UIN SUKA

Senin, 07 September 2026 13:32:00 WIB

0

100 MINGGU TADARUS DIFABEL : Menafsir SEBUAH KATA dengan Cara yang BERBEDA : Dr. Asep Jahidin Koordinator Pusat Layanan Difabel UIN Sunan Kalijaga

Tadarus Difabel Minggu ke-100

Tulisan ini adalah refleksi setelah 100 minggu menulis dan merayakan setiap momen dalam pikiran. Saya masih sedang belajar memahami kenyataan… Tadarus ini mengajarkan saya untuk terus membaca realitas… Teman-teman difabel mengajarkan saya untuk mengubah cara membaca realitas itu… Setiap tulisan yang saya goreskan di setiap minggu itu, sengaja saya beri tanda dengan nama “Tadarus Difabel” kemudian saya bagikan dalam berbagai platform untuk tujuan berbagi pengalaman dan pemikiran

Selama rentang 100 minggu menulis, saya cukup sering mendapat pertanyaan tentang soal yang sebenarnya sederhana… Mengapa tulisan mingguan ini diberi nama Tadarus Difabel?

Pertanyaan terkait penamaan itu datang dengan berbagai cara. Ada yang bertanya dalam nada jenaka. Ada yang sekadar penasaran. Ada pula yang bertanya dengan nada yang lebih serius, seolah-olah ingin membongkar sesuatu yang lebih mendasar dari sekadar sebuah nama…

Sebagian mereka ada yang bertanya langsung kepada saya, biasanya kolega saya di UIN Sunan Kalijaga. Sebagian lainnya melalui pesan WhatsApp. Bahkan ada yang menyampaikannya melalui orang ketiga… mungkin karena mereka tidak punya akses ke nomor saya atau alasan lainnya

Saya selalu menilai setiap pertanyaan itu menarik… Sebab, ternyata sebuah nama bisa membuat orang berhenti sejenak, berpikir, bahkan sedikit terusik.

Pernah juga seseorang menyampaikan kegelisahannya melalui sebuah pesan WA yang cukup panjang. Kurang lebih ia mempertanyakan, mengapa kata tadarus yang selama ini dipahami sebagai kegiatan membaca Al-Qur'an ditempatkan dalam sebuah tulisan tentang difabel. Bukankah tadarus biasanya dilakukan dalam konteks mengaji? Apakah penggunaan kata itu hanya untuk membuat tulisan lebih menarik perhatian?... Saya memahami kegelisahan itu.

Bahkan saya rasa, justru dari sanalah percakapan ini menjadi menarik… dan mungkin pada Langkah yang ke-100 ini bisa menjadi saat yang tepat untuk menjelaskannya. Sebab saya memang sengaja meminjam kata Tadarus…

Tidak beraksud untuk mengganti makna tadarus dalam pengertian keagamaan. Bukan pula untuk menjadikan tulisan tentang difabel sebagai sesuatu yang seolah-olah setara dengan ibadah membaca Al-Qur'an…

Saya hanya ingin meminjam semangat yang terkandung dalam kata tadarus tersebut… membaca, mempelajari, mengulang, saling mengingatkan, dan terus berusaha memahami. Begitu yang saya inginkan. Disabilitas sebagai cara pandang dalam menahami manusia

Dalam pengertian bahasa, tadarus berkaitan dengan akar kata darasa, belajar atau mempelajari. Bentuk tadarus memberi nuansa proses belajar secara bersama-sama, saling membaca, saling belajar, dan saling memperdalam pemahaman satu sama lain…

Sejak awal saya sadar bahwa nama Tadarus Difabel memang terdengar agak berbeda (agak aneh juga sebenarnya). Kata tadarus biasanya sangat dekat dengan kegiatan membaca Al-Qur'an, terutama membaca Al-Qur'an bersama-sama. Ia memiliki suasana yang khas, bahkan bagi sebagian orang terasa sakral. (tidak boleh digunakan untuk aktifitas yang lain, kira-kira begitu mungkin)

Karena itu, ketika kata tersebut saya letakkan berdampingan dengan kata difabel, tentu muncul pertanyaan… mengapa?

