WhatsApp Image 2026-03-06 at 13.01.18(1).jpeg

Jumat, 06 Maret 2026 13:15:00 WIB

0

TANWIR: UIN Sunan Kalijaga Hadirkan Ganjar Pranowo, Soroti Peran Indonesia dalam Dinamika Geopolitik Dunia

Konflik Israel dan Amerika Serikat dengan Iran kembali memperlihatkan wajah keras politik global. Ketegangan militer yang semakin terbuka memunculkan kekhawatiran akan eskalasi konflik yang lebih luas. Di tengah situasi itu, pertanyaan penting muncul bagi negara berkembang seperti Indonesia, bagaimana mengambil posisi di tengah rivalitas kekuatan besar dunia?

Pertanyaan tersebut menjadi salah satu bahasan dalam forum TANWIR (Tausiyah Nasihat dan Wawasan Ilmu Ramadan) sebagai rangkaian dari Ramadan bil Jami’ah di Masjid UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Kamis (5/3/2026). Dalam kesempatan itu, politikus Indonesia Ganjar Pranowo hadir dengan memaparkan tema “Peran Indonesia dalam Konflik Timur Tengah: Solidaritas, Politik, dan Diplomasi”.


Menurut Ganjar, Indonesia harus melihat secara realistis kapasitasnya dalam menghadapi konflik global. “Peran yang bisa kita berikan adalah menjalankan fungsi politik luar negeri. Indonesia memiliki tradisi diplomasi yang kuat dalam mendorong perdamaian dunia,” ujarnya.

Ganjar mengajak peserta untuk kembali mengingat, bahwa sejak awal kemerdekaan, para pendiri bangsa telah merumuskan cara Indonesia menghadapi dinamika politik dunia. Ia merujuk pada pemikiran Wakil Presiden pertama Indonesia, Mohammad Hatta, yang menggambarkan posisi Indonesia sebagai negara yang “mendayung di antara dua karang”.

Gagasan itu lahir bukan dari pidato di panggung besar, melainkan dari refleksi intelektual dalam membaca situasi global. Pada masa itu dunia terbagi dalam dua blok kekuatan besar, yakni blok Barat yang dipimpin Amerika Serikat dan blok Timur yang dipimpin Uni Soviet.

“Kalau tidak hati-hati, kita bisa menabrak salah satu karang itu dan jatuh. Karena itu para founding fathers, yang dikenal sebagai akademisi dan intelektual dengan tradisi membaca serta refleksi pemikiran yang kuat, merumuskan cara agar Indonesia dapat bertahan di tengah dua kekuatan besar dunia,” jelasnya.


Dari refleksi itulah lahir prinsip Politik Luar Negeri Bebas Aktif, yang hingga kini menjadi fondasi diplomasi Indonesia. Bebas berarti tidak memihak pada blok kekuatan mana pun, sementara aktif berarti tetap berkontribusi dalam menjaga perdamaian dunia.

Dalam konteks konflik Timur Tengah, Ganjar menilai peran diplomasi tetap menjadi instrumen utama Indonesia.  “PBB sudah menyampaikan semua harus menahan diri dan mematuhi hukum internasional. Tetapi faktanya tidak selalu demikian,” ujarnya.

Ganjar menambahkan bahwa prinsip kedaulatan tetap menjadi dasar dalam hubungan antarnegara. Karena itu Indonesia tidak dapat begitu saja mencampuri urusan negara lain. Prinsip tersebut juga sejalan dengan gagasan Presiden pertama Indonesia, Sukarno, tentang pentingnya kedaulatan politik.

“Kita harus berdaulat dalam bidang politik. Artinya kita menentukan nasib bangsa sendiri, tidak bergantung pada negara lain,” katanya.

Tentu hal ini tidak terlepas dari pengalaman panjang kolonialisme, sehingga membuat bangsa Indonesia memahami pentingnya kemerdekaan dan kemandirian. Setelah merdeka, kata dia, Indonesia dituntut mampu berdiri di atas kaki sendiri, termasuk dalam mengelola sumber daya alam yang melimpah supata manfaatnya dapat dirasakan oleh  seluruh lapisan masyarakat.

Menurut Ganjar, pengelolaan sumber daya dan pembangunan kualitas manusia menjadi faktor penting agar Indonesia memiliki nilai tawar dalam hubungan internasional. Tanpa itu, sebuah negara mudah berada dalam posisi yang lemah dalam percaturan global.

Dalam kesempatan tersebut, Ganjar juga menekankan pentingnya peran diplomasi multilateral dalam memperkuat posisi Indonesia di dunia. Indonesia, menurutnya, harus mampu memanfaatkan berbagai forum internasional, termasuk kerja sama negara-negara Muslim sebagai bagian dari upaya membangun solidaritas dan diplomasi global.

Di sisi lain, ia mengingatkan agar diplomasi dijalankan secara profesional melalui institusi yang tepat. Dalam proses negosiasi internasional, menurutnya, peran Kemenetrian Luar Negeri tetap harus dijaga agar diplomasi berjalan efektif.

“Indonesia harus tampil sebagai negara yang memiliki relasi multilateral yang kuat, bukan sekadar hubungan bilateral,” ujarnya.

Ganjar juga menyoroti bagaimana konflik global dapat berdampak pada sektor ekonomi, termasuk energi. Ketika ketegangan di Timur Tengah meningkat, misalnya jika Iran menjadi sasaran serangan, gangguan terhadap distribusi minyak dapat memengaruhi stabilitas ekonomi global.

Karena itu, menurutnya, kemampuan membaca dinamika geopolitik dunia menjadi sangat penting bagi Indonesia. Diplomasi yang kuat, pembangunan sumber daya manusia, serta kemampuan mengelola potensi nasional menjadi kunci agar Indonesia tetap memiliki posisi strategis dalam percaturan global.

Melalui rangkaian kegiatan Ramadan ini, UIN Sunan Kalijaga berupaya menghadirkan ruang refleksi sekaligus memperkaya wawasan mahasiswa terhadap berbagai isu strategis, baik keagamaan, sosial, maupun global. Forum seperti TANWIR diharapkan dapat mempertemukan nilai-nilai spiritual Ramadan dengan diskursus intelektual, sehingga mahasiswa tidak hanya memperdalam pemahaman keagamaan, tetapi juga memiliki kepekaan dalam membaca dinamika global.(humassk)