Perjalanan menjadi mahasiswa tidak selalu dimulai dari ruang kelas. Bagi mahasiswa internasional yang baru pertama kali menginjakkan kaki di Indonesia, perjalanan itu bisa dimulai dari belajar memahami bahasa baru, mengenali budaya yang berbeda, hingga beradaptasi dengan suasana kehidupan di Yogyakarta.
Hal itulah yang menjadi bagian penting dari kegiatan International Student Orientation & Empowerment Program UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta pada hari Rabu (23/9/2026), di Ruang Rapat Gedung Saifuddin Zuhri (PAU) Lantai 2. Mengusung tema “Mengenal, Beradaptasi, dan Bertumbuh di UIN Sunan Kalijaga”, program yang diselenggarakan Center for Developing Cooperation and International Affairs (CDCIA) ini menjadi ruang penyambutan sekaligus pembekalan bagi mahasiswa internasional yang memulai perjalanan akademiknya di UIN Sunan Kalijaga
Ketua CDCIA, Dr. Witriani, menyampaikan bahwa program orientasi ini dirancang untuk membantu mahasiswa internasional mengenal lingkungan akademik sekaligus beradaptasi dengan kehidupan di Indonesia dan Yogyakarta. Dalam sambutannya, ia juga menyampaikan bahwa tahun ini UIN Sunan Kalijaga menerima sebanyak 28 mahasiswa dari hampir 10 negara yang terpilih melalui proses seleksi untuk menempuh pendidikan di UIN Sunan Kalijaga. Mereka berasal dari Thailand, Pakistan, Bangladesh, Nigeria, Afghanistan, Myanmar, Sudan, Aljazair, serta sejumlah negara lainnya. Para mahasiswa itu tersebar di berbagai program studi dan menempuh pendidikan pada jenjang sarjana, magister, hingga doktor. Selain itu, para mahasiswa internasional juga akan diwajibkan untuk mengikuti program intensif bahasa Indonesia di Pusat Bahasa selama 4 kali seminggu untuk membantu proses adaptasi.
Bagi mereka, UIN Sunan Kalijaga bukan hanya tempat untuk memperoleh gelar akademik. Kampus juga menjadi ruang perjumpaan dengan bahasa, budaya, tradisi, dan cara pandang yang mungkin sebelumnya belum pernah mereka kenal.
Dalam sambutannya, Rektor UIN Sunan Kalijaga, Prof. Noorhaidi Hasan, menyampaikan selamat datang kepada para mahasiswa internasional. Ia menegaskan bahwa kehadiran mahasiswa dari berbagai negara merupakan bagian dari tradisi akademik UIN Sunan Kalijaga yang telah berlangsung sejak dekade 1990-an.
Menurutnya, perjalanan mahasiswa internasional di UIN Sunan Kalijaga tidak hanya menjadi kesempatan untuk memperoleh pengalaman akademik, tetapi juga untuk membangun jejaring, mengenal budaya yang berbeda, dan mempersiapkan diri menjadi bagian dari komunitas global. Sejumlah alumni internasional UIN Sunan Kalijaga juga telah berkiprah di berbagai bidang, termasuk sebagai pejabat, akademisi, pemimpin masyarakat, hingga wakil rektor di negara asalnya.
“Selamat datang di ruang perjumpaan berbagai budaya dan ilmu pengetahuan. Kami berharap perjalanan akademik Anda di UIN Sunan Kalijaga menjadi awal dari pencapaian-pencapaian besar bagi masyarakat dunia,” ujar Prof. Noorhaidi.
Rektor juga mengingatkan bahwa proses adaptasi menjadi bagian penting dari pengalaman belajar mahasiswa internasional. Berhadapan dengan budaya, lingkungan, bahasa, hingga makanan yang berbeda merupakan tantangan yang perlu dijalani sebagai bagian dari proses pembentukan diri.
"Menyesuaikan diri dengan budaya, lingkungan, hingga makanan baru memang tantangan bagi mahasiswa asing. Namun, proses adaptasi itulah yang akan membentuk keberanian dan kedewasan Anda sebagai calon pemimpin masa depan," lanjutnya.
Setelah sesi penyambutan, mahasiswa internasional mendapatkan sejumlah pembekalan untuk membantu mereka menjalani kehidupan akademik dan sosial di Indonesia.
