fdk3.jpeg

Selasa, 15 September 2026 16:11:00 WIB

0

UIN Sunan Kalijaga Bangun Ruang Tumbuh Sehat bagi Mahasiswa Baru, Perhatikan Kesehatan Fisik hingga Mental Sejak Awal Perkuliahan

Memulai kehidupan sebagai mahasiswa bukan hanya tentang memasuki ruang kuliah, mengenal dosen, atau menghadapi tugas-tugas akademik pertama. Bagi sebagian mahasiswa baru, masa transisi juga berarti belajar hidup mandiri, beradaptasi dengan lingkungan baru, membangun pertemanan, sekaligus mengelola berbagai kekhawatiran yang datang bersamaan.

Kesadaran bahwa perjalanan akademik membutuhkan kesiapan yang lebih dari sekadar kemampuan intelektual inilah yang menjadi salah satu perhatian UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Melalui pemeriksaan kesehatan mahasiswa baru, kampus berupaya membangun lingkungan pendidikan yang memberi perhatian terhadap kesejahteraan mahasiswa secara menyeluruh, baik fisik maupun psikologis.

Memasuki hari kedua pelaksanaan pemeriksaan kesehatan mahasiswa baru Tahun Akademik 2026/2027, sebanyak 103 mahasiswa Program Studi Ilmu Kesejahteraan Sosial (IKS), Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK), mengikuti rangkaian pemeriksaan di Ruang Teatrikal FDK, Selasa (15/9/2026).


Kegiatan ini merupakan hasil kolaborasi antara FDK UIN Sunan Kalijaga, Klinik Pratama UIN Sunan Kalijaga, dan Puskesmas Depok 3 Yogyakarta. Pemeriksaan meliputi pengukuran berat dan tinggi badan, tekanan darah, gula darah, pemeriksaan oleh dokter umum dan dokter gigi, hingga pemeriksaan kondisi psikologis melalui layanan Pojok Psikolog.

Kehadiran layanan tersebut menjadi bagian dari upaya deteksi dini sekaligus edukasi agar mahasiswa memiliki kesadaran untuk mengenali dan menjaga kondisi kesehatannya sejak awal menempuh pendidikan tinggi.

Di tengah tuntutan akademik yang makin kompleks, UIN Sunan Kalijaga memandang mahasiswa bukan semata-mata sebagai pembelajar yang dituntut mencapai prestasi akademik. Mereka juga merupakan individu yang sedang tumbuh, beradaptasi, dan menghadapi beragam dinamika kehidupan.

Karena itu, perhatian terhadap kesehatan mental menjadi bagian penting dalam rangkaian pemeriksaan. Melalui Pojok Psikolog, mahasiswa memperoleh kesempatan mengikuti screening psikologis dan mendapatkan informasi awal mengenai kondisi kesehatan mental mereka.

Psikolog Puskesmas Depok 3 Yogyakarta, Elly Ervinawati, S.Psi., Psikolog, menjelaskan bahwa screening merupakan langkah awal untuk mengenali kondisi psikologis seseorang dan bukan penetapan diagnosis klinis.

“Dari beberapa mahasiswa yang sudah keluar hasil screening-nya, mungkin ada yang terindikasi depresi atau kecemasan. Kalau sudah jelas terdiagnosis ada masalah dalam kesehatan mental, kami sarankan untuk ke fasilitas kesehatan tingkat pertama atau puskesmas terdekat demi mendapatkan layanan psikolog,” jelasnya.


Menurut Elly, kehidupan mahasiswa dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, mulai dari lingkungan keluarga, pola pengasuhan, persoalan akademik, pertemanan, hingga relasi di lingkungan pendidikan. Masa transisi menuju kehidupan perguruan tinggi pun dapat menghadirkan tantangan tersendiri, terutama bagi mahasiswa yang sedang belajar mandiri dan menyesuaikan diri dengan lingkungan baru.

Dalam kondisi tersebut, dukungan dari lingkungan terdekat menjadi penting. Orang tua, keluarga, sahabat, maupun lingkungan pendidikan dapat menjadi bagian dari sistem dukungan yang membantu mahasiswa menjalani proses pertumbuhannya.

“Sebagai orang tua seharusnya memberikan dukungan terhadap apa yang menjadi pilihan anak. Tidak berarti menyetujui seratus persen, tetapi memberikan pandangan secara bijaksana,” tutur Elly.

