Alumni tidak berhenti menjadi bagian dari almamater setelah mengenakan toga. Di berbagai ruang pengabdian, pemerintahan, dunia usaha, profesi, hingga masyarakat, mereka membawa pengetahuan sekaligus identitas yang dibentuk dari kampus. Dari kesadaran itu, Ikatan Keluarga Alumni UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta (IKASUKA) menyusun agenda kerja lima tahun ke depan melalui catur dharma.
Gagasan tersebut mengemuka dalam Rapat Kerja Pengurus Pusat IKASUKA yang digelar Sabtu (26/9/2026) di Aula Convention Hall Lantai 1 UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Forum ini dihadiri Ketua Presidium Pusat IKASUKA yang juga sebagai Menteri PPPA Arifah Choiri Fauzi, Ketua Dewan Penasihat Ngatawi Al-Zastrow, serta sejumlah alumni yang kini berkiprah di berbagai sektor, di antaranya Anggota Komisi IV DPR RI Hindun Anisa, Wakil Ketua Komisi IX DPR RI Nihayatul Wafiroh, Direktur IT BPJS Kesehatan Ihsanuddin, Rektor UIN Mataram, Prof. Masnun, dan ratusan alumni lainnya.
Ketua Presidium Pusat IKASUKA, Arifah, mengatakan kehadiran para alumni dalam rapat kerja menunjukkan komitmen untuk terus memberikan kontribusi, baik bagi almamater maupun bangsa secara lebih luas. Menurutnya, rapat kerja menjadi pijakan bersama untuk menerjemahkan komitmen tersebut ke dalam program yang dapat dijalankan selama masa kepengurusan.
“Kita akan fokus pada empat hal, yakni penguatan kelembagaan, penguatan jejaring, fundraising, dan penguatan sumber daya manusia,” katanya.
Pada aspek kelembagaan, Arifah mendorong IKASUKA mengaktifkan kembali kepengurusan di tingkat provinsi serta memperkuat kepengurusan kabupaten/kota. Dua kepengurusan provinsi baru telah terbentuk, yakni di Banten dan Maluku Utara, sementara di tingkat kabupaten/kota telah terbentuk 26 kepengurusan.
Agenda berikutnya adalah membangun basis data alumni yang lebih tertata. Database tersebut diproyeksikan menjadi fondasi untuk membaca potensi alumni sekaligus memperkuat jejaring yang telah terbentuk di berbagai sektor.
Ketua Dewan Penasihat IKASUKA, Ngatawi Al-Zastrow, menekankan bahwa seluruh agenda tersebut perlu dijalankan dengan semangat kesetaraan sebagai sesama alumni. Jabatan dan posisi yang melekat dalam profesi masing-masing, menurutnya, tidak boleh menjadi sekat dalam membangun kerja bersama.
Zastrow menyebut empat agenda tersebut sebagai catur dharma pengabdian IKASUKA selama lima tahun kepengurusan. Pertama, penguatan kelembagaan yang solid dan kuat. Kedua, pembangunan jejaring yang luas dan bermanfaat. Ketiga, penguatan sumber daya melalui pendanaan yang terencana. Keempat, peningkatan kualitas sumber daya manusia alumni.
Dalam penguatan kelembagaan, Zastrow mendorong IKASUKA memiliki legal standing sebagai pijakan untuk membangun kerja sama secara formal, penyiapan sekretariat beserta perangkat administratif di kampus UIN Sunan Kalijaga dan kantor perwakilan di Jakarta, serta pengembangan sistem teknologi digital sebagai basis data alumni dan potensi karier mereka.
Pada aspek jejaring, IKASUKA diarahkan untuk membangun kerja sama dengan berbagai pihak. Zastrow menyebut target kerja sama dengan sedikitnya lima kementerian/lembaga, lima perusahaan, serta lima kelompok profesi atau komunitas.
Sementara dalam aspek fundraising, IKASUKA diarahkan mengembangkan skema pendanaan yang lebih berkelanjutan, termasuk gagasan membangun dana abadi IKASUKA dengan target Rp500 juta selama lima tahun kepengurusan. Upaya tersebut juga dilakukan dengan mengkapitalisasi modal sosial yang dimiliki para alumni.
Agenda keempat menyasar peningkatan kapasitas alumni. Sebagai Ketua Dewan Penasihat, Zastrow mengarahkan IKASUKA menargetkan sedikitnya 50 alumni memperoleh beasiswa dan 100 alumni mengikuti pelatihan pengembangan karier selama lima tahun.
Rencana kerja tersebut diterjemahkan ke dalam sejumlah divisi yang akan menjadi mesin pelaksana program IKASUKA. Divisi Organisasi dan Keanggotaan diarahkan pada reaktivasi kepengurusan, pembentukan pengurus daerah dan cabang baru, serta pendataan dan pemetaan alumni.
Sementara Divisi SDM dan Sertifikasi akan memfasilitasi sertifikasi alumni, termasuk membuka akses terhadap pengembangan kompetensi. Divisi Kerja Sama dan Jejaring bertugas membangun kolaborasi dengan berbagai pihak, sedangkan Divisi Kewirausahaan dan Perekonomian diarahkan untuk mempertemukan pelaku usaha alumni serta memfasilitasi kebutuhan permodalan.
Agenda lain mencakup penguatan kompetensi dan promosi dai alumni melalui Divisi Dakwah, pengembangan program beasiswa, pembukaan akses pendidikan dan ekonomi luar negeri, serta penggalangan donasi dan dana abadi melalui Divisi Sosial dan Filantropi.
IKASUKA juga menyiapkan Divisi Informasi dan Teknologi untuk digitalisasi data alumni, Divisi Riset untuk penelitian dan fasilitasi pendanaannya, serta Divisi Karier dan Pengembangan Potensi untuk mengelola database alumni potensial dan mendokumentasikan perjalanan alumni melalui penerbitan buku.
Dua bidang lain yang turut mendapat ruang adalah Media dan Publikasi serta Budaya dan Seni. Dengan struktur tersebut, kerja IKASUKA tidak berhenti pada aktivitas temu alumni, tetapi diarahkan menjadi ekosistem yang menghubungkan pengetahuan, profesi, jejaring, dan peluang kontribusi.
Arifah mengatakan seluruh agenda tersebut pada akhirnya bermuara pada satu tujuan, yaitu membuat keberadaan IKASUKA semakin dirasakan manfaatnya oleh alumni, almamater, dan masyarakat.
Semangat tersebut juga tercermin dalam nilai yang diusung IKASUKA, sebagaimana disampaikan Zastrow, yakni integritas, keilmuan, aksi, sinergi, unggul, kepedulian, dan adaptif. Nilai-nilai tersebut diharapkan menjadi modal bersama untuk membangun kerja kolaboratif lintas profesi dan generasi alumni.
Dengan target dan program yang disusun dalam rapat kerja, IKASUKA mulai menata cara agar alumni dari berbagai angkatan dan profesi dapat saling terhubung. Dari hubungan itulah terbuka kesempatan untuk berbagi pengetahuan, membantu sesama alumni, dan membawa pengabdian yang tumbuh dari UIN Sunan Kalijaga lebih dekat kepada masyarakat.(humassk)