Revitalisasi Madrasah Aliyah (MA)
Program Keterampilan membuka peluang bagi madrasah untuk melahirkan lulusan
yang memiliki kemampuan akademik, keterampilan vokasional, sekaligus karakter
dan akhlak yang kuat. Dengan bekal tersebut, lulusan madrasah diharapkan
memiliki pilihan masa depan yang lebih luas, baik melanjutkan pendidikan ke
perguruan tinggi, memasuki dunia kerja, maupun membangun usaha secara mandiri.
Namun, penguatan keterampilan
vokasional saja belum cukup. Revitalisasi madrasah perlu tetap berpijak pada
nilai-nilai humanis-religius agar kemampuan yang diperoleh peserta didik
berjalan beriringan dengan pembentukan karakter dan identitas keislaman.
Temuan tersebut mengemuka dalam
disertasi Muhammad Wahid Jamil berjudul “Evaluasi Kritis Revitalisasi
Madrasah Aliyah Program Keterampilan Daerah Istimewa Yogyakarta” yang
dipertahankan dalam Ujian Terbuka Program Doktor (S3) Studi Islam UIN Sunan
Kalijaga Yogyakarta, Rabu (19/8/2026).
Melalui penelitian tersebut, Wahid
Jamil menemukan bahwa revitalisasi Program Keterampilan memberikan sejumlah
dampak positif. Program ini mampu meningkatkan animo masyarakat, reputasi dan
prestasi madrasah, sekaligus menghasilkan lulusan yang memiliki kompetensi
akademik, keterampilan vokasional, akhlak mulia, serta kesiapan untuk
melanjutkan pendidikan, bekerja, maupun berwirausaha.
Meningkatnya kepercayaan masyarakat
menjadi salah satu dampak penting yang ditemukan. Menurut Wahid Jamil, semakin
kuatnya reputasi dan prestasi madrasah turut mendorong meningkatnya minat orang
tua untuk menyekolahkan anaknya di Madrasah Aliyah.
Di balik capaian tersebut,
penelitian ini juga menemukan sejumlah konsekuensi yang tidak sepenuhnya
direncanakan. Revitalisasi Program Keterampilan berdampak pada meningkatnya
beban kerja guru, semakin padatnya aktivitas peserta didik, bertambahnya
kebutuhan pembiayaan, hingga munculnya ketimpangan kapasitas antarmadrasah
dalam mengimplementasikan program.
“Temuan ini menunjukkan bahwa
keberhasilan suatu kebijakan tidak hanya diukur dari tercapainya tujuan formal,
tetapi juga dari keseluruhan dampak aktual yang ditimbulkannya,” ungkap Wahid
Jamil.
Menjembatani
Keterampilan dan Nilai Keislaman
Penelitian dilakukan pada empat
Madrasah Aliyah Negeri Program Keterampilan di Daerah Istimewa Yogyakarta,
yakni MAN 2 Kulon Progo, MAN 2 Yogyakarta, MAN 2 Bantul, dan MAN 1 Sleman. Data
dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi partisipatif, studi
dokumentasi, serta diskusi kelompok.
Dengan pendekatan kualitatif,
penelitian menggunakan desain Goal-Free Evaluation Michael Scriven yang
diperkaya dengan analisis kebijakan William N. Dunn. Perspektif teori kritis
pendidikan Michael W. Apple juga digunakan untuk melihat implementasi kebijakan
pendidikan sebagai proses yang berkaitan dengan kepentingan, nilai, relasi
kekuasaan, serta konteks kelembagaan.
Dari penelitian tersebut, Wahid
Jamil melihat adanya dinamika antara orientasi pendidikan vokasi dengan
nilai-nilai humanis-religius. Karena itu, revitalisasi Madrasah Aliyah Program
Keterampilan menurutnya perlu diarahkan pada upaya mempertemukan kompetensi
vokasional dengan karakter keislaman, sehingga keterampilan yang dimiliki
peserta didik tidak tercerabut dari identitas pendidikan madrasah.
