calon mahasiswa telah menanyakan kapan program tersebut dibuka.

“Bahkan sebelum dibuka itu sudah ada mahasiswanya. Ada beberapa yang bertanya, kapan dibuka? Ini luar biasa sekali,” tuturnya.

Kesiapan tersebut diperkuat dengan dukungan sumber daya akademik dari para guru besar dan dosen yang diproyeksikan menjadi dosen homebase. Kehadiran mereka menjadi bagian penting dalam memastikan program doktor memiliki kapasitas keilmuan yang memadai sekaligus mampu mengembangkan kajian Sejarah Peradaban Islam secara mendalam.


Dari sisi asesmen, tim asesor melakukan verifikasi terhadap kondisi nyata program yang diusulkan. Prof. Dr. H. Ija Suntana menjelaskan bahwa kedatangan tim asesor bertujuan memastikan dokumen yang telah diajukan sesuai dengan kondisi di lapangan.

“Yang ingin kami pastikan adalah dokumen yang diusulkan sesuai dengan kondisi di lapangan,” jelasnya.

Tiga aspek utama menjadi perhatian dalam asesmen, yakni kurikulum, sumber daya manusia, serta sarana dan prasarana. Tim asesor juga memastikan penugasan dosen pada program studi baru tidak mengganggu rasio dosen pada program studi yang telah ada.


Asesmen ini sekaligus menunjukkan bahwa pembukaan program studi baru di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta tidak hanya berorientasi pada penambahan pilihan pendidikan, tetapi juga disiapkan melalui proses akademik dan penjaminan mutu yang terukur. Dukungan lintas unit, mulai dari fakultas, LPM, hingga para guru besar dan dosen, menjadi bagian dari kesiapan institusi dalam menghadirkan program doktor baru.

Bagi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, pengembangan Program Studi Doktor Sejarah Peradaban Islam bukan sekadar membuka jenjang pendidikan baru. Lebih dari itu, langkah ini menjadi upaya memperkuat tradisi akademik dalam membaca sejarah dan peradaban Islam secara kritis sekaligus kontekstual.

Dengan kekuatan tradisi keilmuan Islam, dukungan sumber daya akademik, dan paradigma integrasi-interkoneksi, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta terus menegaskan posisinya sebagai perguruan tinggi yang tidak hanya menjaga warisan keilmuan, tetapi juga mengembangkannya untuk menjawab tantangan masa depan. (humassk)