Sebanyak 50 wali mahasiswa angkatan perdana Program Studi Kedokteran UIN Sunan Kalijaga hadir dalam Temu Wali yang berlangsung di Teatrikal Lantai 4 Gedung Fakultas Kedokteran. Pertemuan tersebut menjadi bagian dari rangkaian pengenalan budaya akademik dan kemahasiswaan, sekaligus menjadi ruang awal untuk mempertemukan keluarga mahasiswa dengan lingkungan akademik yang akan menemani perjalanan pendidikan putra-putri mereka.
Hadir dalam kesempatan tersebut Wakil Rektor Bidang Administrasi Umum, Perencanaan, dan Keuangan UIN Sunan Kalijaga Prof. Dr. Mochamad Sodik, Dekan Fakultas Kedokteran dr. Murtafiqoh Hasanah, Wakil Dekan III Prof. Imam Machali, serta jajaran pimpinan dan dosen Program Studi Kedokteran.
Bagi Fakultas Kedokteran, pertemuan ini memiliki arti lebih dari sekadar agenda penyambutan. Ia menjadi awal dari sebuah hubungan yang diharapkan terus tumbuh antara fakultas, program studi, mahasiswa, dan keluarga.
Ketua panitia, dr. Erna, mengatakan pertemuan tersebut dirancang untuk mempererat silaturahmi sekaligus membangun sinergi antara pihak program studi, fakultas, mahasiswa, dan wali mahasiswa.
“Proses pendidikan kedokteran bukan proses yang ringan. Tantangannya berat dan membutuhkan dukungan bersama,” ujarnya.
Menurutnya, keberhasilan mahasiswa tidak dapat dibebankan hanya kepada institusi pendidikan. Dukungan orang tua menjadi bagian penting dalam menjaga mahasiswa tetap berada pada jalur pendidikannya hingga menyelesaikan seluruh tahapan yang harus ditempuh.
Harapannya sederhana, tetapi sekaligus besar, yaitu mahasiswa dapat menjalani proses pendidikan dengan baik, melanjutkan ke tahap profesi, dan kelak menyelesaikan pendidikan bersama-sama sebagai satu angkatan.
Bagi Wakil Rektor II Prof. Mochamad Sodik, keberadaan Fakultas Kedokteran menandai salah satu babak penting dalam perjalanan UIN Sunan Kalijaga. Ia menyebut kehadiran 50 mahasiswa angkatan perdana sebagai bagian dari sejarah yang sedang ditulis bersama.
Menurutnya, dalam membangun Fakultas Kedokteran, UIN Sunan Kalijaga banyak belajar dari fakultas kedokteran lain yang telah lebih dahulu mapan. Namun, proses tersebut tidak semata-mata dimaknai sebagai upaya meniru, melainkan membangun karakter fakultas melalui prinsip kesalingan dan kemanusiaan.
Prinsip tersebut, menurutnya, sejalan dengan perjalanan panjang UIN Sunan Kalijaga dalam membangun universitas yang memiliki mandat keilmuan yang luas.
Ia mengingat kembali masa ketika muncul perdebatan mengenai masa depan IAIN Sunan Kalijaga, apakah tetap menjadi institut atau berkembang menjadi universitas. Pilihan menjadi universitas membawa konsekuensi berupa mandat keilmuan yang semakin universal.
“Transformasi tersebut kemudian melahirkan fakultas-fakultas baru, termasuk Fakultas Sains dan Teknologi serta Fakultas Ilmu Sosial dan Humaniora. Dalam kerangka itulah, kehadiran Fakultas Kedokteran dipandang sebagai bagian dari ikhtiar memperluas kontribusi UIN Sunan Kalijaga dalam bidang keilmuan dan kemanusiaan,” ujarnya.
Prof. Mochamad Sodik kemudian membawa ingatan pada satu fase penting dalam perjalanan UIN Sunan Kalijaga. Di balik transformasi IAIN menjadi universitas, ada sosok yang menurutnya memiliki peran besar dalam meletakkan fondasi pemikiran tersebut, yakni Prof. Amin Abdullah, rektor dua periode UIN Sunan Kalijaga.
“Prof. Amin Abdullah ini menurut saya tingkatannya bukan hanya guru besar, tapi sudah begawan. Beliau juga menjadi penasihat di BPIP dan AIPI. Beliau yang dulu merancang bagaimana IAIN ini menjadi UIN, sekaligus merumuskan core values UIN Sunan Kalijaga yang sampai sekarang menjadi pijakan kita,” ujarnya.
Salah satu nilai tersebut adalah integratif-interkonektif. Ilmu, kata dia, tidak harus selalu “disenyawakan” menjadi satu. Ada kalanya berbagai disiplin ilmu perlu disandingkan, saling berinteraksi, dan saling menguatkan sehingga membentuk satu kesatuan yang utuh.
Core values lain Adalah dedikatif dan inovatif. Semangat ini, menurutnya, bukan hanya menjadi agenda institusi, tetapi harus masuk ke ruang-ruang pribadi setiap sivitas akademika.
Demikian pula dengan semangat inklusif dan continuous improvement. UIN Sunan Kalijaga ingin terus tumbuh sebagai universitas yang terbuka bagi semua kalangan.
Di ruang pendidikan itu, keberagaman bukan hambatan. Mahasiswa dari berbagai latar belakang dapat tumbuh dan belajar bersama, termasuk mahasiswa penyandang disabilitas.
Namun, keterbukaan tersebut tidak berarti meninggalkan akar keislaman yang menjadi identitas UIN Sunan Kalijaga. Ia menyebut pentingnya tetap menghadirkan hadorotun nash, yakni penguasaan dan penghayatan terhadap khazanah teks keagamaan.
Di sisi lain, ada pula hadorotul falsafah, tradisi refleksi dan pemikiran filosofis yang mendorong mahasiswa tidak sekadar menghafal nilai-nilai, tetapi memahami dan menghidupinya dalam kehidupan.
Termasuk Pancasila, yang menurutnya tidak cukup hanya dihafalkan, tetapi harus menjadi living ideology, nilai yang hadir dan bekerja dalam kehidupan sehari-hari.
Pesan tersebut kemudian bermuara pada satu hal, bahwa perjalanan mahasiswa kedokteran adalah perjalanan bersama.
“Pendidikan dokter membutuhkan waktu panjang, ketekunan, disiplin, dan daya tahan. Karena itu, keluarga dan institusi pendidikan perlu berada dalam satu barisan untuk menjaga mahasiswa melewati setiap tahapannya. Kami juga memohon doa dan masukan agar FK terus tumbuh menjadi fakultas yang profesional dan senantiasa dalam ridha Allah SWT,” pungkasnya.
Temu Wali Mahasiswa Angkatan Perdana menjadi titik awal sinergi antara kampus dan keluarga dalam mendampingi perjalanan 50 mahasiswa menuju profesi dokter. Dari ruang Teatrikal Lantai 4 Fakultas Kedokteran itu, perjalanan panjang generasi pertama FK UIN Sunan Kalijaga pun dimulai. Mereka tidak hanya diharapkan sampai pada gelar dokter, tetapi tumbuh menjadi tenaga kesehatan yang profesional, inovatif, inklusif, dan memiliki keberpihakan pada kemanusiaan.(humassk)