WhatsApp Image 2026-03-03 at 15.05.47(1).jpeg

Selasa, 03 Maret 2026 13:10:00 WIB

0

Sahur Bersama Shinta Nuriyah Wahid di UIN Jogja: Upaya Merawat Keberagaman dan Mengikis Sekat Sosial

UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta menjadi tuan rumah kegiatan Sahur Bersama Dr. (H.C.) Shinta Nuriyah Abdurrahman Wahid bertajuk “Puasa Berbalut Bencana dan Goyahnya Demokrasi” yang diselenggarakan di Masjid UIN Sunan Kalijaga. Kegiatan ini dihadiri lebih dari 1.000 peserta, termasuk jajaran pimpinan universitas, yakni Rektor Prof. Noorhaidi Hasan, Wakil Rektor II Prof. Dr. Mochamad Sodik, Wakil Rektor III Prof. Dr. Abdur Rozaki, serta segenap pimpinan di lingkungan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.


Selain civitas akademika, acara ini juga diikuti peserta dari beragam latar belakang sosial, mulai dari komunitas ojek online, paguyuban becak Yogyakarta, hingga masyarakat dari berbagai latar agama.

Sahur Bersama yang digelar bekerja sama dengan GUSDURian ini bukan sekedar agenda Ramadan, melainkan ruang perjumpaan lintas agama, suku, dan profesi. Dalam suasana yang hangat dan egaliter, seluruh peserta duduk bersama tanpa sekat sosial, meneguhkan kembali nilai kebersamaan di tengah situasi bangsa yang dihadapkan pada berbagai tantangan kemanusiaan dan demokrasi.


Rektor UIN Sunan Kalijaga, Prof. Noorhaidi Hasan, menegaskan bahwa Shinta Nuriyah bukan sekadar figur publik, melainkan sosok yang konsisten memperjuangkan nilai-nilai kemanusiaan, kebangsaan, hak asasi manusia, dan demokrasi. Sebagai alumni UIN Sunan Kalijaga, kehadirannya dinilai memiliki makna tersendiri bagi kampus. Ia menjadi pengingat sekaligus penguat komitmen civitas akademika untuk terus merawat nilai toleransi, kemanusiaan, dan kebangsaan yang menjadi pijakan institusi.

Dalam konteks itulah, Prof. Noorhaidi memaknai Ramadan sebagai momentum reflektif yang lebih luas. Bahwasanya Ramadan tidak berhenti pada kesabaran personal, tetapi menjadi ruang untuk meneguhkan tanggung jawab moral dan integritas dalam menjaga nilai-nilai tersebut.

Sementara itu, dalam refleksinya, Shinta Nuriyah Wahid menyampaikan bahwa perjalanan hidup dan komitmennya pada nilai-nilai kemanusiaan tidak terlepas dari proses intelektual yang ia tempuh di UIN Sunan Kalijaga. Sejak mendampingi almarhum Presiden Abdurrahman Wahid di Istana Negara, ia secara konsisten menginisiasi sahur bersama kelompok dhuafa dan masyarakat marjinal.


“Bagi saya, bukan hal yang asing untuk makan sahur bersama buruh bangunan di bawah jembatan, pedagang pasar, anak jalanan, hingga pemulung di alun-alun kota,” ujarnya.

Selama kurang lebih 26 tahun, tradisi ini terus ia rawat sebagai ikhtiar menghadirkan keadilan sosial dalam praktik nyata. “Bagaimanapun mereka adalah manusia ciptaan Allah, sama seperti kita,” ujarnya.

Istri dari mendiang Presiden Republik Indonesia ke-4 tersebut, juga kerap menggelar sahur bersama para penyandang disabilitas. Baginya, mereka adalah manusia utuh yang memiliki martabat, potensi, dan kemandirian, serta berhak memperoleh ruang yang setara dalam kehidupan sosial.

Menurutnya, ini Adalah cara merawat kepedulian sekaligus mengikis sekat sosial yang kerap memisahkan satu kelompok dengan kelompok lain. Melalui perjumpaan yang sederhana, duduk bersama, berbagi makanan, dan berbincang tanpa jarak, menjadikan nilai kesetaraan dihadirkan secara nyata, bukan hanya dalam wacana.

Ia tidak menampik, jalan yang ia tempuh selama puluhan tahun itu bukan perkara ringan. Menggelar sahur dari satu kota ke kota lain, menyapa mereka yang kerap luput dari perhatian, tentu membutuhkan energi, waktu, serta dukungan materiil dan nonmateri. Namun bagi Sinta, semua itu bukan soal kelimpahan sumber daya. “Saya tidak punya apa-apa, yang ada hanya semangat dan kejujuran,” ungkapnya.  Dari dua hal sederhana itulah ia merawat langkahnya pelan, konsisten, dan setia pada panggilan kemanusiaan.

Ia menegaskan bahwa kejujuran merupakan dasar dari segala kesejahteraan. Untuk itu, kejujuran harus menjadi nilai yang dipegang teguh, baik dalam kehidupan pribadi maupun dalam relasi sosial. “Kejujuran adalah kunci untuk mencapai kedamaian dan keharmonisan, bukan hanya dalam keluarga atau lingkungan sekitar, tetapi juga dalam kehidupan berbangsa dan bernegara,” tegasnya.

Sahur bersama Shinta Nuriyah mungkin berlangsung dalam satu malam, tetapi nilai-nilai yang ditegaskan di dalamnya tidak berhenti di sana. UIN Sunan Kalijaga berkomitmen untuk terus menghidupkan semangat kemanusiaan, toleransi, dan integritas itu dalam setiap denyut kehidupan akademiknya.

Komitmen tersebut tercermin dalam praktik keseharian kampus sebagai ruang yang inklusif. Toleransi tidak berhenti pada slogan, melainkan hadir dalam realitas akademik, di mana mahasiswa dari beragam latar belakang agama menempuh pendidikan dan bertumbuh bersama dalam suasana yang setara. Keberagaman itu menjadi kekuatan intelektual yang memperkaya dialog, memperluas perspektif, dan meneguhkan UIN Sunan Kalijaga sebagai kampus yang merawat kemajemukan secara nyata.(humassk)