Komitmen UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dalam memperkuat jejaring akademik global kembali ditegaskan melalui riset kolaboratif lintas negara yang melibatkan dosennya di panggung internasional. Dosen Pendidikan Kimia Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, Dr. Paed. Asih Widi Wisudawati, M.Pd., menjalin kolaborasi penelitian bersama Prof. Dr. rer. nat. Andreas Nehring dari Institute of Science Education, Jerman, serta Prof. Joon Sang Baek dari DESIS Yonsei University di Korea Selatan.
Riset bertajuk “The Disruption of Fake News for Sustainability: An Epistemic Study of the Youth NEET Group in Indonesia, Germany, and South Korea” ini berhasil mendapatkan pendanaan dari Leibniz Centre for Science and Society (LCSS). salah satu dari empat jaringan pusat riset terbesar di Jerman. Dalam lanskap penelitian Eropa, dukungan dari Leibniz menandai pengakuan akademik yang kompetitif dan selektif, khususnya pada isu-isu yang berada di persimpangan sains dan humaniora.
Dr. Asih menuturkan bahwa kolaborasi ini berawal dari aktivitas akademiknya sebagai visiting lecturer di Leibniz University Hannover pada 2024 yang kemudian berkembang menjadi kerja sama riset pada 2025.
Momentum strategis hadir ketika pusat riset Leibniz membuka proyek DISSS (Disruptions in Science and Society). Ia bersama Prof. Nehring mengajukan proposal penelitian yang akhirnya terpilih dari sejumlah kandidat internasional. “Pada saat yang sama, saya menerima undangan joint research dari Yonsei University yang kemudian membuka ruang kolaborasi dengan Korea Selatan. Setelah berdiskusi, saya mengetahui bahwa Prof. Joon Sang Baek memiliki fokus riset yang sejalan dengan saya, sehingga kami sepakat membangun kerja sama trilateral Indonesia–Jerman–Korea Selatan,” ujarnya.
Dr. Asih menyebutkan, bahwa penelitiannya menyoroti dua kelompok pemuda usia 15–24 tahun, disebut kelompok non-NEET (yang sedang sekolah, bekerja, atau mengikuti pelatihan) dan kelompok NEET (Not in Education, Employment, or Training), yakni mereka yang tidak berada dalam sistem pendidikan, pekerjaan, maupun pelatihan.
Fenomena meningkatnya angka pengangguran dan kecenderungan sebagian generasi muda untuk tidak terlibat dalam aktivitas produktif, katanya Dr. Asih, menjadi konteks penting. Peneliti ingin memahami bagaimana paparan media sosial, seperti influencer termasuk hoaks dan membentuk cara pandang mereka terhadap isu keberlanjutan dan perubahan iklim.
Riset ini tidak berhenti pada pengukuran tingkat pengetahuan. Pendekatan epistemik digunakan untuk menelaah bagaimana pemuda memproduksi, mengomunikasikan, dan memverifikasi pengetahuan mereka tentang sustainability. Peneliti juga mengkaji bagaimana mereka menegosiasikan kebenaran informasi di tengah relasi kompleks antara sains, politik, dan opini publik.
Secara akademik, penelitian ini ditargetkan menghasilkan publikasi pada jurnal internasional terindeks Scopus atau book chapter. “Pasca penelitian, kami akan memberikan rekomendasi kepada para pemangku kepentingan untuk mendesain sistem sosial yang lebih mendukung konsep keberlanjutan. Paling tidak, kami dapat menghadirkan gambaran komprehensif mengenai pola pikir pemuda, baik NEET maupun non-NEET sebagai representasi dari Indonesia, Jerman, dan Korea Selatan dengan latar belakang budaya yang berbeda-beda,” jelasnya..
Di tengah tantangan era digital dan krisis informasi, UIN Sunan Kalijaga menegaskan posisinya sebagai institusi yang mampu menghadirkan kontribusi ilmiah lintas negara, menghubungkan pendidikan, sains, dan tanggung jawab sosial dalam satu gerak akademik yang relevan secara global.
Bagi UIN Sunan Kalijaga, capaian ini bukan sekadar partisipasi dalam riset internasional, melainkan penegasan kapasitas akademik kampus dalam membangun dialog ilmiah global, khususnya pada isu keberlanjutan dan literasi sains. Melalui kolaborasi strategis lintas negara ini, kontribusi keilmuan yang dihasilkan tidak hanya relevan pada tingkat nasional, tetapi juga berpotensi memberi dampak dalam percakapan akademik dan kebijakan di level global.(humassk)