Setiap kampus memiliki cerita tentang masa depannya. Bagi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, salah satu halaman itu sedang disiapkan di Pajangan, Bantul. Di atas lahan seluas sekitar 71,5 hektare, sebuah kawasan pendidikan dirancang bukan sekadar untuk menambah ruang belajar, tetapi untuk menopang visi besar UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dalam mengembangkan sains, teknologi, kedokteran, kesehatan, sekaligus sumber daya manusia Indonesia di masa mendatang.
Langkah menuju visi tersebut terus dimatangkan. UIN Sunan Kalijaga menerima perwakilan Oriental Consultants Global (OCG) dan Oriental Consultants Indonesia (OCI) untuk membahas penguatan proposal pembangunan Kampus II yang tengah dijajaki untuk mendapatkan dukungan pendanaan dari Japan International Cooperation Agency (JICA). Pertemuan berlangsung di Ruang Rektor, Gedung Prof. K.H. Saifuddin Zuhri, Sabtu (5/9/2026).
Pertemuan tersebut dihadiri Rektor UIN Sunan Kalijaga Prof. Noorhaidi Hasan bersama Wakil Rektor Bidang Akademik dan Pengembangan Kelembagaan Prof. Istiningsih, Wakil Rektor Bidang Administrasi Umum, Perencanaan, dan Keuangan Prof. Dr. Mochamad Sodik, dan Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Kerja Sama Prof. Dr. Abdur Rozaki. Turut hadir pulang dalam pertemuan tersebut Kepala Biro AAKK Dr. H. Muhammad Luthfi Hamid, Kepala Bagian Umum Radiman, M.T., Kepala Bagian Akademik Khoirul Anwar, M.A, serta Ka Tim Humas Dra. RTM Maharani, M.M. Dari pihak OCG hadir Shohei Ishikawa dan Chikara Suzuki, sedangkan OCI diwakili Khalid Saleem dan Umar A. Sulaiman. Pertemuan juga melibatkan perwakilan PT Cakra Manggilingan Jaya, Ir. Priyono dan Ir. Listiyanto Kadarono.
Dalam pertemuan tersebut, Rektor menjelaskan bahwa Kampus II Pajangan merupakan bagian dari perencanaan jangka panjang UIN Sunan Kalijaga. Dengan luas kawasan sekitar 71,5 hektare, Kampus II diproyeksikan mampu mendukung perkembangan universitas hingga sekitar 80.000 mahasiswa dalam jangka panjang.
Pengembangan kawasan dirancang dalam beberapa tahap. Fokus pengembangan diarahkan pada bidang-bidang strategis, terutama sains, teknologi, kedokteran, dan kesehatan. Pengembangan tersebut sejalan dengan kebutuhan Indonesia terhadap sumber daya manusia yang memiliki kompetensi di bidang STEM sekaligus mampu merespons perkembangan teknologi dan tantangan masa depan.
UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta juga tengah mempersiapkan pengembangan bidang teknik, ilmu komputer, psikologi, serta sejumlah bidang kesehatan yang melengkapi pengembangan Fakultas Kedokteran dan bidang sains dan teknologi.
Bagi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, pembangunan Kampus II bukan semata-mata proyek fisik. Lebih dari itu, kawasan tersebut diproyeksikan menjadi ruang untuk memperluas kapasitas pendidikan dan memperkuat kemandirian universitas di masa depan.
Karena itu, dukungan yang dijajaki melalui JICA diharapkan tidak hanya berkaitan dengan pembangunan infrastruktur. UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta juga melihat peluang kerja sama dalam pengembangan kapasitas sumber daya manusia, termasuk kemungkinan program studi lanjut, sandwich program, post-doctoral, maupun bentuk kerja sama akademik lainnya dengan institusi di Jepang.
Dalam diskusi, Shohei Ishikawa dari OCG menyampaikan bahwa proposal kepada JICA perlu memperlihatkan kesiapan proyek secara jelas. Salah satu aspek penting yang perlu diperkuat adalah feasibility study, selain menunjukkan alasan strategis mengapa Jepang menjadi mitra dalam pengembangan Kampus II.
Pengalaman UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dalam menjalin kerja sama internasional dinilai menjadi modal penting. Jejaring yang telah terbangun dengan institusi di Jepang dapat menjadi salah satu bukti konkret hubungan akademik yang dapat dikembangkan lebih jauh.
