Inklusi bukan hadiah yang datang tiba-tiba. Ia adalah ekosistem yang harus terus dirawat, dibangun, dan dijaga agar tetap tumbuh dalam posisi terbaik. Sebab, dalam perjalanannya, inklusi bisa bergerak naik dan turun. Festival Difabel menjadi salah satu ikhtiar untuk merawat semangat tersebut.
Pesan itu disampaikan Koordinator Pusat Layanan Difabel (PLD) LPPM UIN Sunan Kalijaga, Dr. Asep Jahidin, dalam Perayaan dan Penganugerahan Festival Difabel bertajuk Here Together, Grow Forever, yang digelar dalam rangka Dies Natalis ke-19 PLD, Rabu (3/6/2026), di Aula Convention Hall Lantai 1 kampus setempat.
Semangat inklusivitas itu tidak hanya hadir dalam retorika, tetapi juga tampak sejak rangkaian acara dimulai. Panggung Festival Difabel menjadi ruang ekspresi yang memperlihatkan bahwa setiap orang memiliki kesempatan yang sama untuk tampil, berkarya, dan mengambil peran.
Hal itu terlihat melalui penampilan tari daerah oleh penyandang difabel, tilawah Al-Qur’an yang dilantunkan mahasiswa tunanetra, hingga menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Hymne UIN Sunan Kalijaga yang dibawakan oleh Gita Divana, paduan suara di bawah naungan PLD. Kelompok ini terdiri atas mahasiswa difabel dan relawan, dengan penampilan yang turut menghadirkan bahasa isyarat sebagai bagian dari ekspresi musikal yang inklusif.
Dalam kesempatan yang sama, Rektor yang juga hadir membuka kegiatan secara resmi, menegaskan bahwa UIN Sunan Kalijaga sejak awal telah membuka ruang bagi berbagai macam perbedaan. Semangat itu diwujudkan melalui pengembangan pendidikan yang terbuka, menghargai keberagaman, serta memberi tempat yang setara bagi seluruh warga kampus.
Ia menyebut, setelah bertransformasi menjadi UIN, keberpihakan terhadap pendidikan inklusif ditunjukkan secara lebih nyata melalui pendirian Pusat Layanan Difabel. Kehadiran PLD menjadi salah satu penanda penting bahwa kampus tidak hanya membangun keunggulan akademik, tetapi juga memastikan akses pendidikan yang berkeadilan bagi mahasiswa difabel.
“Setiap warga bangsa, siapa pun mereka, memiliki hak, tempat, dan kedudukan yang sama di hadapan hukum dan negara. Kita semua sama sebagai makhluk Tuhan yang dilahirkan ke dunia sebagai insan kamil, makhluk yang sempurna. Yang membedakan hanyalah ketakwaan, yaitu komitmen untuk memperjuangkan kehidupan dan nilai-nilai kemanusiaan,” tutur Prof. Noorhaidi.
Dalam pidatonya, Rektor juga menegaskan bahwa PLD UIN Sunan Kalijaga telah lama menjadi salah satu rujukan dalam pengembangan pendidikan inklusif di perguruan tinggi. Sejak sekitar 2007, sejumlah kampus mulai datang ke UIN Sunan Kalijaga untuk belajar dan mengembangkan pusat layanan serupa guna memperkuat layanan pendidikan inklusif di lingkungan masing-masing.
Rektor mengapresiasi PLD yang terus bergerak melakukan inovasi. Salah satunya melalui Festival Difabel, sebuah ruang ekspresi yang menunjukkan bahwa bakat, karya, dan prestasi dapat tumbuh dari siapa saja. Di atas panggung tersebut, mahasiswa difabel menghadirkan berbagai pertunjukan yang menegaskan bahwa kondisi fisik bukan penghalang untuk bernyanyi, bermusik, menari, dan menampilkan potensi terbaik lainnya.
“Jangan pernah patah semangat. Teruskan perjuangan kehidupan kalian. Kami mendukung sepenuhnya upaya kalian untuk menjadi sosok yang bisa memberikan sumbangaih penting bagi bangsa dan negara,” pungkasnya.
Salah satu sesi yang menarik perhatian peserta adalah TED Talk alumni yang menghadirkan PLD UIN Sunan Kalijaga. Dalam sesi tersebut, dua alumni difabel membagikan pengalaman mereka menempuh studi di kampus ini dan bagaimana PLD berperan dalam mendukung proses akademik mereka.
Hastu, alumni difabel Tuli dari Program Studi Teknik Informatika Fakultas Sains dan Teknologi, menceritakan bagaimana layanan inklusif di kampus membantunya menjalani perkuliahan. Kini, ia berkarier sebagai konten kreator sekaligus pegawai BUMN di Pertamina, Jakarta.
Sementara itu, Anes, penyandang tunanetra yang merupakan alumni Program Studi Ilmu Hukum Fakultas Syariah dan Hukum, membagikan kisahnya selama menempuh studi di UIN Sunan Kalijaga. Berkat pendampingan PLD yang berjalan secara intensif, ia mampu menyelesaikan studi dalam waktu 3 tahun 5 bulan dan meraih IPK terbaik di program studinya. Setelah lulus, Anes kini mengabdi sebagai aparatur sipil negara dengan posisi sebagai Analis Perkara Peradilan di Pengadilan Agama Daerah Istimewa Yogyakarta.
Kisah keduanya menjadi gambaran bahwa pendidikan inklusif bukan hanya tentang membuka akses masuk ke perguruan tinggi, tetapi juga memastikan mahasiswa difabel dapat belajar, berkembang, lulus, dan berkontribusi di ruang-ruang profesional.
Bagi UIN Sunan Kalijaga, keberadaan PLD merupakan bagian dari komitmen kampus terhadap hak asasi manusia, terutama dalam memastikan setiap orang memiliki akses yang sama terhadap pendidikan berkualitas. Kampus juga membuka jalur afirmasi bagi mahasiswa difabel sebagai bagian dari upaya memperluas kesempatan pendidikan tinggi.
Melalui Festival Difabel, UIN Sunan Kalijaga menegaskan kembali bahwa inklusi bukan sekadar program pendampingan, melainkan budaya akademik yang harus terus dirawat. Di dalamnya, mahasiswa difabel tidak ditempatkan sebagai objek layanan, tetapi sebagai subjek yang memiliki potensi, suara, karya, dan masa depan yang sama untuk tumbuh sebagai penerus kepemimpinan bangsa.(humassk)