UIN SUKA

Senin, 09 Februari 2026 10:26:00 WIB

0

SEKOLAH RELAWAN Difabel: Di Mana NIAT BAIK SAJA Selalu TIDAK CUKUP (Dr. Asep Jahidin, M.Si.Koordinator PLD UINSunan Kalijaga Yogyakarta)

Tadarus Difabel (Minggu 70)

Diyakini bahwa manusia berbuat salah tidak selalu karena niat buruk, tapi seringkali disebabkan oleh ketidaktahuan. Sebuah gagasan yang dalam filsafat etika dikenal sebagai Socratic intellectualism_ yang menempatkan pengetahuan sebagai syarat etis bagi tindakan yang adil... Karena itu pengetahuan tidak hanya sekadar alat kognitif, tetapi jalan menuju amal shaleh. Berusaha mengetahui yang baik, berarti sedang menapaki jalan untuk berbuat benar. Inilah gagasan utama Sekolah Relawan Pusat Layanan Difabel (PLD).

Pagi itu, Sabtu yang cerah, saya menyaksikan puluhan relawan PLD berkumpul. Mereka datang berbekal niat baik,* kepedulian, dan semangat membantu. Mereka semua telah memahami (karena saya telah memberi tahu mereka) bahwa bagi relawan PLD “niat baik saja tidak cukup… tanpa dibarengi pengetahuan mengenai cara berbuat baik…”

Di PLD, niat baik sering kali berlimpah. Empati mudah hadir. Namun justru di titik itulah risiko terbesar muncul, yaitu ketika kepedulian tidak disertai pengetahuan, dan Ketika empati tidak dibingkai oleh kesadaran etik

Kira-kira begini. Tanpa pengetahuan dan keterampilan berbuat baik, maka niat baik justru malah bisa berpotensi terpeleset jadi melukai atau merendahkan… Sekarang pertanyaan para relawan PLD itu telah berkembang bukan sekadar “apakah mereka ingin membantu”, tetapi “bagaimana cara mereka membantu tanpa melukai…”

Dalam studi kesejahteraan sosial dan disabilitas,_kita belajar bahwa niat baik tidak selalu identik dengan tindakan yang benar. Bantuan bisa berubah menjadi dominasi. Perlindungan bisa menjelma menjadi pengerdilan. Bahkan empati (jika tidak disadari) dapat memproduksi relasi kuasa yang timpang, di mana relawan sebagai penyelamat, difabel sebagai objek kebaikan padahal tidak seperti iniseharusnya…

Di sinilah Sekolah Relawan menemukan maknanya. Ini bukan sekadar pelatihan teknis, tetapi juga ruang tadarus kesadaran. Sebuah proses belajar untuk meruntuhkan cara pandang lama, membongkar asumsi normalitas, dan menata ulang relasi antara yang membantu dan yang dibantu.

Sekolah Relawan ini mengajarkan bahwa difabel bukan masalah yang harus diselesaikan, bukan pula ladang amal untuk memupuk rasa baik diri sendiri. Difabel adalah subjek penuh (dengan hak, martabat, pengalaman, dan suara). Pendampingan yang adil dimulai dari pengakuan bahwa mereka ada sebagaimana kita. Sebuah pertempuran senyap antara charity model dan rights-based approach.

Dalam Sekolah Relawan yang berlangsung selama dua hari itu,  para relawan juga mempelajari bahwa bahasa bisa menyembuhkan sekaligus melukai. Sikap bisa memerdekakan atau justru membelenggu. Bahkan kehadiran yang tampak sederhana pun membutuhkan kesadaran, apakah para relawan PLD ini hadir untuk mendengar, atau hanya ingin didengar.

Tadarus ini mengajak kita semua merenung lebih jauh berapa banyak ketidakadilan lahir dari ketidaktahuan yang terlenakan oleh niat baik?. Berapa banyak difabel yang terluka oleh bantuan yang tidak pernah dimintakan izin kepada mereka? (misalnya tiba-tiba kita mendorongkan kursi roda atau langsung menuntun difabel netra tanpa ditanya apakah mereka butuh bantuan atau tidak… dan seterusnya)

Maka, Sekolah Relawan PLD menjelma sebagai ruang di mana niat baik diuji, dipertajam, dan diarahkan di PLD, hal ini telah menjadi substansi sejak awal, bahwa…

Dengan pengetahuan, niat baik menemukan arahnya.

Dengan kesadaran, bantuan berubah menjadi keberpihakan.

dan dengan keberpihakan, kita tidak lagi sekadar membantu…

ya benar, _*kita sedang berjalan bersama menuju keadilan…