WhatsApp Image 2026-08-19 at 16.18.18.jpeg

Rabu, 19 Agustus 2026 16:59:00 WIB

0

Riset Doktor UIN Sunan Kalijaga Tawarkan Model Integrasi Pendidikan Vokasi dan Nilai Humanis-Religius di Madrasah

Revitalisasi Madrasah Aliyah (MA) Program Keterampilan membuka peluang bagi madrasah untuk melahirkan lulusan yang memiliki kemampuan akademik, keterampilan vokasional, sekaligus karakter dan akhlak yang kuat. Dengan bekal tersebut, lulusan madrasah diharapkan memiliki pilihan masa depan yang lebih luas, baik melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi, memasuki dunia kerja, maupun membangun usaha secara mandiri.

Namun, penguatan keterampilan vokasional saja belum cukup. Revitalisasi madrasah perlu tetap berpijak pada nilai-nilai humanis-religius agar kemampuan yang diperoleh peserta didik berjalan beriringan dengan pembentukan karakter dan identitas keislaman.

Temuan tersebut mengemuka dalam disertasi Muhammad Wahid Jamil berjudul “Evaluasi Kritis Revitalisasi Madrasah Aliyah Program Keterampilan Daerah Istimewa Yogyakarta” yang dipertahankan dalam Ujian Terbuka Program Doktor (S3) Studi Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Rabu (19/8/2026).

Melalui penelitian tersebut, Wahid Jamil menemukan bahwa revitalisasi Program Keterampilan memberikan sejumlah dampak positif. Program ini mampu meningkatkan animo masyarakat, reputasi dan prestasi madrasah, sekaligus menghasilkan lulusan yang memiliki kompetensi akademik, keterampilan vokasional, akhlak mulia, serta kesiapan untuk melanjutkan pendidikan, bekerja, maupun berwirausaha.

Meningkatnya kepercayaan masyarakat menjadi salah satu dampak penting yang ditemukan. Menurut Wahid Jamil, semakin kuatnya reputasi dan prestasi madrasah turut mendorong meningkatnya minat orang tua untuk menyekolahkan anaknya di Madrasah Aliyah.

Di balik capaian tersebut, penelitian ini juga menemukan sejumlah konsekuensi yang tidak sepenuhnya direncanakan. Revitalisasi Program Keterampilan berdampak pada meningkatnya beban kerja guru, semakin padatnya aktivitas peserta didik, bertambahnya kebutuhan pembiayaan, hingga munculnya ketimpangan kapasitas antarmadrasah dalam mengimplementasikan program.

“Temuan ini menunjukkan bahwa keberhasilan suatu kebijakan tidak hanya diukur dari tercapainya tujuan formal, tetapi juga dari keseluruhan dampak aktual yang ditimbulkannya,” ungkap Wahid Jamil.

Menjembatani Keterampilan dan Nilai Keislaman

Penelitian dilakukan pada empat Madrasah Aliyah Negeri Program Keterampilan di Daerah Istimewa Yogyakarta, yakni MAN 2 Kulon Progo, MAN 2 Yogyakarta, MAN 2 Bantul, dan MAN 1 Sleman. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi partisipatif, studi dokumentasi, serta diskusi kelompok.

Dengan pendekatan kualitatif, penelitian menggunakan desain Goal-Free Evaluation Michael Scriven yang diperkaya dengan analisis kebijakan William N. Dunn. Perspektif teori kritis pendidikan Michael W. Apple juga digunakan untuk melihat implementasi kebijakan pendidikan sebagai proses yang berkaitan dengan kepentingan, nilai, relasi kekuasaan, serta konteks kelembagaan.

Dari penelitian tersebut, Wahid Jamil melihat adanya dinamika antara orientasi pendidikan vokasi dengan nilai-nilai humanis-religius. Karena itu, revitalisasi Madrasah Aliyah Program Keterampilan menurutnya perlu diarahkan pada upaya mempertemukan kompetensi vokasional dengan karakter keislaman, sehingga keterampilan yang dimiliki peserta didik tidak tercerabut dari identitas pendidikan madrasah.

