WhatsApp Image 2026-09-23 at 17.20.13(1).jpeg

Rabu, 23 September 2026 17:12:00 WIB

0

Memahami Indonesia dan Yogyakarta, UIN Sunan Kalijaga Bekali Mahasiswa Internasional dengan Perspektif Budaya

Yogyakarta tidak hanya menjadi tempat bagi mahasiswa internasional untuk menempuh pendidikan, tetapi juga menjadi ruang belajar untuk memahami keberagaman Indonesia secara lebih dekat. Berinteraksi dengan masyarakat, mengenali budaya lokal, hingga memahami nilai-nilai kehidupan yang berkembang di tengah masyarakat menjadi bagian dari pengalaman akademik yang tidak terpisahkan.

Perspektif tersebut mengemuka dalam sesi kedua International Student Orientation & Empowerment Program UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Rabu (23/9/2026), di Ruang Rapat Gedung Saifuddin Zuhri (PAU) Lantai 2. Kegiatan yang diselenggarakan Center for Developing Cooperation and International Affairs (CDCIA) ini menghadirkan dua sesi pembekalan yang membantu mahasiswa internasional memahami lingkungan sosial dan budaya tempat mereka akan menjalani kehidupan akademik.


Pada sesi kedua, Prof. Dr. Muhammad Wildan, M.A., melalui materi Understanding Indonesia: Negotiating Cultural Identity and Religious Diversity in Everyday Life, mengajak mahasiswa melihat Indonesia sebagai negara yang dibangun dari keberagaman bahasa, suku, budaya, dan agama.

Dengan populasi sekitar 284 juta jiwa, Indonesia memiliki ratusan kelompok etnis serta lebih dari 700 bahasa dan dialek. Keberagaman tersebut, menurut Prof. Wildan, menjadi bagian penting dari identitas kehidupan masyarakat Indonesia.

Ia memperkenalkan sejumlah kelompok etnis dan kekayaan budaya di Indonesia, mulai dari Jawa, Sunda, Minangkabau, Bali, Dayak, Batak, hingga Toraja. Keragaman tersebut hadir dalam berbagai bentuk, mulai dari bahasa, makanan, tradisi, hingga praktik kehidupan sehari-hari.

Indonesia is a woven of difference,” menjadi salah satu gambaran yang disampaikan untuk menjelaskan bagaimana perbedaan menjadi bagian yang melekat dalam kehidupan masyarakat Indonesia.

Keragaman juga terlihat dalam kehidupan beragama. Indonesia merupakan negara dengan mayoritas penduduk Muslim, sekaligus memiliki masyarakat dengan latar belakang agama dan kepercayaan yang beragam. Prof. Wildan menjelaskan bahwa Islam di Indonesia sendiri memiliki keragaman tradisi dan praktik, sementara kehidupan masyarakat juga diwarnai keberadaan pemeluk Katolik, Protestan, Hindu, Buddha, dan Khonghucu.

Dalam konteks kehidupan bersama tersebut, mahasiswa diperkenalkan dengan Pancasila sebagai lima prinsip yang menjadi fondasi kehidupan bangsa yang plural. Nilai-nilai tersebut menjadi salah satu kunci untuk memahami bagaimana keberagaman dapat hidup berdampingan dalam kehidupan masyarakat Indonesia.

Bagi mahasiswa internasional, memahami keberagaman tersebut bukan sekadar pengetahuan tentang Indonesia. Pemahaman budaya menjadi bekal untuk membangun interaksi yang lebih baik dengan masyarakat selama mereka tinggal dan belajar di Yogyakarta.


Pemahaman mengenai lingkungan tempat tinggal kemudian dilanjutkan melalui sesi Becoming International Student in Yogyakarta yang disampaikan Prof. Suherman, Deputi Direktur Direktorat Kemitraan dan Relasi Global (DKRG) UGM.

Prof. Suherman memperkenalkan Yogyakarta sebagai kota pendidikan sekaligus kota budaya. Dengan ratusan perguruan tinggi dan ratusan ribu mahasiswa, Yogyakarta menghadirkan lingkungan yang memungkinkan mahasiswa dari berbagai latar belakang untuk saling bertemu, berinteraksi, dan membangun jejaring.

