UIN SUKA

Senin, 06 Juli 2026 08:19:00 WIB

0

INKLUSIFITAS dan EKSKLUSIFITAS HUTAN oleh Dr Asep Jahidin Koordinator PLD UIN Sunan Kalijaga yogyakarta

Beberapa hari ini saya sedang berada di pedalaman hutan Pulau Ambon, Maluku. Bersama Prof. Zulkipli Lessy (Dosen UIN Suka, putra asli Maluku yang di masa kecilnya pernah tidur di pedalaman hutan Ambon)

Kami masuk ke jantung hutan Ambon dengan bantuan para "Sherpa", kami mencari atau bertemu para petani  senior yang berumur hampir 100 tahun, serta anggota masyarakat adat. Mereka semua terlihat sehat bugar… dan masih bekerja rutin keluar masuk hutan.

Jika malam tiba, Kami  menyimak cerita dari para pelaku sejarah itu hingga larut malam… Saya pun menulis tadarus ini pada jam 23.12 malam senin sambil khusyuk menyimak obrolan dengan mereka. kami melakukan riset tentang ekoteologi hutan… Kami beberapa kali menginap di tengah hutan belantara

Salah satu "Sherpa" yang mengantar kami keluar masuk hutan adalah pak Yusuf Lestusen, umurnya 80 tahun , masih sanggup mendaki, menembus hutan belantara, menari seirama dengan medan lebat dalam berjam-jam perjalanan… saya kalah gesit, saya minta rehat. Pak Yusuf menunjukan saya pohon duren raksasa berumur ratusan tahun yang sedang berbuah, itu buah duren ternikmat yang pernah saya makan sejauh ini, kami minum air sungai sebagai penutup rasa haus

Di hutan Ambon ini saya menyaksikan langsung hamparan Kekayaan pala, cengkih, dan rempah-rempah yang pernah menjadi satu daya tarik kuat bangsa Portugis dan Belanda datang ke Nusantara. Di masa lalu itu, hutan yang memberi kehidupan, justru menjadi pintu masuk kolonialisme.

Salah seorang informan kami, Abdul Ghafur, umurnya 88 tahun, membagi ilmu kepada kami, membaca bagaimana Tuhan berbicara melalui pepohonan, tanah, air, dan kehidupan manusia yang tumbuh di dalamnya.

Hutan mengajarkan pelajaran penting. Selama ini kita sering meyakini bahwa semakin inklusif, semakin baik. Dalam kehidupan sosial, keyakinan itu benar. Tetapi ketika saya berada di tengah hutan, saya justru belajar sebaliknya.

Hutan membutuhkan eksklusivitas. Ada ruang-ruang yang seharusnya tidak dimasuki manusia. Ada wilayah yang lebih baik dibiarkan hanya diinjak rusa, burung, kupu-kupu, dan makhluk-makhluk yang memang menjadi penghuni rumah itu supaya manusia tidak terlalu berkuasa.

Paradoks yang begitu indah. Kadang-kadang, menutup akses bagi manusia adalah cara membuka masa depan bagi kehidupan hutan.

Saat hutan diberi kesempatan untuk bernapas, sesungguhnya kita sedang bersikap inklusif kepada generasi yang belum lahir. Anak cucu kita kelak tetap dapat mengenal hutan yang rindang, burung yang bernyanyi, pala yang berbuah, kenari yang tumbuh, dan laut yang tetap kaya.

Masyarakat Maluku telah lama memahami kebijaksanaan ini melalui tradisi Sasi (ini semacam kearifan lokal tentang ekoteologi. kami pun pergi ke beberapa wilayah di Maluku untuk mengecek tradisi ini). Ketika Sasi diberlakukan, hutan atau laut ditutup sementara. Tidak seorang pun boleh mengambil hasilnya. Penutupan itu bukan hukuman, ini bentuk cinta. Alam diberi hak untuk beristirahat agar kehidupan dapat terus berlangsung.

Dari hutan Ambon saya belajar bahwa tidak semua kebaikan diwujudkan dengan membuka akses. Ada kalanya kasih diwujudkan dengan membatasi diri.

Untuk sesama manusia, kita harus terus memperjuangkan inklusivitas . Tidak boleh ada seorang pun yang tertinggal karena disabilitas, agama, suku, jenis kelamin, usia, atau latar belakang sosial. Kampus, ruang publik, dan negara harus dibangun sebagai rumah bersama yang memungkinkan setiap orang hadir dengan martabat yang sama.

Namun, untuk alam, kita justru perlu belajar eksklusivitas yang beradab. Memberi ruang kepada hutan untuk hidup tanpa gangguan. Memberi kesempatan kepada sungai untuk mengalir tanpa dicemari, untuk pulih tanpa terus dieksploitasi.

Hari ini, hutan Ambon mengajarkan saya bahwa inklusivitas dan eksklusivitas bukanlah dua kutub yang saling bertentangan. Keduanya adalah bahasa kasih. Kasih kepada manusia diwujudkan melalui inklusivitas. Kasih kepada alam diwujudkan melalui eksklusivitas yang penuh adab.

Agar bumi tetap menjadi rumah yang layak

Ambon, Maluku 6 Juli 2026