Kiprah akademisi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta kembali mewarnai pengembangan Pendidikan Agama Islam di tingkat nasional dan internasional. Hal itu tercermin melalui kepemimpinan Prof. Dr. Eva Latipah, S.Ag., S.Psi., M.Si., Guru Besar UIN Sunan Kalijaga yang dipercaya memimpin Perkumpulan Program Studi Pendidikan Agama Islam Indonesia (PPPAII). Di bawah kepemimpinannya, PPPAII menggelar Musyawarah Nasional dan Annual International Conference on Islamic Religious Education (AICIRE) 2026 di Premiere Grand Tjokro Bandung.
Mengusung tema “Transforming Islamic Religious Education for National Quality and Global Competitiveness”, MUNAS dan AICIRE 2026 mempertemukan guru besar, dosen, pengelola program studi, mahasiswa, peneliti, serta pimpinan perguruan tinggi dari berbagai wilayah Indonesia. Forum ini menjadi ruang bersama untuk membaca tantangan Pendidikan Agama Islam sekaligus merumuskan arah transformasinya dalam menghadapi perubahan kebijakan pendidikan, perkembangan teknologi, kecerdasan artifisial, tuntutan akreditasi, dan kompetisi global.
Forum ini menjadi ruang konsolidasi bagi program studi Pendidikan Agama Islam untuk merespons tantangan peningkatan kualitas pendidikan tinggi. Pada (14/7/2026) berbagai strategi dibahas secara komprehensif, mulai dari penguatan tata kelola akademik dan sistem penjaminan mutu hingga pengembangan kurikulum, inovasi pembelajaran, riset, publikasi ilmiah, rekognisi akademik, serta upaya memperkuat daya saing menuju akreditasi unggul dan pengakuan internasional.
Sebagaimana disampaikan Prof. Eva Latipah dalam pembukaan MUNAS, bahwa PPPAII tidak cukup hanya berfungsi sebagai wadah administratif dan silaturahmi antarprogram studi, tetapi harus tumbuh sebagai kekuatan akademik yang mampu mengawal mutu, menyusun arah pengembangan keilmuan, memperkuat kapasitas pengelola prodi, serta menjembatani kebutuhan perguruan tinggi dengan kebijakan nasional.
Figur yang juga merupakan Direktur Center for Integrative and Transformative Studies (CIINTRA) UIN Sunan Kalijaga ini, menegaskan transformasi mutu PAI harus dimulai dari keberanian melakukan pemetaan secara objektif: memahami posisi program studi saat ini, mengenali kesenjangan mutu, dan menentukan arah pengembangan yang terukur. Program studi PAI perlu bergerak dari sekadar memenuhi dokumen administratif menuju budaya mutu yang hidup dalam tata kelola, kurikulum, pembelajaran, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, dan pelayanan kepada mahasiswa.
“Sinergi antara jenjang sarjana, pendidikan profesi, magister, dan doktor juga menjadi penting. Setiap jenjang memiliki karakteristik dan mandat akademik yang berbeda, tetapi harus berada dalam satu ekosistem keilmuan PAI yang saling menguatkan. Penguatan mutu tersebut harus dibarengi dengan penerapan Outcome-Based Education, pemanfaatan teknologi dan kecerdasan artifisial secara etis, pengembangan kapasitas dosen, serta perluasan kolaborasi nasional dan internasional,” papar Prof. Eva
pada puncak pelaksanaan AICIRE 2026 (15/7/2026), Prof. Eva kembali menyampaikan arah akademik AICIRE sebagai forum yang tidak berhenti pada penyajian makalah, tetapi diarahkan untuk memperkuat ekosistem riset, publikasi, inovasi pembelajaran, dan kerja sama internasional di bidang Pendidikan Agama Islam.
Ia mengemukakan bahwa Pendidikan Agama Islam saat ini berada pada persimpangan penting. Di satu sisi, PAI memiliki mandat untuk menjaga nilai, spiritualitas, karakter, dan identitas keagamaan. Di sisi lain, PAI harus responsif terhadap transformasi digital, perkembangan kecerdasan artifisial, perubahan karakter peserta didik, problem kemanusiaan global, serta tuntutan mutu pendidikan yang semakin kompleks.
Karena itu, menurut Prof. Eva, PAI tidak boleh dikembangkan secara eksklusif dan terisolasi. “PAI harus mampu berdialog dengan psikologi, kedokteran, teknologi, ilmu sosial, budaya, dan berbagai disiplin ilmu lainnya. Pendekatan interdisipliner dan integratif diperlukan agar Pendidikan Agama Islam tidak hanya kuat secara normatif, tetapi juga memiliki daya jawab terhadap persoalan nyata Masyarakat,” ungkapnya.
Ia juga mendorong agar hasil-hasil penelitian yang dipresentasikan dalam AICIRE tidak berhenti sebagai dokumen konferensi, tetapi dikembangkan menjadi publikasi ilmiah, rekomendasi kebijakan, inovasi pembelajaran, bahan pengembangan kurikulum, serta dasar bagi lahirnya kolaborasi lintas perguruan tinggi dan lintas negara. Dengan demikian, AICIRE dapat menjelma menjadi salah satu simpul penting pengembangan pengetahuan dan reputasi akademik PAI Indonesia.
Bagi UIN Sunan Kalijaga, gagasan tersebut memiliki relevansi strategis karena selaras dengan paradigma integrasi-interkoneksi dan orientasi transformasi keilmuan yang selama ini menjadi identitas akademik universitas. Forum PPPAII sekaligus menjadi ruang untuk mendiseminasikan pengalaman, pemikiran, dan praktik baik UIN Sunan Kalijaga dalam pengembangan pendidikan Islam kepada jejaring perguruan tinggi di seluruh Indonesia.(humassk)