WhatsApp Image 2026-07-20 at 08.44.01(3).jpeg

Senin, 20 Juli 2026 10:36:00 WIB

0

Dukung Gerakan Pencegahan Kenakalan Remaja, Rektor UIN Sunan Kalijaga Tekankan Peran Bersama Lindungi Generasi Muda

Usia sekolah menengah merupakan salah satu fase paling menentukan dalam kehidupan seseorang. Pada masa inilah mimpi mulai dibangun, karakter dibentuk, dan masa depan dipertaruhkan. Namun, pada saat yang sama, remaja juga berada pada fase paling rentan terhadap berbagai pengaruh negatif, mulai dari tawuran, penyalahgunaan narkoba dan minuman keras, hingga pergaulan yang dapat mengubah arah hidup mereka hanya karena satu keputusan yang keliru.


Kesadaran itulah yang mendorong berbagai elemen di Daerah Istimewa Yogyakarta bergerak bersama menjaga generasi mudanya. UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta menjadi salah satu perguruan tinggi yang mengambil bagian dalam gerakan tersebut melalui kehadiran Rektor UIN Sunan Kalijaga, Prof. Noorhaidi Hasan di SMA N 5 Kota Yogyakarta pada Upacara Bendera dan Deklarasi Bersama Warga Sekolah SMA/SMK se-DIY, Senin (20/7/2026), yang dalam kesempatan tersebut menyampaikan amanat  Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta.


Mengawali amanatnya, Rektor mengajak seluruh peserta upacara menaruh perhatian pada satu persoalan yang tengah menjadi keprihatinan bersama, yakni meningkatnya berbagai bentuk kenakalan remaja. Menurutnya, sebagai kota pendidikan dan kebudayaan, Yogyakarta tidak boleh membiarkan generasi mudanya kehilangan masa depan akibat tawuran, penyalahgunaan narkoba dan minuman keras, maupun kepemilikan senjata tajam. Persoalan itu, katanya, telah melampaui batas pelanggaran disiplin sekolah dan menjadi tantangan sosial yang harus dijawab melalui kolaborasi seluruh elemen masyarakat.

"Tidak ada anak yang lahir dengan cita-cita menjadi pelaku kekerasan. Semuanya sering berawal dari hal yang dianggap sepele, seperti salah memilih teman, mencari pengakuan, atau ingin terlihat berani. Padahal keberanian sejati adalah ketika seseorang mampu berkata 'tidak' pada ajakan yang salah serta berani menjaga diri dan teman-temannya," tegasnya.

Ia menjelaskan bahwa sebuah tawuran tidak pernah terjadi secara tiba-tiba. Keputusan yang berujung pada kekerasan sesungguhnya telah dimulai jauh sebelumnya, ketika seorang remaja memilih diam saat melihat kesalahan, atau memilih mengikuti tekanan kelompok daripada mempertahankan nilai-nilai yang diyakininya.

“Kalian bukan sekadar siswa SMA atau SMK. Kalian adalah calon dokter, guru, teknisi, pengusaha, seniman, anggota TNI, anggota Polri, bahkan pemimpin bangsa di masa depan. Sungguh sayang apabila potensi sebesar itu padam hanya karena satu malam yang salah," ujarnya

Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa menjaga generasi muda bukan semata tugas sekolah. Pemerintah daerah, keluarga, perguruan tinggi, aparat keamanan, hingga masyarakat harus membangun kolaborasi yang kuat melalui gerakan bersama. Salah satunya dengan memperkuat inisiatif Jaga Warga sebagai benteng sosial di lingkungan masing-masing, mulai dari mengawasi anak-anak pada jam-jam rawan, memberikan teguran secara persuasif, hingga melaporkan potensi bahaya kepada aparat.

Di hadapan ribuan pelajar, Prof. Noorhaidi juga mengajak mereka membuat pilihan hidup yang jelas. “Pilih lingkungan pertemanan yang membangun, pilih keberanian melapor ketika melihat kekerasan atau narkoba, pilih pulang tepat waktu dan menghormati orang tua. Menjaga diri sendiri adalah bentuk penghormatan kepada mereka yang telah bekerja keras membesarkan kalian,” paparnya.

Menutup amanatnya, Prof. Noorhaidi mengajak seluruh siswa SMA dan SMK di Daerah Istimewa Yogyakarta untuk menolak kekerasan, narkoba, minuman keras, kepemilikan senjata tajam, serta seluruh bentuk kenakalan remaja yang merusak masa depan. Ia meyakini masa depan Yogyakarta sedang dibangun di ruang-ruang kelas hari ini, melalui setiap keputusan kecil yang diambil para pelajar setelah mereka pulang dari sekolah.

"Jadilah cahaya bagi orang tua, guru, dan Daerah Istimewa Yogyakarta yang kita cintai bersama," pungkasnya.(humassk)