Di titik inilah saya menemukan alasan mengapa kata itu terasa tepat untuk tulisan-tulisan saya ini. Sebab selama ini saya tidak sedang berusaha memberikan kuliah tentang difabel setiap minggu…

Saya sedang belajar sebagaimana telah saya sampaikan di awal tulisan ini… Belajar membaca manusia, membaca kehidupan. Belajar membaca pengalaman manusia. Belajar membaca kampus. Membaca kebijakan, bahkan membaca peristiwa-peristiwa kecil yang kadang kita lewati begitu saja. dan, tentu saja, belajar membaca diri sendiri.

Maka Tadarus Difabel, bagi saya, bukan sekadar kegiatan membaca teks. Ia adalah usaha untuk membaca kehidupan dengan lebih teliti, lebih seksama dan dalam tempo yang selama lamanya…

Lalu mengapa harus ada kata difabel? Karena difabel bagi saya bukan semata-mata nama bagi sekelompok orang. Difabel adalah sebuah perspektif. Ia mengajak kita melihat kembali cara kita memahami manusia. Bagi saya, difabel adalah sebuah cara pandang kita tentang manusia…

Dari perspektif difabel, kita belajar bahwa manusia tidak pernah hanya terdiri dari apa yang mampu ia lakukan. Ada keterbatasan, tetapi ada pula kemampuan. Ada ketergantungan, tetapi ada pula kemandirian. Ada kebutuhan akan bantuan, tetapi ada pula kemampuan untuk memberi bantuan kepada orang lain.

Pada akhirnya, kita semua adalah manusia yang memiliki keterbatasan dengan cara yang berbeda-beda itu… kita semua sama

Karena itu, kata difabel dalam Tadarus Difabel tidak dimaksudkan untuk membuat batas antara "mereka" dan "kita". Justru sebaliknya… Tadarus Difabel adalah upaya untuk meleburkan semua keragaman itu menjadi sebuah pemahaman tentang manusia… Ia ingin membongkar batas -batas yang sengaja diciptakan itu.

Sebab mungkin selama ini kita terlalu mudah mengatakan "orang difabel", seolah-olah difabel adalah kelompok manusia yang berada di luar diri kita. Padahal jika kita mau membaca manusia lebih dalam, kita akan menemukan bahwa kehidupan setiap orang selalu berhadapan dengan keterbatasan… artinya setiap orang adalah penyandang disabilitas secara ontologis.

Yang berbeda hanyalah bentuknya… Dan yang lebih penting adalah bagaimana kita memperlakukan manusia di tengah keterbatasannya.

Di sinilah saya kemudian memahami Tadarus Difabel sebagai sebuah cara membaca. Membaca wahyu. Membaca manusia. Membaca kehidupan… Membaca kenyataan hidup kita Bersama

Dan membaca dunia dengan perspektif yang lebih peka terhadap martabat manusia. Mungkin karena itu pula tema Tadarus Difabel selama ini bisa berjalan ke mana-mana… jika anda menyimak sejak tadarus difabel pertama kali, temanya ambyar kesana kemari tetapi tetap saya ikat dengan satu benang merah, adalah inklusifitas

Saya pernah berbicara tentang pengalaman difabel di kampus. Pernah tentang pendidikan inklusif. Pernah tentang pengalaman relawan. Tentang KKN. Tentang kehidupan kampus. Tentang puisi. Tentang Ramadan. Tentang mahasiswa baru. Tentang berbagai peristiwa kecil maupun besar yang hadir dalam kehidupan sehari-hari kita semua…

Jika dilihat sekilas, semuanya seperti tidak memiliki hubungan. Tetapi sesungguhnya ada satu benang merah yang terus saya rawat, bagaimana kita membaca kehidupan dengan cara yang lebih manusiawi dan inklusif… Layak dipikirkan. Layak ditadaburi. Dan, dalam pengertian yang saya gunakan di sini, layak ditadarusi.