Penelitian ini kemudian melahirkan Teaching Factory Integrated Model (TFIM), sebuah model konseptual yang mengintegrasikan pembelajaran akademik, pendidikan karakter keislaman, pembelajaran vokasional, serta kemitraan dengan dunia usaha, dunia industri, dan dunia kerja.

Model tersebut sekaligus menjadi kebaruan (novelty) penelitian Wahid Jamil. TFIM ditawarkan sebagai model integrasi pendidikan vokasi, nilai-nilai humanis-religius, dan paradigma integrasi-interkoneksi yang dapat menjadi rujukan bagi pengembangan Madrasah Aliyah Program Keterampilan maupun lembaga pendidikan vokasi berbasis nilai.

Dalam konteks tersebut, paradigma integrasi-interkoneksi yang menjadi salah satu kekuatan tradisi keilmuan UIN Sunan Kalijaga memperoleh relevansinya dalam menjawab persoalan pendidikan kontemporer. Pendidikan vokasi tidak ditempatkan semata-mata sebagai proses membekali peserta didik dengan keterampilan kerja, melainkan dipertemukan dengan ilmu keislaman, ilmu pengetahuan, pendidikan karakter, dan kebutuhan masyarakat.

Berdasarkan temuannya, Wahid Jamil merekomendasikan agar kebijakan revitalisasi Madrasah Aliyah Program Keterampilan tidak berhenti pada penguatan aspek vokasional. Pengembangan program juga perlu memberikan perhatian terhadap pendidikan nilai-nilai keislaman serta pembentukan identitas lulusan yang religius, berilmu, terampil, dan memiliki daya saing.

Doktor ke-1.099 UIN Sunan Kalijaga

Disertasi tersebut berhasil dipertahankan di hadapan Dewan Penguji Program Doktor Studi Islam UIN Sunan Kalijaga. Wahid Jamil dinyatakan lulus dengan predikat Sangat Memuaskan dan menjadi doktor ke-1.099 yang diluluskan UIN Sunan Kalijaga. Ia merupakan Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Dewan penguji terdiri atas Prof. Dr. Moch. Nur Ichwan, S.Ag., M.A. sebagai Ketua Sidang/Penguji; Dr. Phil. Munirul Ikhwan, Lc., M.A. sebagai Sekretaris Sidang; Prof. Dr. Abdul Munip, S.Ag., M.Ag. sebagai Promotor/Penguji; Prof. Dr. Zainal Arifin, S.Pd.I., M.S.I. sebagai Promotor/Penguji; Sibawaihi, S.Ag., M.Si., Ph.D.; Dr. Nina Mariani Noor, S.S., M.A.; Prof. Dr. Hj. Marhumah, M.Pd.; serta Dr. Umi Faizah, M.Pd. sebagai penguji.


Atas capaian tersebut, Bupati Kulon Progo Dr. R. Agung Setyawan, S.T., M.Sc., M.M. menyampaikan ucapan selamat kepada Wahid Jamil. Ia berharap ilmu dan hasil penelitian yang diperoleh selama menempuh pendidikan doktoral dapat didayagunakan untuk memberikan kontribusi nyata bagi pembangunan Kulon Progo.

Lebih jauh, keilmuan tersebut diharapkan dapat memberikan manfaat bagi pengembangan pendidikan sekaligus pembangunan masyarakat. Dengan demikian, capaian akademik tidak berhenti pada perolehan gelar doktor, tetapi berlanjut menjadi pengetahuan yang bekerja dan menghadirkan manfaat di tengah masyarakat.

Semangat tersebut sejalan dengan ikhtiar UIN Sunan Kalijaga untuk mengembangkan tradisi akademik yang mempertemukan keilmuan, nilai-nilai keislaman, dan persoalan nyata masyarakat. Melalui riset yang kritis sekaligus menawarkan jalan keluar, perguruan tinggi diharapkan terus menghadirkan pengetahuan yang relevan bagi pengembangan pendidikan dan kemanusiaan.