Menurut Ishikawa, kerja sama dengan Jepang juga memiliki nilai tambah karena tidak hanya berorientasi pada pembangunan fisik, tetapi dapat diarahkan pada pengembangan sumber daya manusia. Hal tersebut menjadi salah satu karakter yang dapat memperkuat proposal UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta di hadapan pihak terkait di Indonesia maupun Jepang.
Rektor menyambut gagasan tersebut. Menurutnya, aspek pengembangan sumber daya manusia dan kerja sama akademik dengan Jepang dapat menjadi bagian penting dalam penyempurnaan proposal Kampus II.
UIN Sunan Kalijaga juga menjelaskan perkembangan kesiapan proyek. Sebelumnya, proposal Kampus II yang diajukan untuk masuk dalam Blue Book Bappenas belum berhasil mendapatkan pendanaan. Dalam proses tersebut, salah satu perhatian berkaitan dengan kesiapan proyek, termasuk penyelesaian AMDAL dan kejelasan rencana pembangunan fisik.
Saat ini, berbagai persiapan terus dilakukan untuk menunjukkan kesiapan tersebut. Rencana pembangunan dua gedung pada tahap awal melalui dukungan SBSN pada 2027–2028 menjadi salah satu bagian dari proses tersebut.
Setelah pertemuan bersama Rektor, pembahasan tidak berhenti di ruang rapat. Rombongan OCG dan OCI kemudian diajak langsung melihat lokasi rencana pembangunan Kampus II di Pajangan, Bantul.
Didampingi Wakil Rektor Bidang Administrasi Umum, Perencanaan, dan Keuangan Prof. Dr. Mochamad Sodik dan Kepala Bagian Umum Radiman, M.T., serta Katim Humas RTM.Maharani, rombongan meninjau kawasan yang selama ini menjadi bagian dari master plan pengembangan UIN Sunan Kalijaga. Kunjungan tersebut memberikan kesempatan kepada tim OCG dan OCI untuk melihat secara langsung kondisi kawasan sekaligus memahami konteks pembangunan yang sebelumnya dibahas dalam pertemuan.
Di lokasi, tim UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta menjelaskan secara lebih detail peta desain dan rencana pembangunan Kampus II, termasuk konsep pengembangan kawasan dan tahapan pembangunan yang telah dirancang.
Melihat langsung lokasi membuat diskusi menjadi lebih konkret. Tim OCG memberikan sejumlah masukan mengenai aspek yang perlu diperhatikan dalam penyempurnaan rencana pembangunan ke depan. Salah satu hal yang ditekankan adalah pentingnya melihat Kampus II sebagai sebuah kawasan terpadu, bukan sekadar kumpulan bangunan yang dibangun secara bertahap.
Aspek infrastruktur, menurut OCG, perlu direncanakan secara komprehensif sejak awal sehingga pembangunan setiap tahap tetap terhubung dengan keseluruhan master plan kampus.
Konsep pembangunan yang lebih ramah lingkungan juga menjadi salah satu perhatian. Dalam diskusi, muncul gagasan mengenai penerapan nature-based university, antara lain dalam pengelolaan air, drainase, dan integrasi unsur alam dalam kawasan kampus.
Berbagai masukan tersebut menjadi bahan berharga bagi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta untuk kembali melihat dan menyempurnakan desain maupun konsep pengembangan Kampus II.
Bagi UIN Sunan Kalijaga, proses menuju pembangunan Kampus II merupakan perjalanan jangka panjang. Setiap tahapan, mulai dari kesiapan lahan, master plan, feasibility study, pembangunan awal, hingga penjajakan dukungan internasional, menjadi bagian dari upaya memastikan kawasan tersebut tumbuh secara terencana.
Pengembangan Kampus II juga diarahkan untuk memperkuat bidang-bidang yang makin dibutuhkan masyarakat dan negara. Kedokteran, kesehatan, teknik, sains, dan teknologi menjadi bagian dari prioritas pengembangan, sekaligus membuka ruang lebih luas bagi kerja sama internasional.
Pertemuan dengan OCG dan OCI serta peninjauan langsung ke Pajangan menjadi salah satu langkah untuk mempertemukan visi besar tersebut dengan perencanaan yang lebih konkrit.
Dari sebuah hamparan lahan, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta sedang menyiapkan lebih dari sekadar kampus baru. Pajangan diproyeksikan menjadi ruang tumbuh bagi generasi mahasiswa berikutnya, tempat ilmu pengetahuan, teknologi, kemanusiaan, dan kolaborasi internasional bertemu untuk menjawab kebutuhan masa depan.(humassk)