hadli.jpeg

Kamis, 15 Oktober 2026 17:44:00 WIB

0

Kisuka Menjawab, Inovasi Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga untuk Perluas Akses Informasi Publik Berbasis AI

Kemudahan mengakses informasi publik menjadi salah satu kunci terwujudnya layanan perguruan tinggi yang transparan dan responsif. Berangkat dari kebutuhan tersebut, Muhammad Hadli Al Furqon, mahasiswa Magister Pendidikan Agama Islam (PAI) UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, mengembangkan Kisuka Menjawab, aplikasi berbasis artificial intelligence (AI) yang dirancang untuk membantu masyarakat memperoleh informasi seputar kampus secara lebih mudah dan cepat.


Inovasi tersebut diperkenalkan dalam peluncuran Kisuka Menjawab pada Seminar Nasional Keterbukaan Informasi Publik bertajuk “Pelayanan Informasi Publik Berbasis AI” yang diselenggarakan Pejabat Pengelola Informasi dan Dokumentasi (PPID) UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta di Teatrikal Fakultas Kedokteran lantai 4, Kamis (15/10/2026). Dalam kesempatan tersebut, Hadli diwawancarai mengenai latar belakang pengembangan aplikasi, proses pembuatannya, serta potensinya dalam mendukung keterbukaan informasi publik di lingkungan kampus.

Kehadiran Kisuka Menjawab menjadi salah satu bentuk kontribusi mahasiswa dalam mendorong transformasi layanan informasi perguruan tinggi. Melalui chatbot berbasis AI, masyarakat diharapkan dapat menemukan informasi yang dibutuhkan secara lebih praktis, sekaligus memperoleh pengalaman layanan digital yang interaktif.


Menurut Hadli, Kisuka Menjawab dikembangkan untuk memudahkan masyarakat luas mengakses informasi UIN Sunan Kalijaga secara transparan. Aplikasi ini memanfaatkan teknologi AI dari Anthropic dan dirancang untuk menjawab pertanyaan seputar kampus secara relevan, ringkas, dan terarah.

“Kisuka Menjawab saya buat agar masyarakat dapat memperoleh informasi UIN Sunan Kalijaga dengan mudah dan cepat,” ungkapnya.

Kehadiran Kisuka Menjawab memiliki relevansi dengan penguatan peran Pejabat Pengelola Informasi dan Dokumentasi (PPID) UIN Sunan Kalijaga dalam menyediakan layanan informasi publik. Pemanfaatan chatbot berbasis AI membuka peluang untuk memperluas akses masyarakat terhadap informasi kampus melalui kanal digital yang lebih interaktif.

Dengan pengembangan dan integrasi yang tepat, teknologi ini berpotensi menjadi sarana pendukung layanan PPID, terutama dalam membantu menjawab pertanyaan umum dan mengarahkan masyarakat pada informasi yang dibutuhkan. Kehadirannya juga dapat mendukung peningkatan efisiensi layanan informasi sekaligus memperkuat pengalaman pengguna dalam mengakses informasi perguruan tinggi.

Walaupun demikian, pemanfaatan AI dalam layanan informasi publik tetap perlu disertai pengelolaan sumber informasi yang akurat, pemutakhiran data, serta mekanisme verifikasi jawaban. Hal ini penting agar kemudahan akses berjalan beriringan dengan prinsip keterbukaan, akurasi, dan akuntabilitas informasi. Untuk permohonan informasi yang memerlukan prosedur khusus, chatbot dapat dikembangkan sebagai pintu awal yang mengarahkan pemohon ke mekanisme layanan PPID sesuai ketentuan.

Menariknya, inovasi ini lahir dari mahasiswa yang menempuh studi di bidang Pendidikan Agama Islam, bukan dari disiplin ilmu teknologi informasi. Bagi Hadli, latar belakang akademik tidak seharusnya membatasi seseorang untuk mempelajari bidang lain dan mengembangkan gagasan yang bermanfaat bagi masyarakat.

Ia memandang mahasiswa Pendidikan Agama Islam tidak harus terpaku pada pengetahuan agama secara konvensional. Ketertarikannya pada teknologi mendorongnya untuk mengeksplorasi peluang pemanfaatan AI sebagai bagian dari inovasi pendidikan dan pelayanan publik.

Perjalanan mengembangkan Kisuka Menjawab pun tidak lepas dari tantangan. Tanpa dasar keilmuan teknologi informasi, Hadli harus mempelajari berbagai keterampilan dari awal, mulai dari pemrograman, Python, hingga HTML. Proses tersebut menjadi bagian penting dalam mewujudkan gagasan yang sebelumnya hanya berupa konsep.

“Saya harus belajar dari nol untuk menciptakan aplikasi yang saya inginkan dan saya bayangkan bisa bermanfaat untuk masyarakat yang banyak,” tuturnya.

Dalam proses pengembangannya, Hadli juga berupaya membawa aplikasi tersebut ke lingkungan server bersama PPID. Langkah ini menjadi bagian dari upaya menghubungkan inovasi mahasiswa dengan kebutuhan nyata layanan informasi di kampus.

Hadli berharap Kisuka Menjawab dapat dimanfaatkan secara optimal dan terus dikembangkan sesuai kebutuhan pengguna. Ke depan, ia ingin menghadirkan layanan yang lebih personal, termasuk chatbot yang terintegrasi dengan akun mahasiswa untuk mendukung kebutuhan pengaduan maupun pelayanan.

Ia juga membayangkan pengembangan layanan berbasis percakapan suara (voice chat) dengan karakter tiga dimensi (3D), sehingga interaksi digital terasa lebih nyata dan mudah digunakan.


Bagi UIN Sunan Kalijaga, gagasan tersebut menunjukkan peluang pengembangan layanan digital yang tidak hanya berorientasi pada pemanfaatan teknologi terbaru, tetapi juga pada kemudahan akses dan kualitas pelayanan bagi sivitas akademika maupun masyarakat luas.

Hadli menilai lingkungan akademik UIN Sunan Kalijaga turut memberikan ruang bagi tumbuhnya gagasan lintas disiplin. Dukungan terhadap ide-ide baru, menurutnya, menjadi faktor penting agar inovasi tidak berhenti sebagai gagasan, tetapi dapat diwujudkan menjadi solusi yang bermanfaat.

Kisuka Menjawab menjadi contoh bagaimana inisiatif mahasiswa dapat berkontribusi pada penguatan layanan perguruan tinggi. Dengan pengembangan berkelanjutan dan kolaborasi bersama pengelola layanan informasi, inovasi berbasis AI ini berpeluang menjadi bagian dari upaya UIN Sunan Kalijaga memperluas akses informasi publik sekaligus membangun layanan yang semakin terbuka, adaptif, dan responsif terhadap kebutuhan masyarakat. (humassk)