Tadarus Difabel Minggu ke-95
Setelah hampir oleng menempuh tanjakan panjang yang terjal dan berliku, akhirnya kami tiba di sebuah tempat di puncak perbukitan. Orang-orang di sekitar menyebutnya Song Hill. Udaranya sejuk. Anginnya pelan... Pokoknya enak auranya
Di bukit itulah berdiri Vila Song Hill tempat peristirahatan Kiai Haji. Abadi Mustajab pengasuh Pesantren Roudlotun Nasyiin Ash-Shiddiiqiyyah. kompleks Pesantrennya sendiri terletak di bawah puncak bukit. Nanti, saat kami berpamitan pulang, kami akan bertemu dengan Pak Yai ketika beliau sedang mengaji dan mengajar para santri, termasuk puluhan santri difabel yang hidup bersama, berbaur dengan ratusan santri lainnya di pesantren tersebut.
Tapi Kita kembali ke cerita Song Hill terlebih dahulu .
"Pak Asep, Ke sini, Pak Asep !..."
Seruan singkat Ketua LPPM, Gus Qoyyum, terdengar jelas memanggil saat saya bersama pak Mufid, Korpus Penelitian, sedang menikmati pemandangan tinggi dari arah mushala...
Saya datang menghampiri, lalu dipertemukan dengan Pak Yai Abadi Mustajab, demikian Gus Qoyyum memperkenalkan nama beliau kepada saya. Ternyata beliau adalah pemilik vila Song Hill sekaligus pengasuh pesantren Roudlotun Nasyiin. Setelah kenalan singkat itu, kami pun larut dalam diskusi, bertukar kisah dan pemikiran...
Tidak saya sangka, di tempat itu saya bertemu dengan seorang kiai yang mengasuh puluhan santri difabel bersama ratusan santri lainnya.
Padahal tujuan inti kami datang ke Rembang sebenarnya adalah untuk monitoring pelaksanaan KKN 120 UIN Suka, tetapi di sela-sela jadwal kunjungan KKN itu, kami, dengan seksama dalam waktu singkat memutuskan belok kanan, mampir berjalan kaki, muncak ke Song Hill ini, karena telah tergoda oleh cerita para mahasiswa KKN tentang daya tarik bukit ini, dan takdir Tuhan ternyata mempertemukan kami dengan pemiliknya, Pak Yai Abadi itu... yang kebetulan sedang berada di lokasi
Beliau berbicara dengan sangat sederhana. Namun, dari beberapa kalimat yang diucapkannya, saya merasa menemukan sesuatu yang begitu bertenaga sekaligus sangat mendasar tentang pendidikan inklusif. Yang lebih mengejutkan, apa yang beliau sampaikan begitu dekat dengan apa yang selama ini saya pikirkan dan saya lakukan dalam mendampingi para mahasiswa difabel.
Pak Yai Abadi mengatakan bahwa ada dua syarat utama menuju keberhasilan inklusi yang selama ini beliau pegang dalam mengasuh para santri difabel di pesantren.
Pertama, yang harus diintervensi adalah lingkungan masyarakat dan teman-temannya, bukan difabelnya.
Kedua, pak yai mengatakan, perlakukanlah mereka sama seperti yang lain dalam seluruh kehidupan sosial.
Saya terdiam... Dalam hati merasa girang bukan main
Karena saya merasa sedang bertemu dengan seseorang yang menempuh jalan pemikiran yang sangat dekat dengan jalan yang selama ini saya yakini, dan karena dua hal Itu adalah inti dari gagasan Model Persamaan Sosial Intervensi Cahaya Nabi yang selama bertahun-tahun sedang terus saya kembangkan.
Saya sama sekali tidak menduga akan menemukan kesamaan pandangan dengan seseorang yang baru pertama kali saya temui, baik sosok maupun pemikirannya. Saya mulai menekuni isu disabilitas sejak tahun 2005. Ternyata, pada tahun yang sama, pak Yai Abadi juga mulai menggagas pesantren yang ramah terhadap beragam santri difabel.
Kalau kita melihat kehidupan di masyarakat, memang selama ini terlihat sering terlalu fokus pada upaya "memperbaiki difabel", melatih difabel, dan menguatkan difabel. Itu semua memang penting. Tetapi, saya merasa yakin bahwa yang lebih membutuhkan perubahan, adalah perubahan cara pandang lingkungan masyarakat terhadap difabel. Pengalaman-pengalaman seperti inilah yang semakin menguatkan saya untuk terus mengembangkan Model Persamaan Sosial Intervensi Cahaya Nabi.
Kita juga sering terlalu berhati-hati hingga tanpa sadar memperlakukan mereka secara berbeda. Padahal, yang paling mereka rindukan bukanlah belas kasihan, tetapi kesempatan yang sama untuk belajar, mondok, kuliah, tumbuh, dan menjalani kehidupan sebagaimana orang lain.
Saat sedang hangat-hangatnya diskusi, pertemuan kami harus berakhir karena Pak Yai pamitan untuk segera mengisi pengajian rutin di pesantren. Kami pun berpisah di bukit Song Hill itu.
Saat tiba waktunya kami harus pulang kembali ke Jogja, kami sengaja mampir ke pesantren untuk berpamitan, tampaknya Pak Yai Abadi sedang duduk mengaji bersama ratusan santri, termasuk puluhan santri difabel. Suara mereka mengalun sederhana memenuhi ruang pesantren.
Pak Yai kemudian bangkit, menghampiri kami, dan menyambut pamitan kami dengan senyum dan jabat tangan yang hangat.
Saat kami bergerak meninggalkan pesantren, anak-anak santri difabel itu berdiri menatap kami di belakang pak Yai. Wajah-wajah mereka tampak cerah. Mereka sedang berada di tempat yang sungguh percaya pada masa depan mereka.
Pada senyum Pak Yai, saya melihat sesuatu yang sulit diterjemahkan dengan bahasa... di kedalaman senyuman itu saya seolah melihat wajah cerah hari depan anak-anak santri difabel yang sedang riuh rendah belajar di latar belakang beliau.
Pada kesempatan tersebut, saya juga berjumpa langsung para santri difabel di pesantren itu. Mereka memiliki senyum yang lebar-lebar. Saat itulah saya merasa bahwa Model Persamaan Sosial Intervensi Cahaya Nabi yang selama ini saya kembangkan menemukan pantulan yang nyata di pesantren ini. Nilai-nilai yang menjadi fondasinya tampak hidup dalam cara Pak Yai membangun lingkungan sosial bagi para santri difabel.
I = (E × M × A) / S
Bukan sekadar sebuah rumusan konseptual. Sebagaimana di PLD, Saya juga melihat sendiri bagaimana nilai-nilai yang terkandung di dalam model rumusan persamaan sosial Cahaya Nabi itu menemukan kesesuaiannya dengan realitas sosial dan terlihat bekerja secara nyata di pesantren ini...
Selangkah Perjalanan ke Rembang, Juli di wajah Agustus 2026
Senin, 03 Agustus 2026 12:38:00 WIB
0