UIN SUKA

Minggu, 22 Maret 2026 14:18:00 WIB

0

Antara asal kata, penggunaan bahasa, dan pergeseran makna (Prof. Dr. Tulus Mustofa, Lc. MA., Guru Besar FITK UIN Sunan Kalijaga)

Di tengah masyarakat Muslim, ungkapan bahwa “Idul Fitri adalah kembali kepada fitrah (kesucian)” sangat populer. 

Ungkapan ini memiliki daya tarik spiritual yang kuat, namun jika ditinjau dari sudut pandang bahasa Arab (lughah) dan ilmu sharaf, pemahaman tersebut perlu diluruskan agar tidak terjadi kekeliruan dalam memahami istilah keagamaan.

Asal kata “عيد” dan penggunaannya

Kata عِيد (ʿīd) berasal dari akar:

«عاد – يعود»

yang berarti kembali atau berulang. Oleh karena itu, para ulama bahasa mendefinisikan:

«العيد ما يعود ويتكرر»

yakni sesuatu yang datang kembali dan berulang secara berkala.

Dengan demikian, عيد (ʿīd) tidak berarti “kembali kepada sesuatu”, melainkan “sesuatu yang kembali (secara waktu)”. Maknanya bersifat temporal (berulang), bukan arah (menuju sesuatu).

Untuk mempertegas makna ini, kata عيد (ʿīd) digunakan secara luas dalam berbagai konteks perayaan, seperti:

- عِيدُ الفِطْر 

- (ʿīdu al-fiṭr): hari raya berbuka setelah Ramadan

- عِيدُ الأَضْحَى

-  (ʿīdu al-aḍḥā): hari raya kurban

- عِيدُ المِيلاد 

- (ʿīdu al-mīlād): ulang tahun (hari kelahiran yang berulang setiap tahun)

- عِيدُ الأُمّ 

- (ʿīdu al-umm): hari ibu

- عِيدُ الاستقلال 

- (ʿīdu al-istiqlāl): hari kemerdekaan

Keseluruhan contoh ini menunjukkan bahwa kata عيد secara konsisten digunakan untuk sesuatu yang berulang, bukan “kembali kepada makna tertentu”.

Makna “الفطر”

Kata الفِطْر (al-fiṭr) berasal dari:

«فطر – يفطر»

yang bermakna:

- membuka

- berbuka

- mengakhiri puasa

Dengan demikian, secara bahasa:

«عِيدُ الفِطْر 

(ʿīdu al-fiṭr) berarti hari berbuka setelah menyelesaikan puasa Ramadan.»

Makna ini bersifat lughawi dan langsung, tanpa perlu penafsiran tambahan.

Letak kekeliruan dalam pemahaman populer

Pemahaman bahwa 

“عيد الفطر = العودة إلى الفطرة” 

muncul dari dua kekeliruan utama:

1. Mengartikan “عيد” sebagai “kembali kepada…”

   Padahal makna yang benar adalah “berulang” (kembali secara waktu).

2. Menyamakan “الفطر” dengan “الفطرة”

Padahal:

   - الفِطْر 

(al-fiṭr) = berbuka

   - الفِطْرَة 

(al-fiṭrah) = keadaan asal manusia (kesucian)

Kedua kesalahan ini melahirkan makna yang tidak tepat secara bahasa, meskipun terdengar indah secara spiritual.

Antara makna lughawi dan makna maknawi

Meski demikian, ungkapan “kembali ke fitrah” tetap dapat dipahami dalam kerangka makna maknawi (spiritual/edukatif). Ramadan adalah bulan penyucian jiwa, sehingga setelah menjalani ibadah puasa, seorang Muslim diharapkan kembali kepada kondisi yang lebih bersih dan dekat kepada Allah.

Namun penting ditegaskan bahwa:

«ini adalah makna tarbawi, bukan makna lughawi.»

Formulasi yang lebih tepat adalah:

«عِيدُ الفِطْر يومٌ يعود كل سنة، ويقع فيه الفطر بعد الصيام، ويُرجى فيه رجوع العبد إلى نقاء فطرته معنًى لا لفظًا.»

"Iedul fithri adalah hari yang selalu kembali datang setiap tahun,hari itu hari tidak lagi berpuasa setelah puasa satu bulan, diharapkan pada hari itu seseorang kembali kepada kebersihan fitrahnya secara makna bukan secara harfiyah"

Konsistensi makna dalam istilah lain

Jika kata عيد dimaknai “kembali kepada…”, maka akan muncul inkonsistensi:

- عِيدُ الفِطْر 

- → kembali ke fitrah

- عِيدُ الأَضْحَى 

- (ʿīdu al-aḍḥā) → kembali ke kurban (?)

Hal ini tidak logis secara bahasa, sehingga semakin menegaskan bahwa makna asli عيد adalah “yang berulang”, bukan “kembali kepada”.

Penutup

Pemahaman yang tepat terhadap istilah bahasa Arab merupakan bagian penting dalam menjaga ketelitian ilmiah dalam studi Islam. Dalam hal ini dapat disimpulkan:

- عِيد

- (ʿīd) berarti sesuatu yang berulang

- الفِطْر

-  (al-fiṭr) berarti berbuka

- Ungkapan “kembali ke fitrah” adalah makna spiritual, bukan makna bahasa

Dengan membedakan antara makna lughawi dan makna maknawi, kita dapat menjaga keseimbangan antara ketepatan ilmiah dan kedalaman spiritual dalam memahami ajaran Islam.

والله أعلم بالصواب