YOGYAKARTA, 8 April 2026 — Gagasan tentang kepemimpinan berbasis ihsan sebagai puncak motivasi dalam pendidikan Islam mengemuka dalam Sidang Senat Terbuka UIN Sunan Kalijaga yang mengukuhkan enam guru besar di Gedung Multipurpose, Rabu (8/4).
Dalam forum akademik tersebut, Prof. Dr. Zainal Arifin menegaskan bahwa krisis kepemimpinan pendidikan modern tidak semata terletak pada aspek manajerial, tetapi pada lemahnya fondasi etik dan spiritual yang menopangnya.
Ia memposisikan ihsan bukan sekadar nilai normatif, melainkan kerangka operasional kepemimpinan yang mengintegrasikan niat, kinerja, dan dampak sosial dalam satu kesatuan utuh.
Ia juga membangun dialog dengan teori self-transcendence dari Abraham Maslow, namun menegaskan perbedaan mendasar: jika teori modern berorientasi pada pencapaian manusia, maka ihsan berakar pada kesadaran ketuhanan yang membimbing seluruh tindakan kepemimpinan.
Dalam elaborasinya, Zainal merumuskan tiga dimensi utama kepemimpinan berbasis ihsan: niat yang dilandasi keikhlasan, kinerja profesional sebagai manifestasi iman, dan orientasi pada kemaslahatan publik sebagai tujuan akhir.
Menurutnya, kepemimpinan di lembaga pendidikan Islam tidak cukup diukur dari capaian administratif, tetapi dari kemampuannya membangun kohesi moral dan menghasilkan dampak sosial yang berkelanjutan.
“Ihsan menjadikan kerja bukan sekadar tugas, tetapi bentuk pengabdian yang sadar dan bermakna,” ujarnya.
Gagasan ini menegaskan arah baru kepemimpinan pendidikan Islam—dari sekadar efektivitas menuju transformasi nilai—sekaligus memperkuat posisi perguruan tinggi keagamaan dalam merespons tantangan global yang semakin kompleks.