UIN SUKA

Senin, 29 Juni 2026 09:06:00 WIB

0

PANCASILA DAN PENDIDIKAN INKLUSI: Membaca Bhinneka Tunggal Ika Dr. Asep Jahidin, Dosen IKS FDK, Koordinator Pusat Layanan Difabel UIN Sunan Kalijaga

Tadarus Difabel Minggu ke-90

Jika saya diminta mencari satu kata yang paling dekat maknanya dengan Bhinneka Tunggal Ika, maka saya akan menulis sebuah kata... INKLUSI

Sudah lama saya ingin menulis tentang Pancasila dan inklusi. Sengaja menunda hingga tiba di Tadarus Difabel Minggu ke-90 ini, setelah menyapa difabel, isu aksesibilitas, pendidikan, stigma, kebijakan, dan kemanusiaan… Saya merasa sudah tepat saatnya untuk kembali kepada rumah besarnya… Pancasila.

Dalam banyak kesempatan, ketika berbicara tentang pendidikan inklusi, kita sering merujuk pada regulasi, kebijakan, dan hak-hak difabel. Memang biasa seperti itu.

Namun jika kita renungkan lebih dalam, sesungguhnya bangsa Indonesia telah lama memiliki fondasi filosofis inklusi yang tertulis jelas di bawah Burung Garuda… Bhinneka Tunggal Ika.

Berbeda-beda tetapi tetap satu jua.

Biasanya semboyan tersebut dipahami sebagai dasar persatuan bangsa. Ya, Itu benar. Namun jika kita baca lebih dalam lagi, sejatinya ia mengandung makna inklusi yang sangat mendasar.

Inklusi bukanlah upaya menghilangkan perbedaan. Inklusi adalah kemampuan menerima perbedaan tanpa mengurangi martabat manusia.

Karena itu, Bhinneka Tunggal Ika sesungguhnya adalah sebuah pernyataan proklamasi tentang semangat inklusi seluruh rakyat Indonesia

Berbeda agama, tetap satu bangsa.

Berbeda suku, tetap satu bangsa.

Berbeda bahasa, tetap satu bangsa.

Berbeda apapun, tetap bersatu

Dan dalam dunia pendidikan:

Berbeda kemampuan, tetap satu sekolah, tetap satu kampus

Berbeda cara belajar, tetap satu kelas.

Berbeda kondisi, tetap satu komunitas kemanusiaan.

 

Secara filosofis, Bhinneka Tunggal Ika mengajarkan bahwa manusia tidak dihargai karena kesamaan atau perbedaannya dengan orang lain. Manusia dihargai karena martabat kemanusiaan yang melekat pada dirinya. Sehingga kesamaan maupun perbedaan tidak mengurangi nilai seseorang sebagai manusia.

Oleh karena itu, secara sosiologis, pendidikan inklusi menjadi ruang belajar hidup bersama dalam keberagaman. Dunia pendidikan tidak hanya mengajarkan ilmu pengetahuan, tetapi juga mengajarkan bagaimana manusia menerima manusia lainnya sebagai sesama.

Karena itu, pendidikan inklusi bukanlah sekadar model pendidikan. Pendidikan inklusi adalah praktik nyata Pancasila.

Saya semakin percaya bahwa pendidikan inklusi bukanlah gagasan asing bagi bangsa kita, Indonesia. karena akar-akar filosofisnya ternyata telah lama hidup tertuang dalam nilai-nilai Pancasila dan semboyan Bhinneka Tunggal Ika itu

Oleh karena itu, jika saya diminta mencari satu kata yang paling dekat dengan semangat Bhinneka Tunggal Ika dalam kehidupan bersama, maka sekali lagi saya akan menulis satu kata:

INKLUSI

Karena Bhinneka Tunggal Ika sesungguhnya adalah cara bangsa Indonesia mengatakan begini:

"Kita boleh berbeda, tetapi martabat kemanusiaan kita tetap sama"

Dengan senyum, saya nyalakan,Salam Pancasila

Yogyakarta, 29 Juni 2026