IMG-20260224-WA0061.jpg

Senin, 23 Februari 2026 09:29:00 WIB

0

Lentera Ramadan bil Jami’ah: Akademisi UIN Sunan Kalijaga Serukan Puasa sebagai Healing Kolektif

Setiap kali notifikasi bencana muncul di layar gawai, yang terguncang bukan hanya wilayah terdampak, tetapi juga rasa aman kita sebagai bangsa. Krisis iklim, tekanan ekonomi, hingga kecemasan sosial perlahan membentuk suasana batin kolektif yang tegang. Di tengah situasi itu, Ramadan ditawarkan bukan sekadar sebagai ritual tahunan, melainkan ruang pemulihan bersama.

Gagasan tersebut disampaikan Dosen Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Ro’fah, Ph.D., saat mengisi kajian Lentera dalam rangkaian Ramadan bil Jami’ah di Masjid UIN Sunan Kalijaga, Sabtu (21/2/2026), menjelang salat tarawih. Dalam tausiyah bertajuk “Ramadhan dan Healing Collective: Merawat Luka di Tengah Krisis dan Bencana”, ia mengajak jamaah memaknai puasa sebagai proses healing kolektif.


Ro’fah menuturkan, Indonesia adalah negeri yang kaya sumber daya alam sekaligus menghadapi beragam tantangan. Berbagai peristiwa bencana alam yang terjadi dari waktu ke waktu juga meninggalkan jejak psikologis yang tidak sederhana.

Ia menyinggung tragedi tsunami di Banda Aceh tahun 2004 yang bukan hanya menghancurkan infrastruktur, tetapi juga menghadirkan trauma nasional. Gempa yang berulang di sejumlah wilayah, banjir di berbagai kota, serta paparan informasi krisis yang terus-menerus, menurutnya, membentuk apa yang dalam psikologi disebut sebagai collective trauma, luka bersama yang memengaruhi cara pandang generasi terhadap masa depan.

“Kita mungkin tidak menjadi korban langsung. Tetapi kita hidup dalam atmosfer kecemasan,” ujarnya. Arus informasi yang cepat, video bencana yang viral, dan diskursus krisis global membentuk mentalitas survival. Ketika manusia terlalu lama berada dalam mode bertahan, empati dapat menurun dan sikap apatis mudah tumbuh.

Ia mengingatkan bahwa trauma yang tidak disembuhkan berpotensi diwariskan. Karena itu, Ramadan perlu dimaknai sebagai ruang penyembuhan bersama, antara lain melalui latihan menenangkan sistem jiwa dengan zikir dan kesadaran spiritual.

“Trauma membuat manusia reaktif. Puasa melatih kita responsif. Trauma membuat manusia impulsif. Puasa melatih kita menunda. Trauma membuat manusia panik. Puasa melatih kita tenang,” tuturnya.

Bagi Ro’fah, Ramadan merupakan counter-culture terhadap dunia yang serba cepat, serba panik, dan konsumtif. Ia menyebut Ramadan sebagai latihan regulasi emosi terbesar. Ketika dunia mendorong percepatan, Ramadan justru memperlambat. Saat budaya konsumsi menguat, Ramadan mengajarkan kecukupan.

Ia juga menegaskan bahwa sebagian bencana memang bersifat geologis. Namun sebagian lainnya berkaitan dengan sistem ekonomi yang eksploitatif, kebijakan yang abai terhadap lingkungan, serta budaya konsumsi berlebihan. Dalam perspektif teologis, manusia memiliki amanah sebagai khalifatullah fil ‘ar, penjaga bumi.

Karena itu, ia mengajak mahasiswa dan masyarakat tidak berhenti pada doa semata. “Doa tanpa kesadaran struktural membuat kita pasif. Tetapi kesadaran struktural tanpa spiritualitas membuat kita marah tanpa arah. Ramadan mempertemukan keduanya,” katanya.

Untuk itu, Ro’fah berharap Ramadan dapat melahirkan berbagai kesadaran untuk banyak pihak, diantarnya kesadaran spiritual yang menenangkan hati, kesadaran ekologis yang menuntun gaya hidup tidak rakus, serta kesadaran sosial yang mendorong keberanian untuk peduli.

Healing kolektif, tegasnya, tidak berhenti pada ritual. Ia menjadi nyata ketika doa melahirkan tindakan. Dari masjid kampus, ia berharap lahir generasi yang tidak hanya saleh secara individual, tetapi juga matang secara emosional dan sosial, yakni tenang jiwanya, tajam pikirannya, dan luas empatinya.(humassk)