WhatsApp Image 2026-02-18 at 15.46.14.jpeg

Senin, 16 Februari 2026 09:25:00 WIB

0

Grand Opening Ramadan bil Jami’ah: Ramadan sebagai Ikhtiar Transformasi Diri

Ramadan bukan sekadar bulan ibadah, tetapi juga wahana untuk meningkatkan kapasitas diri, ruang untuk mengasah spiritualitas, memperkuat nalar, sekaligus menata ulang arah hidup. Pemaknaan inilah yang mengemuka dalam Grand Opening Ramadan bil Jami’ah 1447 H bertema “Ramadhan Reset: Recharge Your Faith & Knowledge” yang digelar pada Minggu (15/2/2026) di Masjid UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Alih-alih sekadar aktivitas rutin, Ramadan di lingkungan UIN Sunan Kalijaga diposisikan sebagai ruang refleksi dan pembelajaran bersama. Program ini dirancang oleh dan untuk generasi muda, lebih khusus lagi mahasiswa, dengan tujuan memakmurkan masjid melalui gagasan, diskusi, dan semangat belajar yang memperkuat iman sekaligus memperluas wawasan.


Rektor UIN Sunan Kalijaga Prof. Noorhaidi Hasan, yang membuka kegiatan secara resmi, menekankan bahwa Ramadan adalah momentum untuk “mereset” mesin kehidupan, menyegarkan kembali semangat hidup dan cara berpikir yang mungkin mulai kehilangan arah. Menurutnya, iman tidak berhenti pada keyakinan formal atau kepatuhan terhadap aturan, tetapi merupakan cahaya ilahi yang merasuk ke dalam hati dan menuntun manusia dalam setiap aspek kehidupan.

Ketika iman benar-benar hadir dalam kehidupan, lanjutnya, perilaku manusia menjadi lebih terjaga, akuntabel, dan bertanggung jawab. Dampaknya tidak hanya dirasakan secara personal, tetapi juga meluas menjadi manfaat bagi lingkungan sekitar.

“Kehidupan pada dasarnya adalah tentang memberi cahaya kepada sekitar, dimulai dari inisiatif kecil,” ungkapnya. Dalam konteks itu, Ramadan menjadi momentum untuk memperkuat etos kerja, meningkatkan semangat belajar, dan menumbuhkan kesadaran untuk terus berkembang.


Perspektif serupa disampaikan Dosen Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam UIN Sunan Kalijaga, Dr. Fahruddin Faiz. Ia menilai Ramadan bil Jami’ah menghadirkan dua fasilitas penting sekaligus,  spiritual dan intelektual. Ramadan, menurutnya, tidak seharusnya berhenti sebagai aktivitas ritual yang berulang, tetapi menjadi ruang untuk meng-upgrade diri secara menyeluruh.

“Ramadan adalah fasilitas untuk memulai kembali, mengembalikan gairah dan semangat kita agar lebih siap bertumbuh secara mental, spiritual, dan intelektual menjadi pribadi yang lebih baik” katanya.

Filosof modern tersebut juga menjelaskan, bahwa perubahan atau transformasi diri ini membutuhkan kesiapan mental dan pola pikir yang tepat. Ia memetakan lima kunci utama yang dapat menjadi fondasi perubahan. Pertama, epistemic humility, yaitu kerendahan hati intelektual, kesadaran bahwa manusia selalu memiliki keterbatasan pengetahuan sehingga ruang belajar harus terus dibuka. Sikap ini menciptakan keberanian untuk terus bertanya dan belajar.


“Seperti kata Socrates, satu-satunya hal yang saya tahu adalah bahwa saya tidak tahu apa-apa. Kesadaran itu justru membuka ruang yang sangat luas untuk terus belajar,” ujarnya.

Kedua, existential courage atau keberanian eksistensial, yakni keberanian menetapkan target hidup dan berusaha menjadi versi terbaik dari diri sendiri. Tanpa keberanian ini, perubahan akan terasa berat dan mudah ditinggalkan di tengah jalan.

Ketiga, in-between mindset, kesadaran bahwa setiap perubahan membutuhkan proses. Proses kerap terasa pahit, namun justru di sanalah pertumbuhan berlangsung. Ilmu, menurutnya, baru bermakna ketika berbuah dalam perilaku nyata, bukan berhenti pada konsep dan teori. Jika kita tidak berani berproses, sebanyak apa pun informasi yang kita dapatkan tidak akan pernah menghasilkan perubahan,” ungkapnya.

Keempat, active patience, kesabaran yang aktif. Berproses bukan berarti diam menunggu, melainkan terus bergerak, meski hasil tidak datang seketika.

Kelima, resiliensi atau daya tahan diri. Dalam kehidupan yang penuh tantangan, kemampuan untuk bangkit setelah kegagalan menjadi kunci agar seseorang tidak mudah menyerah. Ia mengibaratkan daya tahan itu seperti bunga di tepi jalan yang tetap tumbuh tanpa bergantung pada kondisi ideal.

Melalui pendekatan ini, Ramadan dipahami bukan hanya sebagai bulan ibadah, tetapi sebagai laboratorium perubahan diri. Masjid kampus menjadi ruang yang mempertemukan spiritualitas dengan intelektualitas, sekaligus mengajak mahasiswa memahami bahwa belajar dan bertumbuh adalah proses seumur hidup.

Pada akhirnya, semangat Ramadan bil Jami’ah bermuara pada satu gagasan utama: Ramadan adalah momentum untuk recharge, mengisi ulang iman sekaligus pengetahuan. Bukan sekadar jeda spiritual, melainkan proses reset yang menata kembali cara berpikir, cara merasa, dan cara bertindak. Ketika faith dan knowledge berjalan beriringan, manusia tidak hanya tumbuh menjadi pribadi yang lebih baik bagi dirinya sendiri, tetapi juga mampu menghadirkan cahaya yang memberi makna dan arah bagi lingkungan di sekitarnya.(humassk)