Pengalaman adaptasi itu dirasakan Indana Zulfa, mahasiswa baru Program Studi Ilmu Kesejahteraan Sosial. Berasal dari Cirebon, Indana kini menjalani fase baru sebagai mahasiswa sekaligus perantau di Yogyakarta.

Lingkungan yang baru, teman-teman yang belum banyak dikenal, serta tugas-tugas perkuliahan yang sebelumnya belum pernah dihadapi menjadi bagian dari proses yang harus dipelajarinya satu per satu.

“Kadang merasa cemas ketika dosen memberikan tugas PPT atau makalah, terutama ketika belum mengetahui bagaimana cara membuat tugas tersebut. Karena baru pertama kali merantau, saya juga belum banyak mengenal teman dan masih merasa khawatir kalau harus pergi ke mana-mana sendirian,” ungkapnya.

Bagi Indana yang mengaku cenderung introvert, beradaptasi tidak selalu dapat dilakukan dalam waktu singkat. Ia memilih menjalaninya secara perlahan sambil mulai mengenal teman-teman baru, berkomunikasi dengan dosen, dan membiasakan diri dengan lingkungan kampus.

Ketika rasa khawatir muncul, ia juga berusaha menjaga komunikasi dengan orang-orang terdekatnya.

“Kalau mulai merasa khawatir, saya biasanya menelepon orang tua atau sahabat-sahabat saya waktu SMA. Setelah itu saya merasa lebih tenang dan bisa menata hati kembali,” katanya.

Pengalaman Indana menjadi gambaran bahwa di balik langkah awal mahasiswa memasuki perguruan tinggi, terdapat proses adaptasi yang berbeda-beda. Sebagian harus belajar menghadapi tuntutan akademik baru, sebagian lainnya menyesuaikan diri dengan kehidupan jauh dari keluarga. Dalam proses inilah, kehadiran lingkungan kampus yang suportif menjadi bagian penting dari pengalaman belajar mahasiswa.

Elly mengingatkan bahwa perjalanan akademik perlu dijalani dengan keseimbangan. Mahasiswa perlu bertanggung jawab terhadap studi, tetapi tetap memberikan ruang bagi dirinya untuk beristirahat, membangun relasi sosial, dan melakukan aktivitas yang mendukung kesehatan mental.

“Silakan berkuliah dan menjalani studi dengan baik, tetapi sesekali sangat diperbolehkan untuk mengobrol santai dengan teman-teman. Kemudian, menyediakan waktu untuk me time juga penting untuk mendukung kesehatan mental kita, serta selalu menjaga kondisi tubuh dengan mengonsumsi makanan sehat,” pesannya.

Namun, keseimbangan tersebut, menurutnya, tetap perlu disertai tanggung jawab terhadap tujuan utama mahasiswa dalam menempuh pendidikan.

“Jangan pula inginnya bersenang-senang terus hingga studi yang menjadi tujuan utama menjadi keteteran,” lanjutnya.

Melalui pendekatan yang memperhatikan kesehatan fisik dan psikologis secara bersamaan, UIN Sunan Kalijaga berupaya menghadirkan pengalaman pendidikan yang lebih utuh bagi mahasiswa. Kolaborasi antara fakultas, Klinik Pratama UIN Sunan Kalijaga, dan Puskesmas Depok 3 juga menunjukkan pentingnya sinergi dalam membangun ekosistem kampus yang mendukung kesejahteraan sivitas akademika.

Bagi UIN Sunan Kalijaga, menyiapkan mahasiswa untuk menghadapi perjalanan akademik bukan hanya berarti membekali mereka dengan ilmu pengetahuan. Pendidikan juga merupakan proses membantu mahasiswa mengenali dirinya, bertumbuh secara sehat, dan memiliki kemampuan untuk beradaptasi dengan berbagai tantangan kehidupan.

Pemeriksaan kesehatan mahasiswa baru Tahun Akademik 2026/2027 yang terus dilaksanakan sesuai jadwal pun menjadi salah satu langkah awal dari komitmen tersebut. Sejak memasuki kampus, mahasiswa diajak untuk memahami bahwa menjaga kesehatan, baik tubuh maupun pikiran, merupakan bagian penting dari perjalanan menuju masa depan.

Dengan fondasi kesehatan dan kesejahteraan yang lebih baik, UIN Sunan Kalijaga berharap mahasiswa dapat menjalani proses belajarnya secara optimal, berkembang secara utuh, dan bertumbuh menjadi insan yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga mampu menghadapi dinamika kehidupan dengan lebih adaptif dan seimbang.(humassk)