UIN SUKA

Jumat, 04 September 2026 08:25:00 WIB

0

KHGT dan Suara Perempuan Nusantara Berkemajuan oleh Prof Susiknan azhari

Dalam kajian kalender Islam, khususnya hisab dan rukyat, suara perempuan di dunia Islam belum memperoleh ruang yang semestinya. Bahkan, di sejumlah negara masih terdapat pandangan yang membatasi penerimaan kesaksian perempuan. Kondisi ini menunjukkan bahwa keterlibatan perempuan dalam persoalan kalender Islam belum sepenuhnya setara. Indonesia dan Malaysia justru memperlihatkan arah yang lebih progresif dengan membuka ruang yang luas bagi perempuan untuk berperan dalam pengembangan pemikiran dan praktik falak, termasuk observasi hilal. Karena itu, suara perempuan tidak boleh dikesampingkan dalam membicarakan masa depan Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT).

Pandangan tersebut semakin jelas dari perbincangan penulis dengan sejumlah tokoh perempuan. Dr. Fatma Amilia, Ketua Pimpinan Wilayah Muslimat NU Daerah Istimewa Yogyakarta, menilai kehadiran KHGT secara spirit sangat positif bagi persatuan umat. Namun, implementasinya masih berada pada posisi fifty-fifty. Karena itu, sosialisasi KHGT harus dilakukan secara berkelanjutan agar masyarakat memahami gagasan, landasan, dan tujuan yang hendak dicapai.

Optimisme yang sama disampaikan Prof. Dr. Nurjannah, M.Si., Guru Besar UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Ia merindukan kebersamaan umat dalam mengawali dan mengakhiri Ramadan. Menurutnya, KHGT perlu disambut dengan gembira sebagai syiar persatuan. Untuk mewujudkannya, ego sektoral harus diturunkan, hawa nafsu tidak boleh dikedepankan, dan pembahasan KHGT perlu dibebaskan dari kepentingan politik.

Sementara itu, Prof. Dr. Casmini, anggota Majelis Tabligh Pimpinan Pusat 'Aisyiyah dan Guru Besar UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, memandang KHGT sebagai langkah besar yang lahir dari ilmu dan kejernihan hati. Baginya, menyatukan waktu berarti menguatkan ukhuwah sekaligus menghadirkan kemaslahatan bagi umat.

Dari Malaysia, Dr. Raihana Abdul Wahab, Ahli Jawatankuasa Falak Negeri Perak, Panel Pakar Falak JAKIM, dan Pensyarah Akademi Pengajian Islam Universiti Malaya, menilai Persidangan Kalender Islam Global di Turki pada 2016 sebagai ikhtiar penting menuju penyatuan kalender Islam di tingkat internasional serta memperkuat integrasi syariah dan astronomi Islam.

Pada akhirnya, keterlibatan perempuan dalam KHGT bukan sekadar pelengkap. Ia merupakan bagian penting dari ikhtiar membangun kalender Islam yang berkeadilan, berkemajuan, dan menyatukan umat. Empat suara ini mungkin belum mewakili seluruh perempuan Nusantara, tetapi cukup menjadi penanda bahwa perempuan memiliki gagasan dan keberanian untuk ikut menentukan arah masa depan kalender Hijriah global.

Wa Allahu A'lam bi as-Sawab

???