Upaya membangun kepedulian terhadap lingkungan di lingkungan kampus tidak selalu harus dimulai dari langkah besar. Di Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK) UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, kepedulian tersebut diwujudkan melalui kebiasaan sederhana dalam pelaksanaan Sosialisasi Pembelajaran (Sospem) mahasiswa baru. Salah satunya dengan mengurangi penggunaan wadah makanan sekali pakai dan memilih wadah makanan yang dapat digunakan kembali (reusable).
Pada pelaksanaan Sospem tahun ini, sebanyak 534 mahasiswa baru FDK mengikuti rangkaian kegiatan yang menjadi jembatan transisi dari lingkungan sekolah menuju kehidupan pembelajaran di perguruan tinggi. Di tengah aktivitas tersebut, FDK berupaya memastikan kegiatan mahasiswa tidak turut menambah timbunan sampah sekali pakai di lingkungan kampus.
Penanggung jawab konsumsi Sospem FDK, sekaligus Analis Ahli Muda Manajemen Keuangan Anggaran Negara, Fitri Nur Istiqomah, M.M., saat ditemui di ruang Layanan Terpadu Tata Usaha FDK, mengatakan penggunaan wadah makanan reusable telah diterapkan selama tiga tahun terakhir. Kebijakan tersebut berawal dari keprihatinan terhadap banyaknya sampah makanan yang muncul setelah kegiatan mahasiswa, terutama kardus dan wadah makanan sekali pakai.
“Dulu setelah Sospem, setiap sore di tempat pembuangan sampah itu banyak sekali sampahnya. Kalau dikumpulkan se-UIN Sunan Kalijaga, jumlahnya tentu sangat banyak,” ujarnya.
Menurut Fitri, penggunaan wadah sekali pakai tidak hanya menimbulkan persoalan lingkungan, tetapi juga membutuhkan penanganan dan biaya tambahan untuk pengelolaan sampah. Karena itu, FDK memilih mengantisipasi timbulan sampah sejak dari sumbernya.
Pilihan tersebut diwujudkan melalui kerja sama dengan penyedia katering yang menyediakan wadah makanan yang dapat digunakan kembali. Wadah diantar kepada mahasiswa saat makan dan kemudian dikumpulkan kembali oleh pihak katering setelah digunakan.
“Dengan anggaran yang ada, ternyata masih mencukupi untuk menggunakan boks reusable. Jadi secara biaya masih masuk, tetapi setelahnya kami tidak perlu menambah timbunan sampah,” jelas Fitri.
Selama tiga tahun penerapannya, sistem tersebut berjalan tanpa kendala berarti. Bahkan, tidak pernah terjadi kekurangan wadah yang menyebabkan FDK harus membayar biaya penggantian. Hal ini menunjukkan bahwa kebiasaan minim sampah dapat diterapkan dalam kegiatan mahasiswa secara praktis ketika didukung sistem yang jelas dan kerja sama semua pihak.
Bagi FDK, langkah tersebut juga menjadi bagian dari semangat yang sedang dibangun melalui Climate Warrior, sebuah gerakan kepedulian lingkungan yang melibatkan mahasiswa dan didampingi oleh dosen. Gerakan ini mendorong mahasiswa untuk tidak sekadar melihat sampah sebagai sesuatu yang harus dibuang, tetapi juga memilah dan mengelolanya sesuai jenisnya.
Fitri menjelaskan, pengelolaan sampah di FDK dilakukan melalui kolaborasi antara mahasiswa, pengelola fakultas, dan petugas kebersihan. Sampah yang masih memiliki nilai guna, seperti botol plastik dan kertas, dipilah untuk kemudian dikumpulkan dan disalurkan kepada pengepul. Sementara itu, sampah organik dipisahkan dari sampah anorganik.
FDK juga telah menyediakan tempat khusus untuk menampung sampah anorganik yang masih dapat dimanfaatkan serta memiliki dua mesin pencacah sampah. Langkah tersebut dilakukan agar sampah yang masih memiliki potensi untuk didaur ulang tidak langsung berakhir di tempat pembuangan.
