WhatsApp Image 2026-06-03 at 15.50.33.jpeg

Rabu, 03 Juni 2026 16:11:00 WIB

0

Berkat Ruang Inklusi PLD UIN Sunan Kalijaga, Hastu Wijaya Buktikan Difabel Tuli Bisa Berkarier di BUMN

Pusat Layanan Difabel (PLD) UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta telah menjadi salah satu tumpuan penting dalam membangun ekosistem kampus inklusif. Selama 19 tahun perjalanannya, PLD hadir mendampingi ribuan mahasiswa difabel untuk mengakses pendidikan tinggi, mengembangkan potensi, dan menjemput masa depan mereka.

Salah satunya adalah Hastu Wijaya, alumni Program Studi Informatika, Fakultas Sains dan Teknologi UIN Sunan Kalijaga. Sebagai seorang Tuli, Hastu tidak ingin hidupnya dibaca dari keterbatasan. Ia tidak pernah ingin dikasihani. Baginya, menjadi difabel bukan alasan untuk berhenti bermimpi, melainkan bagian dari perjalanan hidup yang telah ia terima sepenuhnya.

Di awal masa kuliah, Hastu mengaku sempat diliputi rasa cemas. Ia khawatir tidak mampu mengikuti perkuliahan, memahami materi, atau menjalani dinamika akademik yang selama ini kerap belum sepenuhnya ramah bagi difabel. Namun, kekhawatiran itu perlahan berubah ketika ia menemukan lingkungan kampus yang memberinya ruang untuk tumbuh.

Di UIN Sunan Kalijaga, Hastu mendapatkan pendampingan dari Pusat Layanan Difabel. Setiap mengikuti perkuliahan, ia didampingi relawan yang membantu mencatat materi. Saat sidang skripsi, ia juga mendapatkan dukungan juru bahasa isyarat. Tidak hanya itu, PLD turut menghadirkan kelas bahasa isyarat, kelas Bahasa Indonesia khusus bagi mahasiswa Tuli, serta membangun ekosistem kampus yang lebih ramah bagi difabel.

Pengalaman Hastu juga menunjukkan bahwa inklusi tidak hanya dibangun oleh satu unit layanan, tetapi oleh keterlibatan banyak pihak. Ia mengingat bagaimana sejumlah dosen turut menunjukkan kepedulian dengan menyiapkan materi perkuliahan yang lebih aksesibel. Ada dosen yang melek teknologi, berinisiatif membuat tampilan presentasi yang ramah difabel, dan memberi ruang agar mahasiswa Tuli dapat mengikuti pembelajaran dengan lebih baik.

Dari ruang kelas yang inklusif itu, kepercayaan diri Hastu tumbuh. Ia tidak hanya mampu menyelesaikan studi, tetapi juga lulus tepat waktu pada 2021. Capaian itu menjadi salah satu momen penting dalam hidupnya.

“Setelah lulus, aku merasa keren. Aku bisa kuliah, bisa lulus tepat waktu. Aku setuju kalau teman-teman bilang aku keren. Tapi di balik itu semua, ada proses panjang yang aku rasakan di kelas inklusi,” ujarnya.

Kini, Hastu bekerja di salah satu perusahaan BUMN di Jakarta, yakni Pertamina, pada bagian administrasi IT. Selama tiga tahun terakhir, ia menjalani dunia profesional dengan bekal pengalaman akademik dan kepercayaan diri yang ia bangun sejak kuliah di UIN Sunan Kalijaga.

Namun, pengabdian Hastu tidak berhenti di ruang kerja. Di luar pekerjaannya, ia aktif menjadi content creator yang mengedukasi publik tentang dunia Tuli. Melalui media sosial, ia mengenalkan cara berkomunikasi dengan teman-teman Tuli, mengajak masyarakat belajar bahasa isyarat, dan menyuarakan pentingnya aksesibilitas bagi difabel.

Bagi Hastu, konten bukan sekadar aktivitas digital. Ia menjadi jalan untuk membangun pemahaman publik bahwa teman-teman difabel tidak membutuhkan belas kasihan, melainkan kesempatan, akses, dan lingkungan yang mendukung.

“Aku bikin konten edukasi supaya teman-teman difabel berani bersuara. Jangan takut. Kalau difabel butuh akses, ya harus bersuara. Kita harus setara, kita sama dengan orang-orang pada umumnya,” katanya.

Hastu berharap Indonesia semakin ramah bagi difabel. Ia membayangkan aksesibilitas dapat hadir di berbagai kota, di ruang pendidikan, ruang kerja, transportasi, layanan publik, hingga kehidupan sosial masyarakat. Dengan akses yang memadai, difabel dapat merasa diterima dan memiliki kesempatan yang sama untuk berkembang.

Dalam refleksinya, Hastu menyampaikan apresiasi tinggi kepada PLD UIN Sunan Kalijaga yang kini memasuki usia 19 tahun. Menurutnya, keberadaan PLD telah memberi dampak nyata bagi mahasiswa difabel, bukan hanya melalui layanan pendampingan, tetapi juga melalui upaya membangun kesadaran kolektif di lingkungan kampus.

“Mau apresiasi dan penghormatan setinggi-tingginya kepada PLD. Berkat usaha mereka menciptakan kampus inklusi, ini sangat membantu disabilitas. Dosen terlibat, mahasiswa terlibat, termasuk menjadi relawan,” ujarnya.

Bagi Hastu, UIN Sunan Kalijaga bukan hanya tempat ia menempuh pendidikan tinggi. Kampus ini menjadi ruang yang membantunya menerima diri, menemukan keberanian, dan membuktikan bahwa difabel dapat tumbuh sejauh akses dan kesempatan dibuka..

“Aku berharap kampus ini bisa menjadi role model bagi kampus lainnya supaya ramah disabilitas seperti UIN,” katanya.

Kepada teman-teman difabel, khususnya teman-teman Tuli yang saat ini masih berkuliah, Hastu menitipkan semangat. “Teman-teman Tuli harus yakin, percaya pada diri sendiri, dan melihat kemampuan diri sendiri. Kita pasti bisa. Proses memang panjang, tapi kita harus tetap berusaha dan yakin,” ujarnya.

Dari pengalaman Hatu, inklusi bukan slogan. Ia hadir dalam notulensi yang membantu mahasiswa memahami kuliah, dalam juru bahasa isyarat yang membuka ruang komunikasi, dalam dosen yang menyiapkan materi aksesibel, dalam relawan yang setia mendampingi, dan dalam kampus yang memilih untuk membuka ruang bagi semua.(humassk)

Di situlah pendidikan menemukan maknanya yang paling manusiawi, bukan hanya mengantar seseorang meraih gelar, tetapi membantu setiap orang menemukan keberanian untuk menjadi dirinya sendiri.