WhatsApp Image 2026-02-19 at 15.06.26.jpeg

Kamis, 19 Februari 2026 09:15:00 WIB

0

Ramadan Bil Jami’ah, Rektor Tegaskan Pendidikan Islam sebagai Ikhtiar Melahirkan Insan Kamil Penggerak Peradaban

Ketika kecerdasan artifisial mampu menulis esai dalam hitungan detik dan informasi beredar tanpa batas, pendidikan Islam menghadapi ujian paling mendasar, apakah ia akan melahirkan generasi instan atau manusia berintegritas dengan nalar kritis yang mampu memimpin peradaban?

Hal tersebut mengemuka dalam Minutes of Barokah Ramadan Bil Jami’ah yang digelar Laboratorium Agama UIN Sunan Kalijaga, Rabu (18/2/2026). Dalam forum reflektif tersebut, Rektor UIN Sunan Kalijaga Prof. Noorhaidi Hasan menegaskan pentingnya pembaruan pemikiran pendidikan Islam di Indonesia agar tetap relevan di tengah disrupsi zaman.

Menurutnya, pendidikan Islam merupakan ikhtiar panjang untuk membentuk insan kamil, manusia paripurna yang bertumpu pada nilai Al-Qur’an, hadis, serta keteladanan Nabi Muhammad dan para sahabat. Namun konsep itu tidak boleh berhenti sebagai jargon teologis.

Insan kamil, kata dia, adalah manusia yang memiliki kemampuan berpikir logis, kritis, dan kreatif. “Ini menjadi penting karena nalar adalah fondasi agar manusia dapat terlibat aktif dalam mengembangkan peradaban. Tanpa itu, kita hanya akan menjadi korban dari laju perkembangan peradaban itu sendiri,” ungkapnya.

Prof. Noorhaidi merujuk pada periode keemasan Islam ketika para sarjana mengembangkan sains dan teknologi berbasis tradisi berpikir rasional dan kreatif. Pada masa itu, agama dan ilmu pengetahuan tumbuh dalam satu tarikan nafas.

“Menuju kesempurnaan sebagai makhluk Tuhan berarti terus-menerus mengembangkan kemampuan nalar,” ujarnya.

Pembaruan pendidikan Islam, lanjutnya, juga menuntut keberanian membawa gagasan ke ruang publik. Kemampuan menyampaikan pikiran secara lisan maupun tulisan menjadi bagian dari tanggung jawab intelektual.

Tanpa komunikasi, ide hanya menjadi kesadaran personal. Dengan komunikasi, gagasan dapat menjelma inspirasi sosial. Karena itu, tradisi literasi, diskusi ilmiah, dan produksi karya tulis harus diperkuat sebagai budaya akademik.

Insan kamil, tegasnya, bukan hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga berakhlak mulia: jujur, amanah, disiplin, tangguh, dan tidak mudah menyerah. Dimensi intelektual, komunikatif, dan moral harus berjalan beriringan.

Di tengah kemudahan yang ditawarkan AI, integritas adalah benteng etika akademik. Tanpanya, teknologi bisa menggeser kejujuran ilmiah. Dengan integritas, pengembangan ilmu tetap bertumpu pada kerja intelektual yang otentik dan daya nalar yang terus diasah.

Dalam kesempatan tersebut, Rektor juga menyampaikan bahwa pendidikan Islam tidak terbatas pada studi keagamaan dalam arti sempit. Integrasi ilmu menjadi keniscayaan agar sains, teknologi, sosial, dan humaniora bergerak dalam satu orientasi, yakni membangun peradaban yang berkeadaban.

Di tengah percepatan perubahan global, pembaruan pemikiran pendidikan Islam menjadi penting. Bukan sekadar menjaga warisan, melainkan memastikan nilai-nilai keislaman tetap hidup, rasional, dan relevan dalam membentuk masa depan.(humassk)