1002290932.jpg

Senin, 27 Juli 2026 16:00:00 WIB

0

Kehumasan Perguruan Tinggi di Era Digital: Forum IPRAHUM di NTB Jadi Ruang Refleksi dan Akselerasi Peran Humas

Era Society 5.0 yang ditandai oleh pesatnya perkembangan teknologi digital dan kecerdasan buatan (AI) telah mengubah lanskap komunikasi secara fundamental. Dalam situasi ini, humas tidak lagi dapat bertahan dengan pola pikir dan pola kerja konvensional. Ketika arus informasi bergerak tanpa batas, hoaks kian masif, dan kepercayaan publik semakin rentan, humas dituntut bertransformasi menjadi profesi yang adaptif, berbasis data, dan berorientasi pada kepercayaan.

Dalam konteks tersebut, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta mengirimkan dua pranata humasnya, yakni Pranata Humas Ahli Madya RTM Maharai dan Pranata Humas Ahli Pertama Ira Nurhasanah, untuk menjadi panelis dalam kegiatan Indonesia Government Public Relations Summit 2026 yang berlangsung pada Senin (27/7/2026) hingga Rabu (29/7/2026), dengan IPRAHUMAS NTB sebagai tuan rumah.

Ketua IPRAHUMAS NTB, Suhirman Adita, menegaskan bahwa humas merupakan garda terdepan dalam menyampaikan informasi kepada publik. Namun, peran tersebut kini tidak lagi sederhana, seiring meningkatnya kompleksitas tantangan komunikasi di era digital. Semenatra humas harus mampu berdiri tegak menjadi garda terdepan penjaga reputasi institusi.

Nada yang sama disampaikan oleh Sekretaris Jenderal DPP IPRAHUMAS, Dr. Mayrianti Annisa Anwar. Ia mengungkapkan bahwa dunia saat ini berada dalam situasi yang penuh ketidakpastian. Perkembangan teknologi berlangsung sangat cepat, AI berkembang pesat, media sosial bergerak tanpa batas, sementara hoaks dan manipulasi digital semakin meningkat. Kondisi ini turut memicu krisis kepercayaan publik yang harus dihadapi secara bersama.

“Humas era kini bukan hanya menyampaikan informasi, tetapi juga menjaga kepercayaan publik, menjadi penghubung antara kebijakan pemerintah dan kebutuhan masyarakat, serta menjadi navigator di tengah derasnya arus informasi,” ujarnya.

Ia menekankan bahwa kebijakan pemerintah tidak cukup hanya disampaikan, tetapi harus dipahami, dipercaya, dan diterima oleh masyarakat. Oleh karena itu, humas dituntut memiliki kemampuan membaca isu secara tajam, melakukan manajemen krisis, mengolah data secara strategis, serta menjunjung tinggi etika dan profesionalisme.

“Sehingga organisasi profesi seperti ini memiliki peran penting dalam memperkuat kapasitas dan memperluas jejaring kehumasan. Peningkatan kompetensi sumber daya manusia menjadi keharusan, melalui pelatihan, sertifikasi, pembelajaran berkelanjutan, serta penguatan literasi digital,” katanya.

Lebih lanjut, ia menegaskan pentingnya transformasi humas berbasis data dan inovasi. Pendekatan berbasis data memungkinkan komunikasi yang lebih tepat sasaran dan berdampak, sekaligus menjadi instrumen penting dalam membangun pemerintahan yang terbuka, partisipatif, dan dipercaya masyarakat.

Dalam kesempatan yang sama Rektor Universitas Islam Negeri Mataram, Prof. Masnun, menambahkan bahwa sinergi menjadi kunci dalam menghadapi era 5.0. Humas dituntut mampu melahirkan inovasi komunikasi, memanfaatkan dinamika informasi termasuk potensi viralitas, serta memperkuat literasi komunikasi berbasis keilmuan.

Ia juga menyoroti tantangan kecepatan informasi, di mana masyarakat menuntut informasi yang real-time sekaligus berintegritas. Dalam situasi tersebut, humas diharapkan menjadi garda depan yang mampu menjadi penyejuk di tengah dinamika informasi yang memanas, serta menghadirkan klarifikasi berbasis data.

“Perkuat literasi, perkuat sinergi, dan perkuat integritas,” tegasnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Kominfotik NTB, Dr. Akhsanul Khalik, menekankan bahwa perubahan terjadi setiap hari, bahkan setiap menit. AI telah mengubah cara masyarakat mencari informasi sekaligus membentuk opini publik.

Ia menambahkan, informasi dapat diproduksi dalam hitungan detik, tetapi kepercayaan hanya dapat dibangun melalui konsistensi dan integritas dalam jangka panjang. Oleh karena itu, humas tidak hanya ber Era Society 5.0 yang ditandai oleh pesatnya perkembangan teknologi digital dan kecerdasan buatan (AI) telah mengubah lanskap komunikasi secara fundamental. Dalam situasi ini, humas tidak lagi dapat bertahan dengan pola pikir dan pola kerja konvensional. Ketika arus informasi bergerak tanpa batas, hoaks kian masif, dan kepercayaan publik semakin rentan, humas dituntut bertransformasi menjadi profesi yang adaptif, berbasis data, dan berorientasi pada kepercayaan.

Sementara itu, Kepala Dinas Kominfotik NTB, Dr. Akhsanul Khalik, menekankan bahwa perubahan terjadi setiap hari, bahkan setiap menit. AI telah mengubah cara masyarakat mencari informasi sekaligus membentuk opini public dan membangun kepercayaan.

“Informasi dapat diproduksi dalam hitungan detik, tetapi kepercayaan hanya dapat dibangun melalui konsistensi dan integritas dalam jangka panjang. Oleh karena itu, humas tidak hanya berperan sebagai penyampai informasi, tetapi juga sebagai wajah sekaligus telinga pemerintah. Humas bukan hanya membawa suara pemerintah kepada masyarakat, tetapi juga membawa suara masyarakat kembali kepada pengambil kebijakan,” katanya.

Pemanfaatan AI dalam tata kelola pemerintahan dinilai akan semakin luas, mulai dari mempercepat analisis data hingga meningkatkan responsivitas pelayanan publik. Namun demikian, teknologi tidak akan pernah menggantikan nilai-nilai dasar seperti kejujuran, empati, integritas, dan hati nurani.

“Teknologi hanyalah alat, yang menentukan arah penggunaannya adalah manusia,” tegasnya.

Forum ini menjadi ruang refleksi atas tingginya kompetensi yang harus dimiliki insan humas seiring dengan meningkatnya tuntutan di tengah tantangan era 5.0. Dalam konteks ini, humas dituntut untuk terus memperbarui keterampilan dan beradaptasi dengan perkembangan zaman, agar mampu menyampaikan informasi yang benar-benar dibutuhkan publik secara tepat, akurat, dan relevan. Dari sinilah profesionalisme humas terbentuk dan kepercayaan publik tumbuh secara alami.(humassk)