1002255210.jpg

Kamis, 16 Juli 2026 15:30:00 WIB

0

Memberi Ruang bagi Semua, PLD UIN Sunan Kalijaga Hadirkan Seleksi Inklusif bagi Calon Mahasiswa Difabel

Pendidikan adalah hak setiap orang, tanpa memandang kondisi fisik, sensorik, intelektual, maupun psikososial yang dimilikinya. Prinsip tersebut menjadi salah satu komitmen global dalam Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya Tujuan 4 tentang Pendidikan Berkualitas yang menekankan pentingnya akses pendidikan yang inklusif, setara, dan bermutu bagi semua.


Semangat itu pula yang menjadi salah satu core values UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, yakni inklusif. Bagi UIN Sunan Kalijaga, inklusivitas bukan sekadar slogan, melainkan diwujudkan melalui sistem pendidikan yang memastikan setiap calon mahasiswa memperoleh kesempatan yang sama untuk belajar, berkembang, dan meraih masa depan terbaiknya.

Komitmen tersebut kembali diwujudkan melalui penyelenggaraan Seleksi Jalur Portofolio Difabel yang dilaksanakan secara luring pada Kamis (16/7/2026) di Gedung Rektorat Lama UIN Sunan Kalijaga. Seluruh rangkaian seleksi mendapat pendampingan penuh dari Pusat Layanan Difabel (PLD) LPPM UIN Sunan Kalijaga, mulai dari pra seleksi,  hingga tahap wawancara.

Koordinator Pusat Layanan Difabel LPPM UIN Sunan Kalijaga, Dr. Asep Jahidin, menegaskan bahwa pendidikan inklusif tidak hanya berarti membuka pintu masuk bagi penyandang disabilitas, tetapi juga memastikan seluruh proses pendidikan dapat diakses secara adil sesuai kebutuhan masing-masing individu.

"Inklusivitas berarti memastikan setiap orang memiliki kesempatan yang sama untuk menunjukkan kemampuan terbaiknya. Karena itu, yang kami sesuaikan bukan standar akademiknya, tetapi cara agar setiap calon mahasiswa dapat mengikuti proses seleksi secara setara melalui penyediaan akomodasi yang layak sesuai kebutuhannya. Pendidikan adalah hak semua orang, dan perguruan tinggi memiliki tanggung jawab untuk memastikan hak itu dapat diwujudkan," ujarnya.

Pendampingan yang dilakukan PLD bahkan telah dimulai sejak calon mahasiswa mendaftarkan diri. Melalui pertemuan daring, tim PLD membuka ruang konsultasi, silaturahmi, sekaligus memetakan kebutuhan masing-masing peserta agar seluruh tahapan seleksi dapat berlangsung secara optimal.

Salah satu relawan PLD, Rahma, yang juga merupakan mahasiswa Prodi SKI ini mengungkapkan pada pelaksanaan tes tulis, setiap peserta memperoleh layanan sesuai karakteristik disabilitasnya. “Peserta tunanetra didampingi untuk membacakan soal ujian serta mengikuti asesmen tambahan menggunakan huruf Braille dan komputer bicara. Peserta tuli, autisme, disabilitas intelektual, ADHD, disabilitas mental, maupun daksa memperoleh bentuk pendampingan dan penyesuaian layanan sesuai kebutuhan masing-masing,” katanya.

Perlu diketahui bahwa tahun ini, jalur Portofolio Difabel diikuti oleh 19 calon mahasiswa, terdiri atas 4 peserta tunanetra, 9 peserta tuli, 2 peserta autisme, 1 peserta disabilitas mental, 1 peserta disabilitas intelektual, 1 peserta ADHD, dan 1 peserta disabilitas daksa.


“Para peserta juga mengikuti interview bersama tim ahli PLD dan LPPM. Orang tua juga dilibatkan dalam proses tersebut untuk memetakan dukungan keluarga terhadap keberlangsungan studi calon mahasiswa selama menempuh pendidikan di UIN Sunan Kalijaga,” lanjutnya.

Harapan besar juga datang dari para peserta seleksi. Salma mengaku telah beberapa kali berusaha melanjutkan pendidikan tinggi, namun belum berhasil. Ia juga beberapa kali melamar pekerjaan, tetapi prosesnya selalu terhenti pada tahap wawancara. Pengalaman tersebut tidak membuatnya menyerah. Sebaliknya, berbagai kegagalan itu justru menguatkan tekadnya untuk terus belajar dan meningkatkan kompetensi sebagai bekal meraih masa depan yang lebih baik.

“Ketika mengetahui UIN Sunan Kalijaga membuka jalur Portofolio Difabel dengan pendampingan yang begitu baik melalui Pusat Layanan Difabel (PLD), saya merasa menemukan kesempatan yang selama ini saya cari,” tuturnya.

Salma mendaftar pada Program Studi Ilmu Kesejahteraan Sosial karena melihat bidang tersebut memberikan ruang untuk memahami isu-isu disabilitas secara lebih mendalam. “Sebagai penyandang disabilitas, saya ingin membekali diri dengan pengetahuan dan kompetensi profesional agar kelak dapat berkontribusi dalam pemberdayaan penyandang disabilitas. Saya juga ingin bekerja, karena itu hak semua warga negara,” katanya.

Salma juga mengaku merasa lebih percaya diri berkat pendampingan yang diberikan PLD selama mengikuti seluruh rangkaian seleksi.

Dukungan penuh diberikan oleh Marhaini, orang tua Salma. Ia mengapresiasi perhatian yang diberikan UIN Sunan Kalijaga kepada calon mahasiswa difabel dan keluarganya.

"Kami sangat bersyukur dan merasa terbantu. PLD mendampingi sejak awal sehingga kami memahami setiap tahapan yang harus dijalani. Sebagai orang tua, kami merasa tenang karena melihat kampus benar-benar siap menerima dan mendukung anak-anak difabel untuk berkembang," ujarnya.

Di UIN Sunan Kalijaga, inklusivitas tidak berhenti sebagai narasi, tetapi hadir dalam kebijakan, layanan, pendampingan, serta ekosistem akademik yang memastikan setiap individu memiliki kesempatan yang sama untuk belajar, berprestasi, dan berkontribusi bagi masyarakat.(humassk)