Kemudahan mengakses informasi publik menjadi salah satu kunci terwujudnya layanan perguruan tinggi yang transparan dan responsif. Berangkat dari kebutuhan tersebut, Muhammad Hadli Al Furqon, mahasiswa Magister Pendidikan Agama Islam (PAI) UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, mengembangkan Kisuka Menjawab, aplikasi berbasis artificial intelligence (AI) yang dirancang untuk membantu masyarakat memperoleh informasi seputar kampus secara lebih mudah dan cepat.
Inovasi
tersebut diperkenalkan dalam peluncuran Kisuka Menjawab pada Seminar Nasional
Keterbukaan Informasi Publik bertajuk “Pelayanan Informasi Publik Berbasis AI”
yang diselenggarakan Pejabat Pengelola Informasi dan Dokumentasi (PPID) UIN
Sunan Kalijaga Yogyakarta di Teatrikal Fakultas Kedokteran lantai 4, Kamis
(15/10/2026). Dalam kesempatan tersebut, Hadli diwawancarai mengenai latar
belakang pengembangan aplikasi, proses pembuatannya, serta potensinya dalam
mendukung keterbukaan informasi publik di lingkungan kampus.
Kehadiran
Kisuka Menjawab menjadi salah satu bentuk kontribusi mahasiswa dalam mendorong
transformasi layanan informasi perguruan tinggi. Melalui chatbot berbasis AI,
masyarakat diharapkan dapat menemukan informasi yang dibutuhkan secara lebih
praktis, sekaligus memperoleh pengalaman layanan digital yang interaktif.
Menurut Hadli, Kisuka Menjawab dikembangkan untuk memudahkan masyarakat luas mengakses informasi UIN Sunan Kalijaga secara transparan. Aplikasi ini memanfaatkan teknologi AI dari Anthropic dan dirancang untuk menjawab pertanyaan seputar kampus secara relevan, ringkas, dan terarah.
“Kisuka
Menjawab saya buat agar masyarakat dapat memperoleh informasi UIN Sunan
Kalijaga dengan mudah dan cepat,” ungkapnya.
Kehadiran
Kisuka Menjawab memiliki relevansi dengan penguatan peran Pejabat Pengelola
Informasi dan Dokumentasi (PPID) UIN Sunan Kalijaga dalam menyediakan layanan
informasi publik. Pemanfaatan chatbot berbasis AI membuka peluang untuk
memperluas akses masyarakat terhadap informasi kampus melalui kanal digital
yang lebih interaktif.
Dengan
pengembangan dan integrasi yang tepat, teknologi ini berpotensi menjadi sarana
pendukung layanan PPID, terutama dalam membantu menjawab pertanyaan umum dan
mengarahkan masyarakat pada informasi yang dibutuhkan. Kehadirannya juga dapat
mendukung peningkatan efisiensi layanan informasi sekaligus memperkuat
pengalaman pengguna dalam mengakses informasi perguruan tinggi.
Walaupun
demikian, pemanfaatan AI dalam layanan informasi publik tetap perlu disertai
pengelolaan sumber informasi yang akurat, pemutakhiran data, serta mekanisme
verifikasi jawaban. Hal ini penting agar kemudahan akses berjalan beriringan
dengan prinsip keterbukaan, akurasi, dan akuntabilitas informasi. Untuk
permohonan informasi yang memerlukan prosedur khusus, chatbot dapat dikembangkan sebagai pintu awal yang mengarahkan
pemohon ke mekanisme layanan PPID sesuai ketentuan.
Menariknya,
inovasi ini lahir dari mahasiswa yang menempuh studi di bidang Pendidikan Agama
Islam, bukan dari disiplin ilmu teknologi informasi. Bagi Hadli, latar belakang
akademik tidak seharusnya membatasi seseorang untuk mempelajari bidang lain dan
mengembangkan gagasan yang bermanfaat bagi masyarakat.
Ia
memandang mahasiswa Pendidikan Agama Islam tidak harus terpaku pada pengetahuan
agama secara konvensional. Ketertarikannya pada teknologi mendorongnya untuk
mengeksplorasi peluang pemanfaatan AI sebagai bagian dari inovasi pendidikan
dan pelayanan publik.
Perjalanan
mengembangkan Kisuka Menjawab pun tidak lepas dari tantangan. Tanpa dasar keilmuan
teknologi informasi, Hadli harus mempelajari berbagai keterampilan dari awal,
mulai dari pemrograman, Python, hingga HTML. Proses tersebut menjadi bagian
penting dalam mewujudkan gagasan yang sebelumnya hanya berupa konsep.
“Saya
harus belajar dari nol untuk menciptakan aplikasi yang saya inginkan dan saya
bayangkan bisa bermanfaat untuk masyarakat yang banyak,” tuturnya.
Dalam
proses pengembangannya, Hadli juga berupaya membawa aplikasi tersebut ke
lingkungan server bersama PPID.
Langkah ini menjadi bagian dari upaya menghubungkan inovasi mahasiswa dengan
kebutuhan nyata layanan informasi di kampus.
Hadli
berharap Kisuka Menjawab dapat dimanfaatkan secara optimal dan terus
dikembangkan sesuai kebutuhan pengguna. Ke depan, ia ingin menghadirkan layanan
yang lebih personal, termasuk chatbot yang terintegrasi dengan akun mahasiswa
untuk mendukung kebutuhan pengaduan maupun pelayanan.
Ia
juga membayangkan pengembangan layanan berbasis percakapan suara (voice chat)
dengan karakter tiga dimensi (3D), sehingga interaksi digital terasa lebih
nyata dan mudah digunakan.
Bagi
UIN Sunan Kalijaga, gagasan tersebut menunjukkan peluang pengembangan layanan
digital yang tidak hanya berorientasi pada pemanfaatan teknologi terbaru,
tetapi juga pada kemudahan akses dan kualitas pelayanan bagi sivitas akademika
maupun masyarakat luas.
Hadli
menilai lingkungan akademik UIN Sunan Kalijaga turut memberikan ruang bagi
tumbuhnya gagasan lintas disiplin. Dukungan terhadap ide-ide baru, menurutnya,
menjadi faktor penting agar inovasi tidak berhenti sebagai gagasan, tetapi
dapat diwujudkan menjadi solusi yang bermanfaat.
Kisuka
Menjawab menjadi contoh bagaimana inisiatif mahasiswa dapat berkontribusi pada
penguatan layanan perguruan tinggi. Dengan pengembangan berkelanjutan dan
kolaborasi bersama pengelola layanan informasi, inovasi berbasis AI ini
berpeluang menjadi bagian dari upaya UIN Sunan Kalijaga memperluas akses
informasi publik sekaligus membangun layanan yang semakin terbuka, adaptif, dan
responsif terhadap kebutuhan masyarakat. (humassk)