Selain kehidupan akademik, mahasiswa juga diperkenalkan dengan karakter Yogyakarta sebagai daerah istimewa yang memiliki Kesultanan. Keberadaan Keraton Yogyakarta, kekayaan tradisi, serta berbagai destinasi budaya dan wisata menjadikan pengalaman belajar di Yogyakarta tidak terbatas pada lingkungan kampus.

Mahasiswa diperkenalkan dengan sejumlah destinasi yang menjadi bagian dari lanskap budaya dan geografis Yogyakarta dan sekitarnya, seperti Keraton Yogyakarta, Candi Borobudur, Candi Prambanan, Gunung Merapi, hingga kawasan pantai di Gunungkidul.


Namun, tinggal di Yogyakarta juga membutuhkan kemampuan untuk blend in with the community atau membaur dengan masyarakat. Para mahasiswa diingatkan untuk menghormati aturan dan kearifan lokal, mempelajari ungkapan sederhana dalam bahasa Indonesia maupun bahasa Jawa, serta memahami kebiasaan masyarakat setempat.

Hal-hal sederhana seperti mengucapkan terima kasih, permisi, selamat pagi, matur nuwun, atau nyuwun sewu dapat menjadi pintu awal untuk membangun komunikasi yang lebih dekat dengan masyarakat.


Mahasiswa juga diingatkan untuk menaati aturan lalu lintas, memastikan tempat tinggal yang ditempati sesuai ketentuan, menggunakan penukaran mata uang melalui money changer resmi, serta memperhatikan berbagai aturan yang berlaku selama berada di Indonesia.

Dalam kehidupan sehari-hari, mahasiswa juga didorong untuk membangun relasi dengan mahasiswa lokal, dosen, maupun komunitas kampus. Pemanfaatan transportasi berbasis aplikasi dan transaksi digital seperti QRIS juga diperkenalkan sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari di Yogyakarta.

Menariknya, adaptasi yang ditekankan tidak berhenti pada kehidupan sosial dan budaya. Mahasiswa juga diajak memahami bagaimana sistem dan budaya kerja di lingkungan perguruan tinggi.

Do not only learn at university, but also learn how the university works.

Pesan tersebut menekankan bahwa menjadi mahasiswa internasional berarti juga memahami ekosistem tempat mereka belajar. Mahasiswa perlu mengenali tata kerja universitas, menghormati waktu dan jam kerja tenaga kependidikan, mengikuti aturan akademik maupun administratif, serta memahami kebiasaan yang berlaku di lingkungan kampus.

Dengan demikian, proses adaptasi tidak hanya berarti mengetahui apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan, tetapi juga membangun kemampuan untuk membaca konteks, menghargai perbedaan, dan menempatkan diri secara tepat dalam lingkungan baru.

Rangkaian pembekalan ini melengkapi sesi pertama yang membahas aspek keimigrasian dan kemandirian belajar. Jika sesi pertama membantu mahasiswa menyiapkan diri dari sisi administratif dan akademik, sesi kedua memperluas perspektif mereka mengenai Indonesia, Yogyakarta, dan lingkungan sosial tempat mereka akan tumbuh selama menempuh pendidikan.

Melalui program tersebut, UIN Sunan Kalijaga tidak hanya menyambut mahasiswa dari berbagai negara ke dalam lingkungan akademiknya, tetapi juga membuka ruang agar mereka dapat memahami Indonesia melalui pengalaman hidup secara langsung.

Keberadaan mahasiswa internasional pada akhirnya menghadirkan proses belajar dua arah. Mereka datang untuk mempelajari ilmu di UIN Sunan Kalijaga, sekaligus membawa bahasa, budaya, pengalaman, dan perspektif dari negara masing-masing. Di ruang perjumpaan itulah keberagaman menjadi bagian dari pengalaman pendidikan di UIN Sunan Kalijaga. (humassk)