WhatsApp Image 2026-06-25 at 16.24.01.jpeg

Kamis, 25 Juni 2026 16:14:00 WIB

0

Rektor UIN Sunan Kalijaga Prof. Noorhaidi Hasan Terpilih sebagai Presiden AIUA 2026–2028, Pimpin Jejaring Perguruan Tinggi Islam Se-Asia

Rektor UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Prof. Noorhaidi Hasan, secara aklamasi terpilih sebagai Presiden Asian Islamic Universities Association (AIUA) periode 2026–2028 dalam 15th Annual General Meeting yang berlangsung di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, 23–25 Juni 2026. Amanah tersebut menjadi tonggak penting, tidak hanya bagi UIN Sunan Kalijaga, tetapi juga bagi pendidikan tinggi Islam Indonesia, karena menempatkan seorang akademisi Indonesia di pucuk kepemimpinan jejaring sekitar 90 perguruan tinggi Islam dari berbagai negara di Asia.

Terpilihnya Prof. Noorhaidi tidak sekadar menandai pergantian kepemimpinan organisasi. Lebih dari itu, kepercayaan yang diberikan oleh para anggota AIUA mencerminkan pengakuan atas rekam jejak akademik, kapasitas kepemimpinan, dan jejaring internasional yang telah dibangunnya selama bertahun-tahun.

AIUA merupakan asosiasi perguruan tinggi Islam di kawasan Asia yang berperan memperkuat kolaborasi akademik, riset, pertukaran sivitas akademika, serta peningkatan mutu pendidikan tinggi Islam. Dalam konteks perubahan global yang semakin kompleks, organisasi ini menjadi ruang strategis untuk merumuskan kontribusi universitas Islam terhadap pembangunan berkelanjutan, perdamaian, dan kemajuan ilmu pengetahuan.

Kepercayaan yang kini diemban Prof. Noorhaidi lahir dari perjalanan akademik dan kepemimpinan yang panjang. Dalam dunia akademik internasional, Prof. Noorhaidi dikenal sebagai salah satu ilmuwan Indonesia yang memiliki kontribusi penting dalam kajian Islam kontemporer. Namanya masuk dalam daftar 2 persen ilmuwan paling berpengaruh di dunia, sebuah pengakuan internasional yang diberikan berdasarkan dampak publikasi ilmiah dan sitasi karya akademiknya.

Fondasi keilmuannya dibangun melalui studi magister dan doktor di Belanda. Pengalaman tersebut membentuk perspektif akademik yang berpijak pada tradisi keilmuan Islam sekaligus terbuka terhadap perkembangan ilmu pengetahuan global. Sejak itu, ia aktif membangun kolaborasi akademik lintas negara dan terlibat dalam berbagai forum internasional.

Perjalanan kepemimpinannya pun berkembang secara bertahap. Di UIN Sunan Kalijaga, ia pernah menjabat sebagai Dekan Fakultas Syariah dan Hukum, kemudian dipercaya memimpin Program Pascasarjana sebagai direktur. Kiprahnya berlanjut ketika mendapat amanah sebagai Dekan Fakultas Islamic Studies Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII), sebelum akhirnya kembali ke UIN Sunan Kalijaga sebagai rektor.

Kombinasi antara reputasi ilmiah, pengalaman memimpin institusi pendidikan tinggi, serta jejaring akademik internasional itulah yang dinilai menjadi modal penting dalam memimpin AIUA pada periode 2026-2028.

Terpilihnya Prof. Noorhaidi juga menandai berlanjutnya kepercayaan AIUA kepada kepemimpinan Indonesia. Ia menerima estafet kepemimpinan dari Prof. Asep Saepudin Jahar, Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, yang menjabat Presiden AIUA pada periode 2024–2026. Estafet tersebut menunjukkan bahwa perguruan tinggi Islam Indonesia terus memainkan peran strategis dalam membangun arah dan kolaborasi pendidikan tinggi Islam di kawasan Asia.

Rangkaian AIUA 2026 diawali dengan seminar internasional bertajuk "Transforming Islamic Higher Education for Advancing Global Peace, Resilience, and Inclusive Development." Seminar menghadirkan mantan Wakil Presiden Republik Indonesia, Muhammad Jusuf Kalla, bersama para akademisi dan pemimpin perguruan tinggi Islam dari berbagai negara. Diskusi menyoroti transformasi pendidikan tinggi Islam, penguatan riset lintas negara, inovasi kurikulum, serta kontribusi universitas Islam dalam mewujudkan perdamaian dan pembangunan yang inklusif.

Selanjutnya, Annual General Meeting menjadi forum evaluasi program kerja organisasi, penyusunan agenda AIUA periode 2026–2027, sekaligus pemilihan kepemimpinan baru yang diikuti delegasi dari sekitar 90 perguruan tinggi anggota.

Sementara itu, dalam pidato perdananya sebagai Presiden AIUA, Prof. Noorhaidi menegaskan bahwa organisasi yang dipimpinnya harus menjadi motor penggerak peningkatan kualitas pendidikan tinggi Islam di Asia.

"Pertemuan ini akan menjadi platform untuk melakukan peningkatan kualitas riset dan pengakuan internasional. Dengan 90 anggota di seluruh Asia, AIUA punya potensi besar melahirkan riset unggul dan lulusan berakhlak yang siap berkontribusi untuk peradaban," ujarnya.

Ia menyampaikan, kekuatan AIUA tidak hanya terletak pada besarnya jumlah anggota, tetapi pada kemampuannya membangun kolaborasi yang menghasilkan dampak nyata bagi pengembangan ilmu pengetahuan dan kemajuan masyarakat. Karena itu, kepemimpinannya akan diarahkan pada penguatan riset kolaboratif, peningkatan mobilitas dosen dan mahasiswa, pengembangan publikasi ilmiah bersama, serta perluasan pengakuan internasional bagi universitas-universitas Islam di Asia.

Bagi Prof. Noorhaidi, kepemimpinan AIUA bukanlah tentang seorang presiden, melainkan tentang kemampuan seluruh anggota bergerak dalam visi yang sama. Ia meyakini kekuatan organisasi terletak pada kolaborasi yang selama ini telah dibangun lintas negara.

Atas dasar itu, ia menyampaikan apresiasi kepada seluruh anggota AIUA, khususnya Sekretariat Jenderal yang berkedudukan di Universiti Sultan Azlan Shah (USAS), Malaysia.

"Terima kasih kepada semua anggota, terutama Sekjen USAS Malaysia, yang telah menjadi tulang punggung organisasi. Tanpa kerja sama dan komitmen bersama, AIUA tidak akan berkembang seperti hari ini," katanya.

Pertemuan para pimpinan perguruan tinggi Islam se-Asia itu menghasilkan kesepakatan untuk memperkuat kolaborasi lintas negara, meningkatkan kualitas riset bersama, serta memperluas pengakuan internasional universitas-universitas Islam sebagai bagian dari upaya menjawab tantangan global.

Bagi UIN Sunan Kalijaga, amanah yang kini diemban Prof. Noorhaidi menjadi lebih dari sekadar capaian personal seorang rektor. Kepercayaan tersebut mencerminkan semakin kuatnya posisi universitas dalam percaturan pendidikan tinggi Islam internasional sekaligus mempertegas kontribusi perguruan tinggi Islam Indonesia sebagai mitra strategis dalam membangun masa depan pendidikan, ilmu pengetahuan, dan peradaban di kawasan Asia.(humassk)