Maka saya dapat menyampaikan bahwa Tadarus Difabel bukanlah upaya untuk memperluas pengertian tadarus secara serampangan. Ia adalah sebuah ikhtiar kecil untuk menghadirkan rasa bahasa yang lain… Bahasa yang tidak hanya bertanya, "Apa yang bisa dilakukan manusia?" Tetapi juga bertanya, "Bagaimana manusia diperlakukan?"

Bukan hanya bertanya, "Apa kekurangan seseorang?" Tetapi juga, "Mengapa lingkungan kita membuat seseorang tampak tidak mampu?"

Bukan hanya melihat disabilitas sebagai persoalan individu. Tetapi menjadian disabilitas sebagai sebuah cara memahami manusia, juga sebuah cara untuk melihat bagaimana masyarakat, lembaga, kebijakan, dan cara kita berpikir ikut menentukan apakah seseorang dapat hidup secara setara atau tidak.

Barangkali di situlah kira-kira letak hubungan antara tadarus dan difabel.

Tadarus mengajarkan saya untuk terus membaca. Difabel mengajarkan saya untuk mengubah cara membaca. Dan keduanya bertemu dalam satu ikhtiar… membaca manusia tanpa kehilangan martabatnya.

Karena itu, setelah 100 minggu, saya semakin merasa bahwa nama ini bukan sesuatu yang perlu saya jelaskan dengan argumentasi panjang.

Biarlah ia menjadi sebuah pertanyaan. Mengapa Tadarus Difabel? Mungkin jawabannya memang tidak pernah selesai. Sebab setiap minggu saya sendiri masih belajar menemukan jawabannya.

Tadarus Difabel bukan sekadar membaca Al-Qur'an… Ia adalah usaha membaca kehidupan dalam cahaya nilai-nilai Al-Qur'an, dengan perspektif inklusi.

Difabel bukan objek yang hanya dibicarakan. Difabel adalah cara untuk belajar memandang manusia. Dan mungkin, pada akhirnya, yang ingin saya lakukan sebenarnya sederhana saja…

Memandang disabilitas dari perspektif manusia, dan memandang manusia dengan kesadaran tentang disabilitas.

Hari ini Tadarus Difabel sampai pada minggu ke-100. Tentu saja seratus minggu bukan waktu yang pendek… Tetapi jika dibandingkan dengan panjangnya perjalanan memahami disabilitas, seratus minggu barangkali baru sebuah langkah kecil yang sangat pendek

Saya tidak tahu berapa jauh tulisan-tulisan ini telah membawa kita semua… Saya juga tidak tahu apakah setiap tulisan pernah selesai menjawab pertanyaan yang dibawanya.

Tetapi saya percaya, setiap upaya membaca selalu lebih baik daripada berhenti karena merasa pintar dan merasa sudah memahami.

Maka pada minggu ke-100 ini, saya tidak ingin merayakannya sebagai sebuah pencapaian. Saya lebih ingin menganggapnya sebagai jeda… istirah sejenak, berjarak dari kepenatan ruang keseharian hidup kita

Semoga 100 minggu kecil ini dapat membuka sedikit jalan bagi pemahaman yang lebih baik tentang disabilitas… Semoga ia menjadi bagian kecil dari percakapan yang lebih besar tentang manusia, martabat, kesetaraan, dan kehidupan bersama.

Dan semoga, setelah seratus kali membaca, kita tidak merasa telah selesai memahami… kita membaca lagi, karena kita sadar bahwa masih banyak yang belum kita pahami.

Pada aroma segelas kopi

 7 September 2026