Perkembangan platform digital membuka ruang yang luas bagi generasi muda untuk menyampaikan gagasan keislaman dengan cara yang kreatif, relevan, dan dekat dengan kehidupan sehari-hari. Potensi tersebut menjadi perhatian dalam Roadshow Program Sejuta Mimbar bertajuk “Generasi Muda sebagai Penerus Dakwah Berbasis Platform Digital” yang berlangsung di Program Studi Ilmu Komunikasi, FISHUM UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Selasa (29/9/2026).
Sekitar 200 mahasiswa mengikuti kegiatan yang merupakan kolaborasi BPKH, BRIN, dan Yayasan Harika untuk Kemanusiaan tersebut. Selain memperkenalkan Program Sejuta Mimbar, kegiatan juga membekali mahasiswa dengan wawasan mengenai produksi konten digital yang mampu menjangkau audiens secara lebih luas.
Sesi “Mengikhtiarkan Haji Muda” yang disampaikan Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, Dr. Banu Muhammad, menjelaskan bahwa perencanaan haji berkaitan erat dengan bagaimana seseorang membangun pola pikir dan tujuan keuangan sejak dini.
Mahasiswa diajak mulai menyusun financial goals dan membangun kebiasaan menyisihkan penghasilan atau uang yang dimiliki untuk tujuan jangka panjang. Prinsip yang ditekankan adalah “sisihkan dulu, bukan sisakan”, sehingga persiapan haji tidak berhenti pada niat, tetapi diterjemahkan menjadi langkah perencanaan yang konkret.
Dalam sesi tersebut juga dibahas pentingnya memperoleh nomor porsi haji sebagai bagian dari proses perencanaan keberangkatan. Dengan masa tunggu haji yang panjang di berbagai daerah, persiapan sejak usia muda dinilai menjadi bagian penting dari perencanaan ibadah.
Direktur Harika Foundation, Syuhelmaidi Syukur, Ak., CA., menjelaskan bahwa Program Sejuta Mimbar dikembangkan untuk membangun ekosistem dakwah digital yang melibatkan generasi muda. Program tersebut mendorong lahirnya konten-konten dakwah yang tidak hanya informatif, tetapi juga sesuai dengan karakter masyarakat digital.
Generasi Z dan milenial menjadi kelompok strategis dalam gerakan tersebut karena memiliki kedekatan dengan teknologi digital dan media sosial. Karena itu, mahasiswa tidak hanya diposisikan sebagai pengguna media digital, tetapi juga sebagai produsen pesan yang mampu memberikan dampak positif bagi masyarakat.
Perspektif tersebut diperdalam melalui sesi Sharing Session & Workshop Konten bersama Tito Ikhsan Rozak dari Sosplan Creative. Ia memperkenalkan sejumlah karakter konten yang mampu menarik perhatian audiens, antara lain relevan dengan kebutuhan dan keseharian audiens, memiliki sentuhan personal, mampu membangun perhatian sejak awal, serta menyampaikan pesan secara fokus dan to the point.
Mahasiswa juga diajak melihat konten digital bukan semata sebagai unggahan di media sosial, melainkan sebagai aset yang dapat membangun nilai diri, pengaruh, dan peluang ekonomi. Konsistensi menjadi salah satu faktor penting agar aktivitas produksi konten dapat berkembang menjadi personal intellectual property dan memiliki nilai jangka panjang.
Bagi mahasiswa Ilmu Komunikasi, wawasan tersebut sekaligus memperlihatkan bagaimana kompetensi komunikasi dapat diterapkan dalam ekosistem digital. Kemampuan memahami audiens, menyusun pesan, membangun storytelling, serta memilih pendekatan komunikasi menjadi modal penting dalam menghasilkan konten yang efektif.
Sementara itu, Peneliti BRIN sekaligus salah satu inisiator dan Ketua Gerakan Dai Sejuta Mimbar, Rizky Prayogo Ramadhan, S.E., M.Si., memperkenalkan gerakan tersebut sebagai ruang bagi generasi muda untuk terlibat dalam gerakan dakwah berbasis digital.
Mahasiswa juga mendapatkan informasi mengenai lomba video kreatif dengan tema seputar “Haji dan Kehidupan Seorang Muslim”. Kompetisi tersebut terbuka bagi mahasiswa dan umum. Peserta didorong mengemas isu haji dan kehidupan Muslim dalam format video yang sesuai dengan karakter media digital.
Melalui kegiatan ini, UIN Sunan Kalijaga menunjukkan perannya sebagai ruang akademik yang membuka perjumpaan antara ilmu komunikasi, nilai-nilai keislaman, kreativitas, dan perkembangan teknologi. Mahasiswa tidak hanya belajar memahami media, tetapi juga didorong menggunakan kemampuan komunikasinya untuk menghadirkan pesan keagamaan yang kontekstual dan berdampak di ruang digital.
Penguatan kapasitas tersebut sejalan dengan karakter pendidikan UIN Sunan Kalijaga yang mengembangkan keilmuan sekaligus mendorong mahasiswa untuk merespons perubahan sosial dan teknologi. Dari ruang kelas hingga platform digital, mahasiswa memiliki kesempatan untuk membawa pengetahuan dan nilai-nilai yang dipelajarinya agar hadir di tengah masyarakat secara lebih luas. (humassk)