Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Ramadhan tahun ini adalah yang pertama bagi saya di Turki. Perasaan saya sangat campur aduk, antara kebahagiaan dan rasa terharu bisa merayakan bulan suci ini bersama saudara-saudara Muslim di negeri yang kaya akan sejarah dan budaya Islam. Namun, di sisi lain, ada juga rasa rindu yang mendalam karena harus berpisah sementara dari keluarga tercinta di tanah air. Momen ini sangat berarti, karena saya dapat merasakan langsung bagaimana umat Muslim di Turki menjalankan ibadah puasa dengan penuh khusyuk dan makna yang mendalam. Saya merasa sangat bersyukur bisa melaksanakan ibadah puasa di negara yang memiliki sejarah panjang dalam peradaban Islam, dan tentunya, saya merasa sangat diberkahi.
Salah satu hal yang sangat menyentuh hati saya adalah semangat luar biasa masyarakat Turki dalam menyambut bulan Ramadhan. Tradisi mereka dalam menghias masjid dengan ornamen-ornamen indah untuk menyambut kedatangan bulan suci ini sangat mencolok. Mereka menyebut tradisi ini dengan nama “Ramazan Süslemeleri,” yang mencerminkan kegembiraan dan keseriusan mereka dalam menyambut bulan penuh berkah ini. Masjid-masjid di Turki dihiasi dengan “mahya” (lampu-lampu dekoratif yang indah) dan dekorasi lainnya yang menciptakan atmosfer yang begitu semarak. Bahkan, tidak hanya di masjid, tetapi beberapa area publik juga dihias dengan sangat meriah untuk menumbuhkan semangat suci Ramadhan.
Terkait dengan pengalaman saya, ada satu perbedaan yang cukup mencolok dan menarik perhatian saya, yaitu durasi puasa antara Turki dan Indonesia. Di Indonesia, menjelang Idul Fitri, waktu berbuka puasa semakin cepat, sementara waktu sahur semakin mundur. Namun, di Turki, semakin mendekati Idul Fitri, waktu berbuka semakin mundur, sementara waktu sahur semakin cepat. Meskipun demikian, saya tetap merasa bersyukur karena Ramadhan kali ini jatuh pada musim dingin. Jika kami berada di musim panas, durasi puasa bisa jauh lebih panjang dan lebih ekstrem. Walaupun waktu berpuasa terasa lebih lama, semua itu memberikan kesempatan yang lebih luas untuk merenung, beribadah, dan lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Penyambutan Ramadhan di Turki terasa sangat istimewa. Saya menyaksikan bagaimana orang tua dengan penuh kasih sayang membawa anak-anak mereka ke masjid untuk mengikuti berbagai kegiatan Ramadhan, seperti shalat Tarawih, tadarus Al-Qur’an, dan kajian agama. Yang paling menarik bagi saya adalah bagaimana anak-anak ini dijaga oleh relawan selama shalat Tarawih berlangsung. Mereka ditempatkan di ruang yang aman di mana mereka bisa melakukan aktivitas positif, seperti menggambar atau mewarnai. Hal ini bertujuan agar mereka tetap merasakan semangat Ramadhan, tanpa mengganggu jamaah yang sedang beribadah. Luar biasa bagaimana Turki menjaga generasi muda untuk tetap terlibat dalam kegiatan keagamaan sejak usia dini.
Berbicara mengenai Ramadhan di Turki, ada satu tradisi unik yang sangat menarik perhatian saya, yaitu cara menandai waktu berbuka puasa. Jika di Indonesia kita terbiasa mendengar suara bedug sebagai tanda waktu berbuka puasa, maka di Turki, tradisinya sangat berbeda dan bahkan mendebarkan. Saat waktu Maghrib tiba, beberapa prajurit menembakkan meriam ke udara sebagai tanda waktu berbuka. Suara meriam yang menggelegar ini menjadi momen yang sangat dinantikan oleh setiap orang yang berpuasa. Rasanya ada sensasi tersendiri, lebih dari sekadar menunggu waktu berbuka, tetapi juga sebagai simbol bahwa kita telah melewati hari yang penuh dengan kesabaran dan pengabdian.
Seiring dengan itu, saya juga merasakan perbedaan dalam istilah yang kita kenal di Indonesia, yaitu "ngabuburit," yang merujuk pada waktu yang dihabiskan untuk menunggu waktu berbuka puasa. Namun, di Turki, istilah ini agak sulit ditemukan. Di sini, orang-orang biasanya datang ke tempat berbuka 1-2 jam sebelumnya. Mereka berkumpul, menikmati kebersamaan, berdoa, dan mempersiapkan diri untuk berbuka puasa bersama. Saya merasakan suasana yang sangat hangat dan intim di antara sesama, sangat berbeda dengan kebiasaan “ngabuburit” di Indonesia, yang lebih sering menghabiskan waktu di luar rumah dengan berbagai aktivitas. Selain itu, saya juga menikmati hidangan khas Turki yang sangat lezat selama bulan Ramadhan, seperti pide (roti khas Turki) yang disajikan dengan berbagai topping, dan baklava sebagai makanan penutup. Makanan ini tidak hanya menggugah selera, tetapi juga menjadi bagian penting dari kebersamaan saat berbuka puasa.