“Kalau yang masih bisa digunakan atau dijual lagi, seperti kertas dan botol, kami sediakan ruang untuk menyimpannya. Kalau sudah penuh, kemudian menghubungi pengepul. Jadi tidak semuanya berakhir di tempat sampah,” katanya.
Upaya tersebut kini dikembangkan melalui langkah baru, yakni pilot project pengomposan sampah organik. FDK mulai mencoba mengolah sampah organik, terutama daun dan sisa tanaman, menjadi kompos. Ke depan, hasil kompos tersebut diharapkan dapat dimanfaatkan kembali sebagai media tanam atau pupuk untuk mendukung pemeliharaan lingkungan fakultas.
Meskipun masih dalam tahap awal, upaya ini sekaligus menjadi proses pembelajaran. Salah satu tantangannya adalah memastikan sampah yang masuk ke wadah pengomposan benar-benar merupakan sampah organik. Karena itu, edukasi dan pembiasaan menjadi bagian penting dari proses tersebut.
Menurut Fitri, perubahan perilaku tidak dapat dilakukan hanya oleh satu pihak. Pemilahan sampah membutuhkan keterlibatan mahasiswa, dosen, tenaga kependidikan, pengelola fakultas, hingga petugas kebersihan.
Tempat sampah terpilah memang telah tersedia di lingkungan FDK, tetapi dalam praktiknya masih ditemukan sampah yang belum sesuai dengan kategorinya. Karena itu, kolaborasi dengan petugas kebersihan menjadi bagian penting dalam memastikan proses pemilahan tetap berjalan.
“Namanya juga proses. Masih ada yang memasukkan plastik ke sampah organik atau kertas ke tempat yang tidak sesuai. Tetapi ini terus kami upayakan agar semakin tertib,” ujarnya.
Dukungan pimpinan fakultas juga menjadi faktor penting dalam keberlanjutan program tersebut. Gagasan penggunaan wadah reusable telah dibahas sejak awal dan terus dikembangkan berdasarkan evaluasi pelaksanaan setiap tahun. Tahun ini, setelah tiga kali pelaksanaan, pihak katering bahkan bersedia mengambil kembali wadah makanan dari mahasiswa sehingga panitia tidak lagi harus menghabiskan waktu untuk menghitung dan mengumpulkannya satu per satu.
Bagi FDK, pengalaman selama tiga tahun tersebut menunjukkan bahwa upaya mengurangi sampah dapat dimulai dari keputusan-keputusan sederhana dalam penyelenggaraan kegiatan. Dengan 534 mahasiswa yang mengikuti Sospem tahun ini, pilihan menggunakan wadah yang dapat dipakai kembali berarti ratusan wadah sekali pakai tidak perlu menjadi bagian dari timbunan sampah setelah kegiatan.
“Kami mencoba mengambil bagian untuk tidak ikut menumpuk sampah itu. Paling tidak, sekitar 500 mahasiswa sekian sudah tidak menyumbang sampah ke tempat pembuangan,” tutur Fitri.
Langkah FDK tersebut memperlihatkan bahwa pendidikan lingkungan tidak hanya berlangsung melalui materi atau kampanye, tetapi juga melalui praktik sehari-hari. Ketika mahasiswa diajak melihat bahwa pilihan menggunakan kembali, memilah, dan mengolah sampah merupakan bagian dari budaya kampus, kepedulian terhadap lingkungan dapat tumbuh menjadi kebiasaan.
Melalui Sospem, pesan tersebut hadir bersamaan dengan proses mahasiswa mengenal kehidupan akademik di UIN Sunan Kalijaga. Mereka tidak hanya dipersiapkan menjadi pembelajar yang mandiri dan berintegritas, tetapi juga diajak mengambil bagian dalam menciptakan lingkungan kampus yang lebih bertanggung jawab.
Bagi FDK, kampus yang ramah lingkungan bukan hanya tentang seberapa sedikit sampah yang dihasilkan, melainkan tentang bagaimana seluruh sivitas akademika belajar untuk mengurangi, memilah, menggunakan kembali, dan mengelola sampah bersama-sama.(humassk)