Salah satunya melalui sesi “Understanding Student Visas & Stay Permits in Indonesia” yang disampaikan oleh Fahmi Prasetyo Nugroho, petugas Seksi Izin Tinggal Keimigrasian Kantor Imigrasi I Yogyakarta. Sesi yang dimoderatori Bernando J. Sudjibto, M.A., ini memberikan pemahaman kepada mahasiswa mengenai jenis visa, izin tinggal, prosedur perpanjangan, serta berbagai kewajiban yang perlu diperhatikan selama berada di Indonesia.
Mahasiswa mendapatkan penjelasan mengenai visa E30B yang diperuntukkan bagi mahasiswa jenjang Diploma, S-1, S-2, dan S-3. Selain itu, dijelaskan pula beberapa jenis visa lain sesuai tujuan kedatangan ke Indonesia, termasuk visa untuk penyatuan keluarga, kursus, dan magang.
Dalam sesi tersebut, mahasiswa juga memperoleh informasi mengenai prosedur perpanjangan Izin Tinggal Terbatas (ITAS). Pengajuan dilakukan melalui penjamin, dalam hal ini UIN Sunan Kalijaga, dan perlu dilakukan paling lambat 30 hari sebelum masa berlaku izin tinggal berakhir. Mahasiswa juga diwajibkan memenuhi sejumlah prosedur keimigrasian, termasuk pengambilan data biometrik di Kantor Imigrasi.
Pemahaman mengenai aturan keimigrasian menjadi bagian penting dari proses adaptasi mahasiswa internasional. Mereka juga diingatkan untuk melaporkan perubahan alamat tempat tinggal maupun perubahan status sipil kepada pihak universitas untuk diteruskan kepada Kantor Imigrasi.
Selain kesiapan administratif, mahasiswa internasional juga dibekali kemampuan untuk menghadapi tantangan akademik di lingkungan baru. Dr. Diah Ajeng Purwani, S.Sos., M.Si., dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Humaniora (Fishum) UIN Sunan Kalijaga, menghadirkan sesi bertajuk “New Campus, New You: Becoming an Independent Learner.”
Melalui pendekatan workshop yang interaktif, para mahasiswa diajak mendiskusikan berbagai tantangan ketika memasuki kehidupan perguruan tinggi, khususnya proses transisi menuju pembelajar yang lebih mandiri. Mereka mengikuti focus group discussion (FGD), kuis, serta aktivitas kelompok.
Dalam sesi tersebut, mahasiswa diajak merefleksikan cara mereka mengatur waktu, menyusun jadwal, menentukan gaya belajar, serta membangun strategi belajar yang sesuai dengan kebutuhan masing-masing.
Dr. Diah Ajeng menjelaskan bahwa salah satu tantangan utama mahasiswa adalah transisi menuju kemandirian. Kehidupan kampus bukan sekadar perpindahan tempat belajar, tetapi juga perubahan dalam keseluruhan ekosistem pembelajaran.
Pendekatan andragogy yang diperkenalkan dalam sesi tersebut menempatkan mahasiswa sebagai pembelajar dewasa yang mampu mengarahkan proses belajarnya sendiri dan memiliki motivasi berdasarkan tujuan yang ingin dicapai. Empat pilar yang ditekankan meliputi adaptabilitas, goal setting, time management, dan resilience.
“Higher education is not just about earning a degree, it’s a process of becoming a whole, principled, and impactful person,” menjadi salah satu pesan utama dalam sesi tersebut.
Untuk mendukung proses adaptasi yang lebih menyeluruh, UIN Sunan Kalijaga juga menyiapkan program Bahasa Indonesia bagi mahasiswa internasional. Mulai pekan berikutnya, mereka akan mengikuti kelas Bahasa Indonesia di Pusat Bahasa sebanyak empat kali dalam sepekan. Program ini diharapkan membantu mahasiswa berkomunikasi sekaligus berinteraksi lebih baik dengan lingkungan sekitar.
Melalui International Student Orientation & Empowerment Program, UIN Sunan Kalijaga tidak hanya memperkenalkan lingkungan kampus kepada mahasiswa internasional, tetapi juga menyiapkan mereka untuk menjalani kehidupan akademik secara mandiri, memahami lingkungan sosial dan budaya Indonesia, serta menjadi bagian dari komunitas akademik yang beragam.
Kehadiran 28 mahasiswa dari berbagai negara tersebut sekaligus memperkuat UIN Sunan Kalijaga sebagai ruang perjumpaan berbagai budaya dan perspektif, tempat proses belajar berlangsung tidak hanya di dalam kelas, tetapi juga melalui pengalaman berinteraksi dan hidup bersama dalam keberagaman. (humassk)