Pengakuan di tingkat global menjadi salah satu indikator penting dalam melihat perkembangan dan reputasi perguruan tinggi. Namun, bagi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, pemeringkatan internasional tidak ditempatkan sebagai tujuan akhir. Lebih dari sekadar angka atau posisi dalam sebuah daftar peringkat, pengakuan global dipandang sebagai cerminan dari kualitas, kontribusi, dan dampak nyata perguruan tinggi bagi masyarakat.
Hal tersebut menjadi salah satu pesan utama yang mengemuka dalam rangkaian Suka Podcast yang menghadirkan Dr. Trio Yonathan Teja Kusuma, Koordinator Pusat Pemeringkatan dan SDGs UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta sebagai narasumber. Dalam empat episode yang membahas pengakuan global, SDGs, perubahan setelah mendapatkan pengakuan internasional, hingga strategi mempertahankan reputasi global, UIN Sunan Kalijaga menegaskan komitmennya untuk terus membangun kualitas kelembagaan secara berkelanjutan.
Menurut narasumber, pengakuan internasional pada dasarnya merupakan konsekuensi dari kualitas yang telah dibangun secara serius. Orientasi utama perguruan tinggi bukan semata-mata mendapatkan pengakuan, melainkan membangun standar mutu yang mampu menjawab kebutuhan masyarakat dan tantangan global.
“Pengakuan internasional itu bonus atau efek samping dari kualitas yang memang sudah mumpuni. Bukan tujuan utamanya,” demikian pesan yang disampaikan dalam Suka Podcast yang dirilis di kanal YouTube UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta pada Kamis (30/07/2026).
Perspektif tersebut menjadi penting dalam membaca perjalanan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dalam membangun reputasi global. Pemeringkatan tidak hanya melihat produktivitas akademik, tetapi makin memberikan perhatian terhadap dampak sosial yang dihasilkan perguruan tinggi.
SDGs Menjadi Bagian dari Identitas UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
Komitmen terhadap Sustainable Development Goals (SDGs) menjadi salah satu fondasi dalam penguatan reputasi global UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Prinsip-prinsip SDGs, seperti kesetaraan, inklusivitas, pengentasan kemiskinan, pendidikan berkualitas, dan keberlanjutan lingkungan, dinilai memiliki keterkaitan erat dengan karakter keilmuan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta yang mengusung paradigma integrasi-interkoneksi Islam, keilmuan, dan kebangsaan.
Implementasi SDGs di UIN Sunan Kalijaga tidak berhenti pada kebijakan atau dokumen kelembagaan. Komitmen tersebut diwujudkan melalui riset, pengabdian kepada masyarakat, KKN berbasis SDGs, pembelajaran, hingga penguatan ekosistem kampus yang inklusif.
Salah satu contoh yang disoroti adalah keberadaan Pusat Layanan Difabel (PLD) sebagai bagian dari upaya kampus menghadirkan pendidikan yang inklusif. Praktik-praktik tersebut menunjukkan bahwa kontribusi terhadap agenda global dapat tumbuh dari nilai dan kebutuhan lokal yang kemudian memiliki relevansi di tingkat internasional.
Dengan demikian, reputasi global UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dibangun melalui karakter yang dimiliki kampus sendiri. Nilai-nilai keislaman, tradisi keilmuan, kepedulian terhadap masyarakat, serta komitmen terhadap isu-isu global menjadi kekuatan yang membedakan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dalam percaturan pendidikan tinggi internasional.
Pengakuan internasional juga membawa konsekuensi terhadap ekosistem akademik dan kelembagaan. Ketika standar global menjadi bagian dari orientasi institusi, perubahan tidak hanya terjadi pada dokumen atau administrasi, tetapi juga pada pola pikir sivitas akademika.
Dosen didorong untuk memperluas kolaborasi dan jejaring penelitian hingga tingkat internasional. Mahasiswa memperoleh ruang yang lebih besar untuk berinteraksi dengan lingkungan akademik global, sementara kerja sama dengan perguruan tinggi mitra di luar negeri dapat berkembang melalui berbagai bentuk, seperti pertukaran mahasiswa, penelitian bersama, dan kuliah tamu internasional.
Pada saat yang sama, tuntutan terhadap reputasi global mendorong peningkatan kualitas tata kelola, layanan, fasilitas pembelajaran, serta penguatan infrastruktur yang inklusif dan berbasis teknologi.
Dengan kata lain, pemeringkatan dan reputasi internasional tidak berhenti pada pencapaian institusi, tetapi menjadi instrumen untuk mendorong perbaikan berkelanjutan.
Tantangan berikutnya adalah bagaimana mempertahankan kualitas tersebut. UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta memandang keberlanjutan reputasi global harus dibangun melalui sistem yang kuat dan tidak bergantung pada individu.
Setidaknya terdapat tiga fondasi penting yang ditekankan, yakni sistem yang terinstitusionalisasi, budaya mutu, serta keberlanjutan sumber daya manusia dan keuangan. Standar kualitas internasional perlu masuk ke dalam sistem penjaminan mutu internal sehingga tetap berjalan secara konsisten dalam berbagai situasi kepemimpinan.
Budaya mutu juga perlu menjadi bagian dari keseharian sivitas akademika, baik dalam riset, pembelajaran, publikasi ilmiah maupun pelayanan kepada mahasiswa. Dengan demikian, standar internasional tidak dipandang sebagai beban tambahan, tetapi menjadi bagian dari budaya kerja institusi.
Upaya mempertahankan reputasi tersebut juga dilakukan melalui riset berdampak tinggi, kemitraan internasional yang diwujudkan dalam aksi nyata, serta penguatan infrastruktur digital dan inklusivitas.
Reputasi Kampus Dibangun Bersama
Reputasi global pada akhirnya bukan hanya milik institusi, melainkan hasil akumulasi kontribusi seluruh sivitas akademika. Dosen, mahasiswa, tenaga kependidikan, dan alumni memiliki peran dalam menjaga kualitas dan memperluas pengaruh UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.
Alumni yang berkiprah di tingkat nasional maupun internasional, misalnya, menjadi bagian penting dari reputasi institusi. Ketika kompetensi lulusan mendapatkan pengakuan dari dunia kerja dan lingkungan profesional, capaian tersebut turut memperkuat posisi universitas di tingkat global.
Karena itu, penguatan reputasi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta tidak dapat dilepaskan dari upaya membangun kualitas secara menyeluruh. Pemeringkatan menjadi salah satu cara dunia membaca kualitas dan dampak tersebut, sementara pekerjaan utama universitas adalah memastikan kualitas itu benar-benar hadir dalam pendidikan, penelitian, pengabdian, tata kelola, dan kontribusi kepada masyarakat.
Melalui pendekatan tersebut, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta terus meneguhkan identitasnya sebagai perguruan tinggi Islam yang tidak hanya mampu berkompetisi di tingkat global, tetapi juga membawa nilai keislaman, keilmuan, kebangsaan, dan kemanusiaan ke dalam kontribusi nyata bagi dunia.
Reputasi global, dengan demikian, bukan sekadar tentang seberapa tinggi sebuah universitas berada dalam pemeringkatan, tetapi tentang seberapa besar kualitas dan kebermanfaatannya dirasakan oleh masyarakat. (humassk)