Menurutnya, keberhasilan pendidikan Islam pada akhirnya tidak hanya diukur dari pencapaian akademik, tetapi dari siapa yang kemudian menjadi para peserta didik tersebut. Pendidikan perlu membentuk generasi yang mampu memperjuangkan keadilan, mengenali martabat manusia, membangun jembatan di tengah perbedaan, dan memberikan kontribusi kepada masyarakat.
Ia menutup paparannya dengan membedakan optimisme dan harapan. Optimisme mengandaikan bahwa segala sesuatu akan baik-baik saja, sedangkan harapan menyadari bahwa masih ada pekerjaan yang harus dilakukan dan pekerjaan tersebut layak diperjuangkan.
Pembicara berikutnya, Prof. Dr. H. Sutrisno dari UIN Sunan Kalijaga, mengangkat tantangan pendidikan Islam di Indonesia. Ia menggambarkan Indonesia sebagai negara dengan skala pendidikan Islam yang sangat besar, ditandai oleh jumlah umat Muslim, madrasah, pesantren, dan perguruan tinggi keagamaan Islam yang besar.
Namun, skala tersebut perlu diikuti dengan penguatan kualitas dan kontribusi nyata terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Salah satu tantangan yang disorot adalah kecenderungan pendidikan yang terlalu menekankan hafalan tanpa cukup memberikan ruang bagi tadabbur, refleksi, kemampuan berpikir kritis, dan pengembangan ilmu pengetahuan. Ia juga menyoroti dikotomi ilmu serta orientasi institusi pendidikan yang terkadang lebih berfokus pada pencapaian metrik akademik daripada menghasilkan inovasi yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
Dalam menghadapi visi Indonesia Emas 2045, pendidikan Islam perlu mengambil peran dalam membangun ekonomi berbasis pengetahuan. Hal ini menjadi semakin penting di tengah tiga disrupsi besar, yaitu perubahan iklim, perkembangan teknologi digital, dan kerentanan terhadap intoleransi.
Sebagai tawaran solusi, Sutrisno memperkenalkan kerangka STARS, yang mencakup Spiritual Ethics, Technology and Tadabbur, Adalah/Wasathiyah, Rahmah (Eco-Theology), serta Sustainability Stewardship.
Kerangka tersebut menempatkan pendidikan Islam sebagai ruang untuk mengintegrasikan nilai spiritual, teknologi, keadilan, moderasi beragama, kepedulian ekologis, dan keberlanjutan.
Menurutnya, Indonesia memiliki peluang untuk menawarkan model pendidikan Islam yang menjadi jalan tengah antara model sekuler total dan model konservatif tekstual. Kekuatan tersebut dapat dikembangkan melalui metodologi yang terbuka, kolaboratif, kontekstual, dan tetap berakar pada tradisi keagamaan.
Sesi panel kedua yang dimoderatori Nunun Indrasari, M.Pd., menghadirkan Prof. Ahmad Omar Chapakia dari Fatorri University Thailand dan Syeikh A.M. Mabruk Al-Husaini dari Al-Azhar University, Mesir.
Dalam pemaparannya, Syeikh A.M. Mabruk Al-Husaini menekankan bahwa pendidikan Islam perlu bergerak dari kerangka teoretis tradisional menuju model pendidikan berkelanjutan yang mampu membentuk pribadi yang seimbang: memiliki fondasi iman yang kuat, menguasai teknologi, dan bertanggung jawab secara moral terhadap berbagai persoalan global.
Menurutnya, terdapat kesenjangan antara kurikulum pendidikan Islam dan realitas generasi digital. Peserta didik kini berhadapan dengan kecerdasan artifisial, metaverse, perkembangan teknologi, persoalan lingkungan, hingga perubahan ekonomi yang membutuhkan respons pendidikan yang lebih adaptif.
Ia menawarkan empat poros utama, yaitu keberlanjutan dalam pemikiran pendidikan Islam, integrasi iman dan teknologi, respons terhadap tantangan global, serta langkah implementasi pendidikan yang lebih interaktif dan kontekstual.
Dalam perspektif Islam, keberlanjutan dapat diletakkan pada prinsip istikhlaf, manusia sebagai khalifah yang bertanggung jawab memakmurkan bumi, serta prinsip wasathiyyah yang menekankan keseimbangan antara dimensi spiritual dan material serta kepentingan antargenerasi.
Teknologi, lanjutnya, perlu ditempatkan sebagai sarana, bukan tujuan. Pemanfaatan AI generatif, augmented reality, dan berbagai platform interaktif dapat digunakan untuk memperkuat pembelajaran keislaman, dengan tetap dibingkai oleh etika dan prinsip maqashid syariah.
Pendidikan Islam juga perlu merespons isu lingkungan melalui penguatan fikih lingkungan, penghematan sumber daya, penghijauan, kepedulian terhadap hewan, serta pengurangan konsumsi. Pada saat yang sama, peserta didik perlu memiliki kemampuan kritis dalam menghadapi arus budaya global tanpa kehilangan keterbukaan terhadap nilai-nilai kemanusiaan bersama.
KAICIE 2026 pada akhirnya menegaskan bahwa masa depan pendidikan Islam tidak dapat dipisahkan dari perkembangan teknologi dan dinamika global. Namun, teknologi juga tidak dapat menjadi satu-satunya jawaban.
Pendidikan Islam dituntut tetap menghadirkan dimensi etika, spiritualitas, kemanusiaan, keadilan, dan keberlanjutan dalam proses pendidikan. Karena itu, diperlukan kolaborasi antara ulama, akademisi, pendidik, pakar teknologi, keluarga, sekolah, masyarakat, dan berbagai pemangku kepentingan.
Sejumlah rekomendasi yang mengemuka dalam konferensi antara lain pembentukan pusat riset bersama antara ulama syariah, pakar teknologi, dan pakar pendidikan; penguatan pendidikan lingkungan dan etika digital dalam kurikulum pendidikan Islam; serta pengembangan inovasi teknologi beretika, termasuk perangkat lunak dan gim edukatif yang mendukung nilai-nilai Islam.
Melalui KAICIE 2026, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta memperkuat perannya sebagai ruang akademik yang mempertemukan tradisi keilmuan Islam dengan perkembangan teknologi dan tantangan global. Forum internasional ini sekaligus menunjukkan komitmen UIN Sunan Kalijaga untuk terus mendorong pendidikan Islam yang tidak hanya adaptif terhadap perubahan zaman, tetapi juga mampu memberikan arah bagi terbentuknya generasi yang beriman, kritis, kreatif, beretika, dan berkontribusi bagi keberlanjutan masa depan.(humassk)