Upaya menyiapkan Generasi Emas Indonesia tidak bisa menunggu hingga anak memasuki usia sekolah. Fondasinya dibentuk sejak usia dini, ketika anak belajar mengenali dirinya, membangun rasa aman, berinteraksi dengan lingkungan, sekaligus mengembangkan potensi
Gagasan tersebut menjadi benang merah Seminar Nasional dan Temu Alumni “Transformasi Pendidikan Islam Anak Usia Dini Menuju Generasi Emas 2045: Kolaborasi Akademisi, Kebijakan Publik, dan Perlindungan Anak” yang diselenggarakan Program Magister Pendidikan Islam Anak Usia Dini (PIAUD) Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Jumat (25/9/2026). Kegiatan berlangsung di Teatrikal Gedung Fakultas Kedokteran lantai 4 UIN Sunan Kalijaga dan diikuti ratusan mahasiswa serta alumni.
Hadir dalam kegiatan tersebut Rektor UIN Sunan Kalijaga Prof. Noorhaidi Hasan bersama jajaran wakil rektor, Dekan FITK Prof. Sigit Purnama beserta jajaran wakil dekan, dan sejumlah pihak terkait.
Rektor UIN Sunan Kalijaga, Prof. Noorhaidi Hasan, mengatakan seminar ini menjadi penting karena Indonesia berpacu dengan waktu untuk menyiapkan generasi yang kelak dipercaya membawa bangsa menuju puncak kejayaannya. Namun, menurutnya, cita-cita tersebut masih berhadapan dengan berbagai persoalan yang menyertai kehidupan anak dan dunia pendidikan.
Dalam tiga tahun terakhir, kata Prof. Noorhaidi, dirinya aktif melakukan penelitian mengenai hak asasi manusia, khususnya hak-hak anak. Dari berbagai persoalan yang ditemukan, masih banyak anak Indonesia yang harus berhadapan dengan kemiskinan, ketidakpedulian, pengabaian, hingga kehilangan masa kanak-kanaknya.
Sebagian anak, lanjutnya, bahkan harus meninggalkan masa bermain dan masa penuh suka cita karena terpaksa turut bekerja untuk membantu memenuhi kebutuhan hidup keluarganya. Ada pula anak yang kehilangan kesempatan tumbuh secara wajar karena dipaksa menjalani pernikahan pada usia dini. Persoalan kekerasan dalam rumah tangga turut menempatkan anak sebagai korban. Di sisi lain, dunia pendidikan yang semestinya menjadi ruang tumbuh juga dapat menjadi sumber persoalan ketika pendidikan diarahkan secara keliru.
Fenomena kekerasan terhadap anak di ruang pengasuhan, termasuk yang belakangan muncul di lingkungan daycare, menurut Rektor, menjadi pengingat bahwa perlindungan anak membutuhkan perhatian bersama. Karena itu, pendidikan anak tidak dapat dilepaskan dari upaya memastikan lingkungan tempat anak tumbuh benar-benar aman.
“Pendidikan sangat penting melalui kolaborasi yang komprehensif dengan seluruh pihak yang relevan untuk memastikan anak tidak menjadi korban atas persoalan yang membelit orang dewasa,” katanya.
Tantangan tersebut menjadi semakin penting ketika cita-cita Generasi Emas Indonesia diarahkan pada lahirnya manusia yang cerdas, berakhlak karimah, kreatif, kritis, produktif, dan memiliki jiwa nasionalisme yang kuat. Cita-cita itu ideal, tetapi tidak mudah diwujudkan karena persoalan anak tidak hanya berkaitan dengan pendidikan di ruang kelas.
Ia menyinggung persoalan kecukupan gizi, stunting, hingga kualitas sumber daya manusia yang masih perlu mendapat perhatian. Dalam konteks itu, Program Studi Pendidikan Islam Anak Usia Dini (PIAUD) memiliki ruang strategis untuk memastikan pendidikan yang diberikan sejak awal kehidupan benar-benar menjadi fondasi bagi tumbuhnya generasi yang tangguh.
Perspektif perlindungan anak kemudian dipertegas Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Arifatul Choiri Fauzi, yang hadir sebagai keynote speaker.