Hal lain yang sangat berkesan bagi saya adalah semangat berbagi yang luar biasa di Turki. Sama seperti di Indonesia, di Turki, pemerintah dan kampus menyediakan tenda-tenda di sebelah masjid untuk melayani berbuka puasa gratis bagi seluruh warga. Di kampus saya, Sakarya University, mahasiswa diberikan Ifthar gratis selama sebulan penuh. Menu yang disajikan sangat luar biasa dan memenuhi standar nutrisi yang dibutuhkan untuk berbuka puasa. Mulai dari kurma, sup, dan roti sebagai makanan pembuka, nasi, daging, yogurt, manisan, hingga air putih. Bahkan, jika ada yang masih merasa lapar, kami bisa menambah porsi makanan. Ini adalah bentuk kepedulian kampus terhadap mahasiswanya, sebuah amal yang sangat berarti bagi kami yang sedang berpuasa jauh dari keluarga.
Lebih jauh lagi, selama Ramadhan di Turki, semangat berderma dalam rangka mensucikan harta (diluar Zakat Fitrah) meningkat signifikan berkali-kali lipat di kalangan masyarakat. Banyak orang yang secara sukarela memberikan sedekah kepada yang membutuhkan, termasuk mahasiswa dan yayasan sosial. Masyarakat Turki memandang Ramadhan sebagai waktu yang sangat baik untuk memperbanyak amal, terutama dalam berbagi kepada mereka yang kurang beruntung. Sebagai contoh, saya mendengar dari salah satu mahasiswa Turki yang menceritakan bahwa selama Ramadhan, orang kaya sering pergi ke pasar untuk membayar hutang-hutang orang miskin secara anonim. Tradisi ini adalah salah satu warisan budaya Ottoman yang masih hidup hingga kini, dan merupakan bentuk amal yang sangat dihargai oleh masyarakat di sini. Orang kaya tersebut tidak hanya membantu atau menyelamatkan pembeli yang berhutang, tetapi juga membantu penjual untuk segera mendapatkan haknya, sebuah tindakan yang sangat luar biasa.
Selain itu, ada warisan budaya Ottoman lainnya yang berkaitan dengan isu ekonomi yang masih terasa di Turki, yaitu larangan untuk menaikkan harga barang selama bulan Ramadhan. Pada masa Ottoman, pemerintah sangat ketat mengatur harga barang kebutuhan pokok, terutama selama bulan suci Ramadhan. Para pedagang diharuskan menjual barang dagangannya dengan harga yang lebih terjangkau, bahkan jika memungkinkan, harga barang tersebut harus lebih murah dari biasanya. Hal ini dilakukan sebagai bentuk solidaritas dan untuk membantu masyarakat, terutama yang kurang mampu, agar bisa menjalankan ibadah puasa dengan tenang dan nyaman tanpa terbebani oleh harga yang melonjak. Pemerintah Ottoman mengatur hal tersebut karena pada masa itu, saat Ramadhan dan menjelang Idul Fitri, harga barang cenderung naik akibat permintaan yang tinggi, suatu fenomena yang disebut Demand-Full Inflation, yang sifatnya musiman. Meskipun saat ini tidak ada peraturan resmi yang mengharuskan harga tetap, semangat ini masih bisa dilihat di beberapa pasar di Turki, di mana pedagang dengan sukarela menjaga harga barang tetap stabil atau bahkan lebih rendah selama bulan Ramadhan, atau memberikan barang tersebut secara gratis sebagai bentuk sedekah mereka, Wallahu A'lam Bishawwaab.
Demikianlah beberapa pengalaman saya selama menjalani Ramadhan di Turki. Meskipun ada beberapa perbedaan dalam cara merayakan Ramadhan di Indonesia, namun esensi dari Ramadhan tetap sama, yaitu untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT dan memperbanyak amal. Semoga pengalaman ini dapat memberikan kita semua inspirasi dan semangat dalam menjalani bulan yang penuh berkah ini. Terima kasih atas perhatian yang diberikan, semoga Allah SWT senantiasa memberikan kemudahan dan keberkahan bagi kita semua.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Ucapan Terima Kasih (Narasumber yang mengkonfirmasi tulisan penulis):
Zöhrenur Samat
Mahasiswa Sarjana, Departemen Psikologi, Fakultas Ilmu Kemanusiaan dan Ilmu
Sosial, Universitas Sakarya, Turki
Mahasiswa Sarjana, Departemen Ekonomi dan Keuangan Islam, Fakultas Ilmu Politik, Universitas Sakarya, Turki