menag.jpg

Jumat, 14 Agustus 2026 13:47:00 WIB

0

Doa Menag pada Sidang Tahunan 2026: Satukan Hati dan Pikiran untuk Indonesia

Di tengah agenda kenegaraan memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar memimpin doa pada Sidang Tahunan MPR RI dan Sidang Bersama DPR RI dan DPD RI, Jumat (14/8/2026). Dalam doanya, Menag mengajak seluruh elemen bangsa untuk menyatukan hati dan pikiran, memperkuat persatuan, serta menyinergikan seluruh potensi bangsa menghadapi berbagai tantangan.

Doa tersebut menjadi bagian dari rangkaian Sidang Tahunan MPR RI dan Sidang Bersama DPR RI dan DPD RI yang digelar dalam rangka memperingati HUT ke-81 Kemerdekaan RI Tahun 2026. Menag berharap momentum kenegaraan tersebut tidak sekadar menjadi agenda rutin, tetapi menjadi ruang untuk memperkuat kebersamaan dan komitmen membangun Indonesia.

“Semoga Sidang Tahunan kali ini menjadi momentum terbaik untuk menyinergikan segenap potensi bangsa yang telah Engkau anugerahkan kepada kami,” ungkap Nasaruddin Umar dalam doanya di Jakarta.

Ia melanjutkan, Indonesia merupakan bangsa yang menjunjung tinggi persatuan, kesatuan, dan kebersamaan dalam mewujudkan cita-cita luhur bangsa, terutama dalam mempertahankan martabat Indonesia di tengah tantangan global.

Pesan tentang persatuan tersebut diperkuat dengan permohonan agar seluruh elemen bangsa mampu menyatukan hati dan pikiran dalam kecintaan terhadap tanah air.

“Satukanlah hati dan pikiran kami untuk bersama-sama mencintai negeri kami,” doa Menag.

Dalam doa yang dipanjatkannya, Menag juga memohon perlindungan bagi bangsa Indonesia dari fitnah, pengkhianatan, tipu daya, serta berbagai rekayasa negatif yang dapat mengganggu persatuan.

Menariknya, doa tersebut juga memuat pesan introspeksi bagi para pemimpin dan seluruh pihak ketika menghadapi kritik. Menag memohon agar kritik yang benar dapat menjadi bahan koreksi, sementara pihak yang menyampaikan kritik secara keliru tetap mendapat pengampunan.

“Sadarkanlah diri kami untuk mengoreksi diri jika fitnah dan kritikan mereka benar. Ampunilah mereka jika fitnah dan kritikan mereka keliru,” tuturnya.

Pesan tersebut menegaskan pentingnya sikap terbuka dalam kehidupan berbangsa. Kritik tidak semata-mata dipandang sebagai ancaman, tetapi dapat menjadi sarana untuk melakukan evaluasi dan memperbaiki diri ketika disampaikan berdasarkan kebenaran.

Menag juga mendoakan masyarakat yang mengalami ketidakadilan dan berada dalam kondisi lemah. Ia memohon agar pertolongan diberikan kepada siapa pun yang membutuhkan, tanpa membedakan tingkat ketaatan beragama.

“Ya Allah, bantulah siapapun hamba-Mu yang terdhalimi dan yang lemah di muka bumi ini, baik yang taat beragama maupun yang belum taat, karena sesungguhnya mereka juga adalah hamba ciptaan-Mu yang membutuhkan pertolongan,” demikian doa tersebut.

Menutup doanya, Menag mengingatkan bahwa perjalanan bangsa masih panjang. Berbagai tantangan, tanggung jawab, dan hambatan masih harus dihadapi bersama. Karena itu, ia memohon kekuatan dan ketegaran agar seluruh amanah dapat dijalankan dengan sebaik-baiknya.

“Masih panjang jalan yang harus kami tempuh, masih besar tantangan yang harus kami hadapi, masih banyak tanggung jawab yang harus kami emban, dan masih beragam hambatan yang harus kami lalui,” ucapnya.

Ia juga mengajak bangsa Indonesia untuk tetap berikhtiar sekaligus menyerahkan hasilnya kepada Tuhan. Doa tersebut ditutup dengan permohonan ampun bagi bangsa Indonesia, para orang tua, pemimpin, dan para pahlawan yang telah berjasa bagi negeri.

“Jadikanlah bangsa dan negeri kami sebagai baldatun thayyibah warabbun gafur, negeri yang gemah ripah loh jinawi, toto tentrem kerto raharjo.”

Doa Menteri Agama pada momentum Sidang Tahunan 2026 tersebut menjadi refleksi spiritual di tengah peringatan kemerdekaan Indonesia. Persatuan, keterbukaan terhadap kritik, kepedulian kepada kelompok yang lemah, serta keteguhan menghadapi tantangan menjadi pesan penting untuk terus dirawat bersama dalam perjalanan bangsa menuju masa depan.