Menteri PPPA mengatakan masa depan Indonesia sangat bergantung pada bagaimana anak-anak dididik, diasuh, dan dilindungi hari ini. Ia menyoroti masih tingginya kekerasan terhadap anak, termasuk kekerasan seksual yang dapat terjadi sejak usia sangat dini dan dalam sejumlah kasus menempatkan anak sebagai korban sekaligus pelaku.
Karena itu, penanganan korban tidak cukup berhenti pada penghentian kekerasan. Pendampingan dan penanganan secara tuntas diperlukan agar anak memperoleh ruang untuk pulih dan rantai kekerasan tidak berlanjut.
Dalam konteks pendidikan, Arifah mendorong terbangunnya satuan pendidikan yang ramah anak. Perubahan itu, menurutnya, salah satunya perlu dimulai dari cara pendidik memandang anak yang bukan semata sebagai objek pembelajaran, tetapi sebagai individu yang membutuhkan pendampingan.
Pendidik perlu hadir sebagai pembimbing sekaligus sahabat anak. Perguruan tinggi seperti UIN Sunan Kalijaga juga memiliki peran melalui pengembangan parenting Islami, riset kurikulum terintegrasi, pencetakan pendidik profesional, serta pengembangan model PAUD Islam yang holistik.
Tantangan pengasuhan, kata Arifah, semakin kompleks di tengah perkembangan teknologi digital. Anak kini memiliki banyak ruang untuk mencari informasi dan tempat bercerita. Dalam kondisi tertentu, anak bahkan lebih nyaman berbicara dengan teman atau telepon genggam dibandingkan dengan orang tuanya. Karena itu, pendidikan anak perlu dibangun di atas fondasi nilai agama, akhlakul karimah, dan budi pekerti.
Persoalan kualitas pendidikan anak juga disoroti Guru Besar Psikologi Pendidikan UIN Sunan Kalijaga, Prof. Dr. Suyadi. Menurutnya, keberhasilan pendidikan anak tidak semestinya diukur hanya dari capaian akademik, prestasi kompetisi, atau kemampuan mengikuti perkembangan teknologi.
Ia mengingatkan bahwa anak yang terlihat berprestasi belum tentu memiliki ketahanan psikologis yang kuat. Tekanan untuk selalu menjadi yang terbaik, termasuk kebiasaan orang dewasa membandingkan anak dengan saudara atau teman sebaya, dapat membuat anak merasa dirinya tidak cukup baik. Karena itu, relasi kuasa yang terlalu kuat antara orang tua dan anak perlu mulai ditinggalkan.
“Orang tua perlu membangun relasi yang membuat anak nyaman untuk berbicara. Jadilah teman bagi anak, pahami cara berpikir dan dunia mereka, serta samakan frekuensi agar kita benar-benar bisa membersamai proses tumbuh kembangnya,” pesannya.
Pandangan tersebut berkelindan dengan gagasan Dr. Luluk Elyana, Rektor Universitas IVET, yang membahas pentingnya kurikulum holistik integratif dalam pendidikan anak usia dini. Pendekatan tersebut menempatkan perkembangan anak sebagai sesuatu yang utuh, sehingga pendidikan tidak berjalan sendiri, melainkan terhubung dengan pengasuhan, kesehatan, perlindungan, dan lingkungan tempat anak tumbuh.
Seminar ini menempatkan pendidikan anak usia dini bukan semata sebagai tahap awal menuju jenjang pendidikan berikutnya, melainkan sebagai ruang untuk membangun fondasi kehidupan anak. Di dalamnya, pengetahuan, pengasuhan, perlindungan, kesehatan, dan lingkungan tumbuh perlu berjalan beriringan.
Bagi Magister PIAUD UIN Sunan Kalijaga, ruang tersebut menjadi bagian penting dari kerja akademik, yakni menghadirkan pengetahuan, menyiapkan pendidik, dan mempertemukan berbagai perspektif untuk menjawab persoalan anak yang terus berkembang. Sebab, Generasi Emas 2045 pada akhirnya sedang dibentuk dari anak-anak yang tumbuh hari ini.(humassk)