Keterbatasan bukan penghalang untuk berprestasi ketika mahasiswa mendapat ruang, kesempatan, dan dukungan untuk berkembang. Hal itu tecermin dalam perjalanan Muhammad Agil Husein, Wisudawan Terbaik Tercepat Program Sarjana pada Wisuda Periode IV Tahun Akademik 2025/2026 UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Kamis (13/8/2026).
Lulusan Program Studi Manajemen Dakwah, Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK) ini meraih IPK 3,94 dan menyelesaikan studi dalam 3 tahun 7 bulan 29 hari. Pencapaian tersebut didukung berbagai kesempatan yang ia manfaatkan selama menjadi mahasiswa, termasuk program beasiswa.
Agil tercatat sebagai Awardee GNOTA 2022, UPZ UIN Sunan Kalijaga 2023, serta Bank Indonesia pada 2024 dan 2025. Baginya, beasiswa bukan sekadar dukungan finansial, tetapi ruang untuk lebih fokus mengembangkan kompetensi.
“Ketika menjadi penerima beasiswa, saya memiliki satu kemewahan, yakni kemerdekaan waktu. Saya memiliki keleluasaan untuk mengarahkan fokus ke pengembangan kompetensi,” tuturnya.
Sebagai penerima beasiswa Bank Indonesia, Agil mengikuti pembinaan melalui komunitas GenBI dan memperoleh sertifikasi profesi Digital Marketing. Kesempatan tersebut ia kembangkan melalui pengalaman di bidang media, marketing, dan produksi konten. Ia juga pernah meraih juara short movie serta aktif dalam berbagai kegiatan dan proyek bersama dosen.
Menurut Agil, keterlibatan mahasiswa dalam berbagai proyek menjadi bagian penting dari proses pembelajaran. Ia antara lain terlibat dalam kegiatan sertifikasi pembimbing haji dan penelitian dosen.
“Mahasiswa sering kali dilibatkan langsung dalam berbagai project penting. Pengalaman seperti inilah yang mengasah profesionalitas dan cara berpikir saya di luar kelas,” ujarnya.
Pengalaman tersebut turut mempertemukan ilmu Manajemen Dakwah dengan minatnya pada media dan digital marketing. Agil kemudian mengembangkan konten dakwah melalui Instagram dan TikTok dengan pendekatan visual dan video editing. Konsistensinya bahkan membuatnya dipercaya menjadi narasumber dalam tiga penelitian skripsi dan satu riset jurnal tingkat doktoral.
“Melihat karya kreatif saya bisa menjembatani ilmu agama ke masyarakat luas sekaligus berkontribusi pada literatur ilmiah adalah kebanggaan terbesar saya,” katanya.
Bagi Agil, pengalaman tersebut menjadi salah satu contoh bagaimana nilai integrasi-interkoneksi yang menjadi karakter UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dapat diterapkan dalam perjalanan mahasiswa. Ilmu Manajemen Dakwah yang diperolehnya tidak dipandang secara terpisah, tetapi dipertemukan dengan pengetahuan tentang media, komunikasi, dan digital marketing.
“Di sini, saya tidak hanya belajar ilmu agama, tetapi juga diajarkan bagaimana ilmu agama itu berdialog dengan ilmu modern, seperti ilmu media, komunikasi, dan digital marketing,” ujarnya.
Ia juga menilai nilai moderasi beragama dan kemampuan beradaptasi menjadi bekal penting yang diperolehnya selama kuliah. Kemampuan tersebut membantunya mengomunikasikan gagasan yang kompleks menjadi bahasa yang lebih membumi dan relevan dengan masyarakat.
Ia menyebut UIN Sunan Kalijaga sebagai “kanvas terbuka” yang memberikan fondasi moral dan keilmuan sekaligus ruang bagi mahasiswa untuk menentukan masa depannya.
“UIN Sunan Kalijaga memberikan bingkai nilai-nilai moral dan keilmuan yang kuat sebagai fondasinya, namun sepenuhnya membebaskan mahasiswanya untuk melukis jalan masa depannya sendiri,” ungkapnya.
Di balik pencapaiannya, Agil juga menempatkan keluarga sebagai kekuatan utama. Doa, restu, dan dukungan orang tua menjadi bagian penting hingga ia mampu menyelesaikan studi dengan predikat Wisudawan Terbaik Tercepat.
Setelah lulus, Agil berkomitmen melanjutkan produksi konten dakwah dan motivasi di media sosial. Ia ingin menghadirkan pesan-pesan kebaikan yang dekat dengan kehidupan anak muda.
Kepada mahasiswa UIN Sunan Kalijaga, ia berpesan agar berani mengambil kesempatan tanpa menunggu kondisi sempurna.
“Jangan tunggu sempurna untuk mulai bergerak. Ambil peluang yang ada dan beranikan diri untuk memproduksi karya. Masa kuliah adalah ruang paling nyaman untuk mencoba banyak hal,” pesannya.
Perjalanan Agil menunjukkan bahwa prestasi tidak hanya lahir dari kemampuan akademik. Ketika beasiswa, kesempatan, kepercayaan, ruang eksplorasi, dan dukungan keluarga bertemu dengan kemauan untuk terus belajar, keterbatasan dapat berubah menjadi pintu menuju prestasi. (humassk)