UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta kembali menambah koleksi medali pada PORSI JAWARA II. Kali ini, medali perak dipersembahkan melalui cabang Debat Bahasa Inggris setelah pasangan mahasiswa UIN Sunan Kalijaga berhasil menembus babak final pada Jumat (11/9/2026) di UIN K.H. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) Pekalongan.
Medali tersebut diraih oleh Radhwa Tsabita Al-Khair, mahasiswa Program Studi Hukum Tata Negara, Fakultas Syariah dan Hukum, bersama Ahmad Jundi Ulya, mahasiswa Program Studi Sastra Inggris, Fakultas Adab dan Ilmu Budaya.
Bagi keduanya, perjalanan menuju final bukan semata tentang kemenangan. Arena debat menjadi ruang untuk menguji ketajaman berpikir, kemampuan menyusun argumentasi, sekaligus menjaga koordinasi dalam situasi pertandingan yang berlangsung dinamis.
Setiap mosi menghadirkan persoalan yang menuntut peserta untuk membaca isu secara cepat dan menentukan sudut pandang yang tepat. Dalam proses tersebut, Ulya dan Radhwa terus menyesuaikan strategi dan menjaga komunikasi agar argumentasi yang dibangun tetap berada dalam satu arah.
Ulya mengakui, ada sejumlah momen pertandingan yang menuntut keduanya untuk lebih sigap menata kembali arah argumentasi. Namun, kekompakan sebagai pasangan debat membuat proses tersebut dapat dilalui hingga mereka berhasil mengamankan tiket menuju babak final.
“Alhamdulillah, karena adanya dukungan dari partner saya, Kak Awa, kami masih bisa terkoordinasi dan terus melangkah maju hingga sampai meraih medali silver,” ujar Ulya.
Bagi Ulya, keberhasilan mencapai final sekaligus menjadi jawaban atas perjalanan panjang yang telah dilaluinya dalam berbagai kompetisi. Sebelum PORSI JAWARA II, ia mengaku beberapa kali mengikuti perlombaan dan harus menerima hasil yang belum sesuai harapan.
Karena itu, medali perak kali ini memiliki arti tersendiri. Bukan semata karena capaian di podium, tetapi karena hasil tersebut hadir setelah berbagai pengalaman yang membentuk ketekunan dan keberaniannya untuk kembali mencoba.
“Kami sangat bergembira dan sangat bersyukur. Awalnya kami juga memiliki ketakutan dan kekhawatiran, apakah mampu menyelesaikan pertandingan dengan baik dan mendapatkan medali,” tuturnya.
Bagi Ulya, kemenangan tersebut merupakan jawaban atas perjuangan dan mimpi-mimpi yang sebelumnya sempat tertunda. Meski belum berbuah medali emas, ia memilih memaknai hasil tersebut dengan rasa syukur.
“Kemenangan ini bagi saya memiliki arti yang begitu mendalam. Saya menganggap ini sebagai jawaban dari Allah terhadap seluruh perjuangan dan mimpi-mimpi yang tertunda,” katanya.
Pertandingan yang mempertemukan mereka dengan peserta dari berbagai perguruan tinggi juga memberi pengalaman baru. Setiap peserta hadir dengan gagasan, sudut pandang, dan cara membangun argumentasi yang berbeda.
“Semakin dalam kita menyelam ke lautan, semakin kita sadar betapa luasnya lautan tersebut. Kami bertemu dengan teman-teman yang luar biasa, dengan ide dan argumentasi yang keren,” ujar Ulya.
Dari pengalaman itu, keduanya tidak hanya membawa pulang medali, tetapi juga pemahaman mengenai berbagai hal yang masih dapat dikembangkan. Bagi mereka, kompetisi menjadi kesempatan untuk mengukur kemampuan sekaligus menemukan ruang baru untuk bertumbuh.
Perjalanan tersebut juga tidak dilewati keduanya seorang diri. Dukungan dari lingkungan UIN Sunan Kalijaga hadir sepanjang keikutsertaan mereka dalam PORSI JAWARA II.
Ulya menyebut dukungan tersebut datang dari dosen, staf, official, hingga rekan-rekan seperjuangan dalam kontingen UIN Sunan Kalijaga.
Bagi peserta yang tengah menghadapi tekanan pertandingan, dukungan itu menjadi energi tersendiri. Bahkan, sorakan sederhana dari rekan-rekan kontingen ketika mereka berada di sekitar arena mampu memberi keyakinan bahwa perjuangan tersebut dijalani bersama.
“Ketika kami keluar, ada teriakan dari teman-teman, ‘Semangat-semangat, kalian pasti bisa.’ Itu memberikan semangat lebih. Kami merasa tidak sendiri. Di sana ada doa yang mengalir dalam setiap langkah yang kami ambil,” katanya.
Capaian Radhwa dan Ulya memperlihatkan bagaimana kompetisi dapat menjadi bagian dari proses pengembangan mahasiswa. Debat mempertemukan kemampuan akademik dengan keberanian menyampaikan gagasan, kemampuan berpikir kritis, kerja sama, serta ketangguhan dalam menghadapi dinamika pertandingan.
Medali perak yang mereka raih akhirnya bukan sekadar angka dalam perolehan medali kontingen UIN Sunan Kalijaga. Di balik kilau perak itu ada keberanian untuk kembali mencoba, kemampuan untuk tetap melangkah ketika pertandingan menuntut penyesuaian, serta pengalaman berharga dari perjumpaan dengan gagasan-gagasan baru.
PORSI JAWARA II membawa Radhwa dan Ulya ke podium. Namun, perjalanan menuju podium itulah yang memberi keduanya bekal lebih Panjang, bahwa setiap kompetisi dapat menjadi ruang untuk menguji kemampuan, memperluas cara pandang, dan menemukan alasan untuk terus belajar.(humassk)