Tadarus Difabel : Minggu 69
Siang saat lapar, saya sedang duduk di ruangan kantor Pusat Layanan Difabel... tiba-tiba Neil, seorang ahli disabilitas Jerman datang bergegas… begitu masuk pintu ruangan, dia langsung berseru : “pak! saya tadi baru dari perpus UIN, saya ingin memahami bagaimana orang Jawa memandang dan memahami disabilitas, selama ini saya hanya memahami bagaimana orang Jerman memandang disabilitas”_ ucap Neil setengah bernafas karena sangat bersemangat, sambil mengeluarkan buku-buku dari dalam tas ranselnya... dan kemudian menjejerkan buku itu di depan saya...
Saya perhatikan satu persatu, ada lima buku. Semuanya tentang Jawa:
Spiritualisme Jawa.
Tradisi Adat Jawa.
Tradisi Perkawinan Masyarakat Kejawen.
Simbolisme Jawa.
Tradisi-Tradisi Adiluhung Para Leluhur Jawa, (saya hafal judul-judul buku ini karena tiga hari kemudian saya kemudian meminta Neil untuk memotret buku-buku yang dia bawa itu agar saya bisa tulis di tadarus ini). Neil sudah empat bulanan ini magang di kantor Pusat Layanan Difabel sebagai ahli disabilitas, terutama disabilitas mental dan intelektual…
Saya membiarkan buku-buku yang dipamerkan Neil itu, tergeletak di meja saya tanpa segera menyentuhnya… karena tiba-tiba saja saya menjadi teringat pada masa lalu saat kuliah S1, saat berburu buku bersama para sahabat dulu... dan entah kenapa rasa bahagia yang dirasakan saat dulu berburu dan membaca buku itu, tiba-tiba menyapa kembali siang itu…saya bilang ke Neil: “ada lagi satu buku yang mungkin anda bisa cari, judulnya "Etika Jawa" tulisan _Frans Magnis Suseno”_, saya pernah membacanya dulu saat kuliah S1... _(entah buku itu masih ada atau tidak)_
Suasana berburu buku di perpus karena terdorong ingin memahami sesuatu perkara, seperti yang sedang dilakukan Neil ini *sudah sangat jarang saya lihat pada mahasiswa sekarang…* bahkan, jarang juga terlihat pada para dosennya _(ya, sebagai dosen, saya juga merasa sering kehilangan momentum romantisme seperti ini)_ entah *jaman yang sudah berubah* atau mungkin, karena sifat malas… tapi saya melihat ke dua alasan itu tidak berlaku bagi Neil
Saya tahu, mungkin yang sedang dicari Neil tidak sepenuhnya ada di halaman-halaman buku itu. Lagi pula pasti ada sesuatu yang tidak bisa langsung ditemukan lewat bacaan, seberapa tebal pun buku yang dibuka, kehadiran langsung di lapangan, kehidupan orang Jawa, adalah juga “buku” yang harus dirasakan...
Kegelisahan Neil terasa jujur... Ia datang dari (Jerman) dunia yang rapi dengan sistem, istilah, dan ukuran. Dunia yang terbiasa menjelaskan disabilitas melalui kebijakan, layanan, dan indikator keberhasilan. Tapi siang itu, kegelisahan Neil nampaknya mulai bergerak ke arah lain, ke arah pertanyaan tentang makna,tentang cara hidup, tentang bagaimana sebuah masyarakat memandang manusia apa adanya…
Neil sedang mencoba melampaui hegemoni tradisi keilmuan barat tentang disabilitas, Neil mencari makna dengan caranya sendiri, meski dia sendiri adalah orang barat, tapi ia tumbuh di Indonesia secara budaya...
Saya lalu menyadari, bahwa percakapan ini tidak cukup dilakukan di ruangan kantor. Pemahaman tentang Jawa tidak cukup lahir dari meja kerja, tetapi juga dari kehidupan yang dijalani sehari-hari. Dari cara orang Jawa duduk di teras, dari bagaimana keluarga merawat anggotanya, dari kebiasaan kecil yang tidak pernah ditulis tetapi terus diwariskan.
Di sanalah, dalam kehidupan yang berjalan pelan itu, disabilitas mungkin tidak selalu diberi nama, juga tidak ditempatkan sebagai pusat perhatian, tetapi juga tidak disingkirkan, dan hadir sebagai bagian dari keseharian yang diterima, dijaga, dan disesuaikan bersama, begitulah kiranya orang Jawa menjalani disabilitas, tidak sekedar cukup memahami kondisi fisikya ini semua masih terus didalami di lapangan…
Siang itu, saya lanjut bercengkrama dengan Neil, mencoba memahami bahwa tumpukan buku di meja hanyalah pintu masuk… Kami memahami bahwa. Perjalanan sebenarnya adalah belajar mendengarkan, kehidupan orang Jawa, tanpa tergesa, tanpa memaksa, dan tanpa membawa jawaban lebih dulu… sebelum mendengarkan dengan hormat suara kenyataan buku-buku itu akan menjadi teman sejati di lapangan…_
Pada Suatu Ketika…
Yogyakarta, 2 Februari 2026_Mencari PEMAKNAAN DISABILITAS dalam KEHIDUPAN ORANG JAWA