Penelitian ini kemudian melahirkan Teaching
Factory Integrated Model (TFIM), sebuah model konseptual yang mengintegrasikan
pembelajaran akademik, pendidikan karakter keislaman, pembelajaran vokasional,
serta kemitraan dengan dunia usaha, dunia industri, dan dunia kerja.
Model tersebut sekaligus menjadi
kebaruan (novelty) penelitian Wahid Jamil. TFIM ditawarkan sebagai model
integrasi pendidikan vokasi, nilai-nilai humanis-religius, dan paradigma
integrasi-interkoneksi yang dapat menjadi rujukan bagi pengembangan Madrasah
Aliyah Program Keterampilan maupun lembaga pendidikan vokasi berbasis nilai.
Dalam konteks tersebut, paradigma
integrasi-interkoneksi yang menjadi salah satu kekuatan tradisi keilmuan UIN
Sunan Kalijaga memperoleh relevansinya dalam menjawab persoalan pendidikan
kontemporer. Pendidikan vokasi tidak ditempatkan semata-mata sebagai proses
membekali peserta didik dengan keterampilan kerja, melainkan dipertemukan
dengan ilmu keislaman, ilmu pengetahuan, pendidikan karakter, dan kebutuhan
masyarakat.
Berdasarkan temuannya, Wahid Jamil
merekomendasikan agar kebijakan revitalisasi Madrasah Aliyah Program Keterampilan
tidak berhenti pada penguatan aspek vokasional. Pengembangan program juga perlu
memberikan perhatian terhadap pendidikan nilai-nilai keislaman serta
pembentukan identitas lulusan yang religius, berilmu, terampil, dan memiliki
daya saing.
Doktor
ke-1.099 UIN Sunan Kalijaga
Disertasi tersebut berhasil
dipertahankan di hadapan Dewan Penguji Program Doktor Studi Islam UIN Sunan
Kalijaga. Wahid Jamil dinyatakan lulus dengan predikat Sangat Memuaskan
dan menjadi doktor ke-1.099 yang diluluskan UIN Sunan Kalijaga. Ia merupakan
Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa
Yogyakarta.
Dewan penguji terdiri atas Prof. Dr.
Moch. Nur Ichwan, S.Ag., M.A. sebagai Ketua Sidang/Penguji; Dr. Phil. Munirul
Ikhwan, Lc., M.A. sebagai Sekretaris Sidang; Prof. Dr. Abdul Munip, S.Ag.,
M.Ag. sebagai Promotor/Penguji; Prof. Dr. Zainal Arifin, S.Pd.I., M.S.I.
sebagai Promotor/Penguji; Sibawaihi, S.Ag., M.Si., Ph.D.; Dr. Nina Mariani
Noor, S.S., M.A.; Prof. Dr. Hj. Marhumah, M.Pd.; serta Dr. Umi Faizah, M.Pd.
sebagai penguji.
Atas capaian tersebut, Bupati Kulon
Progo Dr. R. Agung Setyawan, S.T., M.Sc., M.M. menyampaikan ucapan selamat
kepada Wahid Jamil. Ia berharap ilmu dan hasil penelitian yang diperoleh selama
menempuh pendidikan doktoral dapat didayagunakan untuk memberikan kontribusi
nyata bagi pembangunan Kulon Progo.
Lebih jauh, keilmuan tersebut
diharapkan dapat memberikan manfaat bagi pengembangan pendidikan sekaligus
pembangunan masyarakat. Dengan demikian, capaian akademik tidak berhenti pada
perolehan gelar doktor, tetapi berlanjut menjadi pengetahuan yang bekerja dan
menghadirkan manfaat di tengah masyarakat.
Semangat tersebut sejalan dengan
ikhtiar UIN Sunan Kalijaga untuk mengembangkan tradisi akademik yang
mempertemukan keilmuan, nilai-nilai keislaman, dan persoalan nyata masyarakat.
Melalui riset yang kritis sekaligus menawarkan jalan keluar, perguruan tinggi
diharapkan terus menghadirkan pengetahuan yang relevan bagi pengembangan
pendidikan dan kemanusiaan.