WhatsApp Image 2026-05-22 at 15.41.34.jpeg

Jumat, 22 Mei 2026 15:41:00 WIB

0

Wisudawan Terbaik UIN Sunan Kalijaga dengan Segudang Prestasi, Ubah Luka Kehidupan Menjadi Jalan Pengabdian bagi Masyarakat

Ada kalanya seseorang mengejar prestasi bukan sekadar untuk mendapatkan pengakuan, melainkan sebagai cara untuk membuktikan bahwa dirinya mampu bangkit dari keadaan yang nyaris mematahkan hidupnya. Jalan itulah yang dilalui Nuha Banin Darajatin Aliyah, wisudawan Program Studi Ilmu Kesejahteraan Sosial Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta yang dinobatkan sebagai wisudawan terbaik tercepat pada Wisuda Periode III Tahun Akademik 2025/2026.

Nuha menyelesaikan studinya hanya dalam waktu 3 tahun 4 bulan 19 hari dengan IPK 3,94. Di balik capaian akademik itu, tersimpan perjalanan panjang yang tidak sederhana. Ia mengaku, ambisi menjadi lulusan terbaik sudah tumbuh sejak kecil. Semasa SD, ia pernah meraih nilai ujian tertinggi. Namun perjalanan berikutnya tidak selalu berjalan mulus. Kegagalan mendapatkan penghargaan lulusan terbaik saat SMP sempat membuat semangatnya meredup. Hingga sebuah peristiwa besar mengubah cara pandangnya terhadap hidup.

Kepada Tim Humas, Nuha membagikan salah satu hal pedih dalam hidupnya yang membuatnya kehilangan sebagian ingatan tentang masa SMP dan SMA. Pada masa itu, ia bahkan diremehkan dan dianggap tidak mungkin mampu melanjutkan pendidikan dengan baik. Namun dari titik terendah itulah ia merasa memperoleh kesempatan hidup kedua.

“Ketika Allah sudah memberikan saya kesempatan hidup kedua kalinya, saya ingin menghabiskan hidup saya untuk mencari ilmu,” ujarnya.

Perlahan, ia mulai memulihkan dirinya. Membaca Al-Qur’an menjadi terapi yang membantunya mengembalikan daya ingat sekaligus menguatkan mentalnya untuk bangkit kembali. Sejak saat itu, tekadnya untuk menjadi mahasiswa berprestasi terus menyala.

Selama berkuliah di UIN Sunan Kalijaga, Nuha tidak hanya mengejar nilai akademik. Ia justru banyak menghabiskan waktunya di organisasi untuk melatih kembali kemampuan sosial dan memorinya. Ia aktif di berbagai komunitas dan organisasi, mulai dari UKM EXACT, Laboratorium Pengembangan Profesi Pekerja Sosial (LP3S), hingga Forum Komunikasi Mahasiswa Kesejahteraan Sosial Indonesia Regional DIY.

Baginya, organisasi bukan hanya ruang aktivitas mahasiswa, tetapi juga tempat untuk mengenal manusia dan belajar memahami kehidupan dari berbagai sudut pandang.

“Karena saya membutuhkan interaksi yang lebih untuk membantu memulihkan ingatan-ingatan yang hilang akibat sakit yang menyerang saya,” tuturnya.

Dari ruang-ruang diskusi itulah Nuha mulai menulis gagasan, mengikuti kegiatan sosial, hingga melahirkan berbagai inovasi berbasis pemberdayaan masyarakat. Ia percaya, ilmu tidak boleh berhenti pada diri sendiri, melainkan harus menjelma menjadi manfaat nyata bagi lingkungan sekitar.

Perjalanan hidup keluarganya juga menjadi alasan kuat mengapa ia memilih Program Studi Ilmu Kesejahteraan Sosial. Ia tumbuh dalam pengalaman pahit ketika keadaan ekonomi keluarga harus porak poranda. Kondisi itu membuatnya harus berpindah-pindah daerah untuk bertahan hidup. Namun justru dari pengalaman hidup di tengah masyarakat desa itulah ia melihat bagaimana kehadiran seseorang dapat memberi dampak bagi orang lain.

Ia masih mengingat bagaimana keluarganya sering dimintai bantuan warga untuk mengurus persoalan sosial, mulai dari kebutuhan pendidikan hingga akses layanan kesehatan. Pengalaman itu membentuk keinginannya untuk dekat dengan isu kesejahteraan masyarakat.

“Saya awalnya ingin menjadi Menteri Sosial,” katanya sambil tersenyum.

Nuha mengaku menemukan sesuatu yang berbeda selama belajar di UIN Sunan Kalijaga. Menurutnya, integrasi keilmuan yang diterapkan kampus membuatnya mampu melihat persoalan sosial tidak hanya dari perspektif akademik, tetapi juga dari sudut pandang keislaman yang humanis.

Ia merasa pendekatan integratif-interkonektif yang diterapkan UIN Sunan Kalijaga memberinya cara pandang yang lebih utuh ketika berdiskusi dengan mahasiswa dari kampus lain.

“Saya merasa sebagai mahasiswa IKS di UIN, ketika berdiskusi dengan teman-teman yang kuliah di kampus lain, saya bisa memberikan perspektif dari segi keislaman.  Saya merasa takjub karena integrasi yang disusun UIN dapat memberikan perspektif dari kedua sisi dengan seimbang,” ungkapnya.

Keseriusan Nuha dalam menata masa depannya bahkan sudah dimulai sejak menjadi mahasiswa baru. Ia membuat roadmap pribadi tentang target dan arah pengembangan dirinya sejak semester awal. Setiap organisasi, aktivitas, hingga keputusan yang diambil selalu ia ukur berdasarkan tujuan hidup yang sudah ditulisnya sejak awal kuliah.

Langkah itu kemudian mengantarkannya pada berbagai prestasi nasional maupun internasional. Ia tercatat sebagai penerima Beasiswa Djarum Foundation, Mahasiswa Berprestasi UIN Sunan Kalijaga, hingga peraih penghargaan Most Inspiring Community Empowerment dari Djarum Foundation tahun 2026. Ia juga aktif mempresentasikan karya ilmiah dalam berbagai konferensi internasional terkait gender, keluarga, dan kesejahteraan sosial.

Kini, setelah menyelesaikan studinya, Nuha mulai menapaki dunia profesional. Ia bekerja di lembaga sosial di Surabaya sekaligus terlibat dalam yayasan konsultan ekonomi dan lingkungan di Jakarta. Pengalaman organisasi, magang, dan berbagai kolaborasi yang ia jalani selama kuliah membuatnya lebih siap menghadapi fase kehidupan berikutnya.

“Saya merasa lebih siap dan percaya diri melangkah menyongsong fase berikutnya karena UIN Sunan Kalijaga telah membawa saya mengenal atmosfer dunia kerja melalui kegiatan magang, organisasi, hingga berbagai kolaborasi dengan mitra profesional,” ujarnya.

Dari ruang wisuda di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta itu, Nuha tidak hanya membawa gelar sarjana. Ia membawa cerita tentang luka yang berhasil diubah menjadi kekuatan, tentang ingatan yang perlahan dipulihkan oleh ilmu dan iman, dan tentang keyakinan bahwa keterbatasan tidak pernah benar-benar mampu menghentikan seseorang yang memilih untuk terus bangkit.(humassk)