Di balik senyum tenang Friza Azzahra di panggung nasional, ada jejak penolakan yang tak banyak orang lihat. Ada formulir pendaftaran yang tak lolos seleksi. Ada kompetisi yang menutup pintu sebelum ia sempat menunjukkan diri. Berkali-kali gagal, berkali-kali ditolak. Namun bagi Friza, mimpi tentang dunia pageant tak pernah benar-benar padam, ia hanya menunggu waktu dan keberanian untuk diperjuangkan kembali.
Friza, mahasiswi Program Studi Ilmu Hadis Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, akhirnya membuktikan bahwa kegagalan bukan akhir cerita. Setelah melalui proses panjang dan jatuh bangun, ia berhasil meraih gelar juara Beauty Muslimah Yogyakarta dan melangkah sebagai wakil Daerah Istimewa Yogyakarta di ajang Beauty Muslimah Indonesia 2026. Di tingkat nasional, ia menorehkan prestasi membanggakan dengan menyabet predikat Best Personality.
Namun capaian itu tidak lahir dari perjalanan yang instan.
“Aku sudah beberapa kali gagal. Sudah pernah ditolak. Sempat overthinking, merasa kurang. Tapi aku tidak mau berhenti,” ungkapnya jujur.
Ada fase ketika ia mempertanyakan dirinya sendiri, apakah ia cukup pantas? Cukup mampu? Cukup percaya diri? Sebagai pribadi yang mengaku dulu cenderung introvert, berdiri di ruang kompetisi besar bukanlah hal mudah. Ia harus melatih mental, memperkuat public speaking, dan belajar membangun relasi.
“Kalau aku mau, aku harus bisa. Kalau aku ingin, aku harus memperjuangkannya. Mengapa aku ingin menjadi bagian dari pageant? Karena semua orang bisa melihat panggungnya, tetapi tidak semua orang berani memperjuangkan diri hingga benar-benar berdiri di sana. Dan aku ingin menjadi salah satu yang melangkah, bukan sekadar menyaksikan.” katanya, mengingat tekad yang terus ia ulang dalam hati.
Dunia pageant baginya bukan sekadar tentang selempang dan mahkota. Ia menemukan ruang belajar yang tak tergantikan. Sebagaimana di ajang ini membawanya bertemu perempuan-perempuan inspiratif dari berbagai daerah, memahami karakter orang lain, serta belajar menjadi pribadi yang lebih terbuka dan adaptif.
Predikat Best Personality yang ia raih menjadi simbol perjalanan batin itu. Penilaian tersebut lahir dari sikapnya selama kompetisi, bagaimana ia peduli pada sesama finalis, mampu berbaur, menunjukkan empati, dan hadir dengan energi positif. Ia menyadari bahwa kepribadian kuat bukan hanya tentang percaya diri di atas panggung, tetapi tentang kesadaran sosial dan ketulusan dalam berinteraksi.
Di balik semua proses itu, Friza merasakan kuatnya dukungan kampus. Lingkungan akademik di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta memberinya ruang untuk tumbuh tanpa batas stigma.
“Walaupun prodi kami murni keagamaan, itu bukan batasan. Justru nilai-nilai yang kami pelajari menjadi fondasi dalam bersikap,” tuturnya.
Nilai keilmuan, kedewasaan berpikir, serta pembentukan karakter yang ia dapatkan di UIN Sunan Klaijaga menjadi bekal saat ia berdiri membawa nama daerah dan kampusnya. Ia membuktikan bahwa identitas sebagai muslimah berhijab bukanlah penghalang untuk melangkah di dunia modeling dan pageant. Sebaliknya, itu menjadi kekuatan pembeda yang mempertegas karakter.
Bagi Friza juga, menjadi perempuan bukan alasan untuk membatasi mimpi. Perempuan justru harus berani mengejar apa yang diinginkan, meski harus melewati penolakan berkali-kali. Karena setiap kegagalan adalah latihan ketahanan.
“Kalau sudah melewati satu rintangan, jangan berhenti. Fokus pada proses. Berusaha itu tidak pernah mengkhianati hasil,” tegasnya.
Kisah Friza Azzahra adalah tentang keberanian untuk bangkit setelah ditolak. Tentang mimpi yang tidak menyerah pada kegagalan. Tentang mahasiswi dari UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta yang membuktikan bahwa kampus bukan hanya tempat belajar teori, tetapi ruang yang menumbuhkan kepercayaan diri dan daya juang.
Friza membawa satu pesan yang kuat, bahwa mimpi yang terus diperjuangkan akan menemukan jalannya. Dan ketika kesempatan itu akhirnya datang, ia bukan lagi tentang sekadar menang, tetapi tentang perjalanan panjang yang membuat kemenangan itu bermakna.(humassk)